Petikan lembut gitar, intro lagu I Won’t Give Up-nya Jason Mraz
membuyarkan konsentrasiku yang serius mengamati cicak di dinding. Ada
dua ekor. Sepertinya sepasang, yang satu lebih besar dari yang lain.
Keduanya berkejaran di hijaunya dinding kamarku.
Sesekali si
kecil, yang kutebak sebagai betina, menyelinap ke balik lubang
ventilasi. Menggoda si jantan yang kebingungan, ke mana kekasihnya
sembunyi. Jika ditambah dengan latar lagu India, pasti lebih romantis
malam Minggu begini.
Ponsel di samping kepala berkedip-kedip
gembira minta diraih. Kuintip nama tersangka yang mengganggu lamunanku
di layarnya. Kemudian memutuskan mengabaikannya saja, menenggelamkan
wajahku di balik guling yang paling setia memelukku kala bermimpi.
Namun, si tersangka rupanya tidak putus asa. Dipikir-pikir segan juga.
Kusentuh tombol hijau, menempelkan ponsel hitam itu ke telinga tanpa
menjawab. Sudah bagus kuterima, dengusku jemu.
Siapa pula yang
tidak bosan dihubungi tiga kali sehari seperti resep obat dokter? Belum
pesan yang memenuhi inbox. Kubaca, tapi langsung masuk tong sampah.
Tidak menghargai? Haaah, maaf kalau begitu.
“Qoni?” sapa suara di seberang.
“Ya,” sahutku malas.
“Sudah tidur, ya?”
Ah, pertanyaan basa-basi yang tak penting. Aku diam saja.
“Aku ganggu?” tanyanya lagi.
Ingin sekali kujawab : Iya. “Ada apa, Bang?”
Terdengar desahan. “Nggak, cuma mau dengar suara Qoni sebelum tidur. Siapa tahu nanti Abang mimpi ketemu Qoni.”
Preeet! Aku berlagak mual.
“Oh. Qoni ngantuk, mau istirahat dulu.”
Ia tertawa. “Ya udah, met bobok ya, Qon. Nice dream.”
Klik!
Kuputus obrolan tanpa permisi apalagi salam. Memang tidak sopan. Tapi, ah ... aku hanya heran ada orang yang begitu tidak peka.
Baru saja mata ini hendak terpejam, ponsel yang katanya pintar itu
bernyanyi lagi. Kulihat si penelepon dengan mata setengah terbuka.
Deretan nomor tak dikenal terpajang. Sepertinya bukan nomor wilayah
sini, pikirku. Beda operator pula. Ah, paling anak itu lagi. Cari-cari
perhatian lagi pakai nomor lain. Panggilan itu tak kugubris.
Intro itu berbunyi sekali lagi. Masih dari nomor yang sama.
Siapa, sih?
Kubiarkan saja. Selama ini aku juga tidak pernah menerima panggilan
dari nomor yang tidak tersimpan di memory card. Sebelum nada panggilan
berakhir, kantuk sudah membawaku ke alam mimpi.
*
“Heh, lu parah luuu. Telpon gua gak dijawab-jawab!”
Senin pagi. Bella, teman sekantor dan teman masa SMA, memberondongku dengan omelannya.
“Kapan?” tanyaku menautkan alis.
“Subuh tadi, Kucing! Gua panik, masa’ data gua ilang semua!!!” sahutnya
heboh. “Padahal gua bela-belain gak kencan demi ngerjain itu data.”
“Pasti lu ganti nomor lagi, deh,” kataku yakin sambil mengecek HP. Kebiasaan Bella, gonta-ganti nomor ponsel kayak ABG galau.
“Iyeee, lagian elu punya kebiasaan tuh, yang bagusan dikit kek!” Bella merengut.
“Wait, kebiasaan gua yang mana yang jelek menurut lu?” Bikin esmosi ni orang!
“Ituuu, kebiasaan lu nggak mau terima telpon kalo nomornya nggak kenal. Kan gua jadi susah.”
“Kan lu bisa sms gua dulu, bilang kalo itu elu,” jawabku membela diri.
“Ah, jahat lu!”
Huh!
“Eh,” Bella mencolekku. “Gua baru inget, malam Minggu kemarin gua ditelpon Oki, lho!”
Oki? Kuping di balik jilbabku langsung naik. Aih, mendengar namanya
saja sudah mampu membuat hatiku didera gempa–gempa kecil. Apa kabar dia?
Sudah sangat lama ....
"Nah yaaa, lu bohong, kan? Gimana Oki mau nelpon elu, nomor lu aja ganti mulu." Aku tak bisa begitu saja percaya.
Bella menimpukku dengan tisu. "Dia tanya nomor gua lewat inbox FB, Sapi! Terus ... teruuuus ...," katanya sok ngepoin.
Huh! Menyebalkan. Aku tahu dia sedang menggodaku.
"Terus kami nostalgia, deeeh!" lanjutnya.
Di sampingku, Bella terus mencerocos tanpa diminta. Itu juga
kebiasaannya. Tak perlu kau tanya, semua berita ke luar sendiri dari
bibir sensualnya. Menceritakan percakapan dengan Oki, teman sekelas kami
dulu di SMA.
Aku dihinggapi rasa iri. Kenapa bukan aku yang terlibat obrolan seru itu?
Suara cempreng Bella tak mampu mengusik bayangan sosok tinggi tegap itu
dalam kepalaku. Seperti apa Oki sekarang? Aku rindu mata sipitnya yang
menghilang bila tertawa.
“Kali ini gua bilangin sama elu, Qon,
buang kebiasaan lu yang ogah nerima telpon dari nomor asing!” kata Bella
menyentil hidungku dengan ujung kukunya yang terawat itu.
“Kenapa gua mesti nurut sama elu?” tantangku.
“Rugiii!” cibir Bella. Matanya berkedip-kedip penuh arti.
Dih! Aku mengangkat bahu tak peduli.
“Oki juga nelpon elu, Kucing. Tapi lu cuekin!” Bella langsung ngeloyor pergi.
Gerakan jariku di keyboard komputer terhenti. Oki menghubungiku?
Malam Minggu?
Sigap kuperiksa daftar panggilan masuk malam itu. Hanya ada dua nomor
yang terekam. Si penelepon rutin tiga kali sehari, dan ... nomor asing
yang kuabaikan ....
Sesal menyelimutiku seketika. Itu kamu, Ki???
Tidak ada komentar:
Posting Komentar