Minggu, 23 November 2014

Semekot

Siang terasa makin panas. Cairan tubuhku menguap, begitu juga dengan sejumput harapan. Kepalaku otomatis tertunduk setelah tengadah beberapa lama karena harus melihat wajah ibumu yang dua puluh senti di atasku. Tengkukku pegal. Dan semakin nyeri saat bibirnya yang merah karena cairan sirih, melahirkan sederet kalimat yang membuatku putus asa.

Ya, putus asa. Cantik-cantik begini otakku pintar, telingaku nyaring, dan mataku normal meski kelopaknya kecil. Bisa kutangkap dengan jelas maksud dari rentetan kalimat ibumu. Dia pasti tidak tahu, kata-katanya menohok hatiku. Aku ... aku merasa kecil ....

Saraf di otakku bekerja cepat. Berputar mencari ide agar dapat menjadi seperti yang ibumu bilang. Namun, logikaku berbisik tak mungkin. Aku sudah dalam kondisi mentok. Bahkan dari artikel yang kubaca, kemungkinan akan menyusut seiring pertambahan usia.

Ada obatnya! Batinku berseru. Hah, bahkan saat demam pun aku paling malas menelan obat-obatan. Lagi pula, aku tak yakin akan berpengaruh banyak. Dengan kondisiku, mungkin hanya keajaiban yang bisa membantu.

Ah, sudahlah ....

Bisa jadi ini kode dari Tuhan. Atau jangan-jangan ibumu tahu kalau aku ....

"Pik, kamu kenal ndak sama Rosmawarni?" Itu awal percakapanku dengan ibumu siang ini di sela dentuman suara alu dan lesung. Kami sedang menumbuk beras bersama. Bergantian menikam butiran putih itu agar halus menjadi tepung.

Agak kikuk aku mengiyakan. Bukankah Rosmawarni bekas kekasihmu?

"Untunglah Yasmal putus dengannya. Amak ndak suka!"

"Kenapa, Mak?" Seulas senyum tak sadar tersungging di bibirku. Kita sama, Mak.

"Ah, Amak rasa ndak cocok dia sama anak Amak. Sudah berkali-kali Amak bilang sama Yasmal, cari perempuan yang sepantaran."

Senyumku melebar. Tak salah lagi, pasti ibumu keberatan dengan Rosmawarni karena cuma lulusan SMP. Artinya, ibumu mau kamu berjodoh dengan tamatan SMA juga, seperti aku.

"Heran Amak, Pik. Ntah apa yang dilihat Yasmal dari si Rosma itu. Pendek!" lanjut ibumu.

"Maksud Amak?" tanyaku tak paham. Jadi ....

"Iya, coba bayangkan kalau mereka bersanding. Oh, jomplang! Yang satu tinggi menjulang, yang lain tenggelam. Ndak sepadan!"

Syuuut ....
Kulihat diriku. Tak jauh beda dengan Rosmawarni. Seingatku, aku cuma sebahumu.

Aih, Mak ....
Aku sudah cukup frustasi gagal jadi pramugari. Kenapa syarat menantu Amak mesti ada batas tinggi badannya juga? Itu sulit kupenuhi, Mak.

Kenapa tidak pintar memasak saja? Masih bisa kupelajari di rumah. Tapi kalau tinggi badan ....
Ah, mustahil. Perlu dua puluh senti lagi untuk mengimbangi anak Amak. Aku semekot, semeter kotor!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar