Siang terasa makin panas. Cairan tubuhku menguap, begitu juga dengan
sejumput harapan. Kepalaku otomatis tertunduk setelah tengadah beberapa
lama karena harus melihat wajah ibumu yang dua puluh senti di atasku.
Tengkukku pegal. Dan semakin nyeri saat bibirnya yang merah karena
cairan sirih, melahirkan sederet kalimat yang membuatku putus asa.
Ya, putus asa. Cantik-cantik begini otakku pintar, telingaku nyaring,
dan mataku normal meski kelopaknya kecil. Bisa kutangkap dengan jelas
maksud dari rentetan kalimat ibumu. Dia pasti tidak tahu, kata-katanya
menohok hatiku. Aku ... aku merasa kecil ....
Saraf di otakku
bekerja cepat. Berputar mencari ide agar dapat menjadi seperti yang
ibumu bilang. Namun, logikaku berbisik tak mungkin. Aku sudah dalam
kondisi mentok. Bahkan dari artikel yang kubaca, kemungkinan akan
menyusut seiring pertambahan usia.
Ada obatnya! Batinku berseru.
Hah, bahkan saat demam pun aku paling malas menelan obat-obatan. Lagi
pula, aku tak yakin akan berpengaruh banyak. Dengan kondisiku, mungkin
hanya keajaiban yang bisa membantu.
Ah, sudahlah ....
Bisa jadi ini kode dari Tuhan. Atau jangan-jangan ibumu tahu kalau aku ....
"Pik, kamu kenal ndak sama Rosmawarni?" Itu awal percakapanku dengan
ibumu siang ini di sela dentuman suara alu dan lesung. Kami sedang
menumbuk beras bersama. Bergantian menikam butiran putih itu agar halus
menjadi tepung.
Agak kikuk aku mengiyakan. Bukankah Rosmawarni bekas kekasihmu?
"Untunglah Yasmal putus dengannya. Amak ndak suka!"
"Kenapa, Mak?" Seulas senyum tak sadar tersungging di bibirku. Kita sama, Mak.
"Ah, Amak rasa ndak cocok dia sama anak Amak. Sudah berkali-kali Amak bilang sama Yasmal, cari perempuan yang sepantaran."
Senyumku melebar. Tak salah lagi, pasti ibumu keberatan dengan
Rosmawarni karena cuma lulusan SMP. Artinya, ibumu mau kamu berjodoh
dengan tamatan SMA juga, seperti aku.
"Heran Amak, Pik. Ntah apa yang dilihat Yasmal dari si Rosma itu. Pendek!" lanjut ibumu.
"Maksud Amak?" tanyaku tak paham. Jadi ....
"Iya, coba bayangkan kalau mereka bersanding. Oh, jomplang! Yang satu tinggi menjulang, yang lain tenggelam. Ndak sepadan!"
Syuuut ....
Kulihat diriku. Tak jauh beda dengan Rosmawarni. Seingatku, aku cuma sebahumu.
Aih, Mak ....
Aku sudah cukup frustasi gagal jadi pramugari. Kenapa syarat menantu
Amak mesti ada batas tinggi badannya juga? Itu sulit kupenuhi, Mak.
Kenapa tidak pintar memasak saja? Masih bisa kupelajari di rumah. Tapi kalau tinggi badan ....
Ah, mustahil. Perlu dua puluh senti lagi untuk mengimbangi anak Amak. Aku semekot, semeter kotor!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar