Minggu, 23 November 2014

Kupilih Dia

Ruly galau. Ah, kenapa baru sekarang ketika hatinya telah mantap pada satu pilihan? Godaan memang selalu datang menggoyahkan saat kita sudah yakin dengan sesuatu. Ruly memang belum menyatakan. Tapi, tangannya hampir kuat berpegang padanya yang Ruly yakini terbaik.

Ugh, bikin pusing aja!

Ruly menimbang-nimbang. Kepala dengan rambut duri landaknya nyembul di antara telapak tangan.
Coba gue tau dari dulu, nggak bakalan galau mampus begini gue!"
*

"Saos sambel gue kayaknya kurang. Bentar, ya." Ruly mendorong kursi dengan pantat.

"Gue ambilin, Rul." Ilma sigap keluar dari jepitan kursi dan meja. Agak berlari ia menuju keran saos di pojok restoran fast food itu.

Ruly dan Rheina berpandangan. Rheina bahkan mengangkat sebelah alisnya. Ilma kembali sekejap kemudian.

"Nih, gue bawain saos tomat juga."

Ruly berterimakasih agak kikuk.

Beres makan siang, ketiga sahabat itu sepakat pulang saja. Panas terik begini memang sangat menguras energi. Apalagi untuk berpetualang mencari secuil berita untuk koran sekolah.

"Gue ngantuk." Rheina menguap.

"Sama, gue juga kurang tidur. Nonton bola!" Ruly mengamini alasan Rheina.

"Ya udin, gue cabut. Lu nebeng gue nggak, Il?" Rheina menyematkan helm di kepala.

"Ng...nggak, deh." Ilma menggeleng.

Rheina melambai meninggalkan parkiran.

"Hati-hati!" teriak Ruly balas melambai.

"Rul, aku nebeng kamu, ya."

Ruly melongo. Ini anak gimana, sih? Tadi tawaran Rheina ditolak. Ruly mencium aroma kurang mengenakkan. Pasti gara-gara yang kemarin.

"Kenapa tadi nggak bareng Rheina aja?" jawab Ruly berusaha menghilangkan kesan bahwa ia repot. Rumah mereka kan, beda arah.

"Aku maunya sama kamu," jawab Ilma sambil senyum dikulum. Nggak jelas antara sok manja atau minta ditabok.

Ruly menggerutu dalam hati. "Buruan naik!"

Ilma langsung loncat ke boncengan motor sport Ruly.
*

Brem, breeem. Motor tepat berhenti di depan rumah Ilma.

"Makasih ya, Rul. Mampir, yuk."

Ruly membuka kaca helmnya. "Gue langsung balik, deh," katanya agak ketus.

Ruly sebel. Sepanjang jalan Ilma kecentilan memeluk pinggangnya. Sengaja banget nempel-nempel di punggungnya. Padahal Ruly asli nggak ngebut atau tiba-tiba ngerem mendadak. Gitu kan, cowok-cowok kebanyakan? Huh, modus.

"Aku mau ngomong."

"Dari tadi ketemu kita udah ngomong. Apa lagi?" Ruly gusar.

Ilma menunduk malu-malu. "Kamu nggak peka banget sih, Rul. Soal yang kemarin aku bilang itu."
Ruly mendesah. Dibukanya helm di kepala. "Gue kan, udah jelasin jawaban gue. Panjang lebar, Il. Tolong dong, lu ngertiin gue juga."

"Tapi kenapa?" Ilma menatapnya sendu, "Apa karena Rheina?"

Ruly berdecak. "Elu dan Rheina sahabat gue. Please Ilma, jangan dirusak."

"Aku tau kok, kamu diam-diam suka kan sama Rheina?" Mata Ilma berkaca-kaca. "Aku sadar nggak mungkin bersaing sama dia."

Ingin rasanya Ruly meremas helm digenggamannya hingga hancur. Gemas dia menyaksikan tingkah Ilma yang sok drama. Bersaing untuk apa?

Ruly mengenakan helm. Menstarter motornya dan mundur. Sebelum pergi ia berkata, "Kalau lu masih mau jadi sahabat gue, gue minta lupain perasaan lu."
*

"Mana Ilma?" Rheina mengintip dari balik komputernya.

Ruangan kecil di sudut sekolah itu disulap menjadi kantor redaksi koran sekolah. Beberapa anak lain nampak serius di depan komputer masing-masing. Ruly mengangkat bahu menanggapi pertanyaan Rheina.

"Gimana sih, tugas belum beres malah ilang-ilangan begitu."

Ruly duduk diam di sofa. Anak-anak lain sesama tim koran sekolah pamit ke kantin. Tinggallah mereka berdua.

"Rul," panggil Rheina.

Ruly menoleh kaget. Sejak kapan Rheina pindah tempat di sampingnya?

"Ada apa, Rhein?" Ruly menggeser duduknya.

Rheina ikut bergeser, mendekat. Ruly risih sendiri. Wajahnya memerah, mulai berkeringat. Tuhan, cewek-cewek sekarang agresif banget begini, ya?

"Di situ aja, Rhein." Ruly mengangkat tangan tanda stop.

Pantatnya udah mentok di ujung sofa. Dia sebenarnya juga heran sama diri sendiri. Duduk berdekatan dengan Rheina atau Ilma sudah jadi kebiasaannya sehari-hari. Tapi, sekarang dia merasakan ada yang ganjil. Ini pastilah efek tingkah Ilma kemarin. Huh!

"Ada yang mau gue bilang, Rul." Rheina menatapnya serius.

Ruly makin grogi. "Eh, iya. A...pa?"

Rheina meremas tangannya. "Gue...gue suka sama lu, Rul."

Ruly terkapar di sandaran sofa. Keringatnya makin membanjir.

"Gue juga tau lu suka sama gue, Rul. Gue bisa rasain itu. Perhatian lu ke gue lebih daripada perhatian lu ke Ilma. Gue tersanjung, Rul."

Ruly mendadak mau pingsan. Pandangannya buram. Buyar konsentrasi. Kenapa pula Rheina bawa-bawa judul sinetron segala.

"Bener kan, Rul?" kejar Rheina. "Lu juga suka sama gue?"

Seperti mendapat tenaga dalam, Ruly sontak berdiri. "Sori Rhein, lu salah paham."
*

Sepulang sekolah, Ruly semedi di kamar. Terngiang-ngiang pernyataan jujur dari Rheina. Ia memang mengagumi cewek itu. Tangguh, mandiri, selain cantik tentu saja. Naluri kewanitaan Rheina rupanya bisa membaca bahwa ia diperlakukan berbeda. Istimewa. Rheina benar, Ruly sudah lama menyimpan rasa.

Mungkin ia pengecut tidak bernyali mengakui. Apalagi terang-terangan berucap suka. Namun, ia salut dengan kegagahan Rheina, juga Ilma. Dua gadis sahabatnya itu jauh lebih perkasa mengungkapkan perasaan.

Galau melanda Ruly. Bukan karena mendadak dihadapkan pada soal pilihan ganda, pilih Ilma atau Rheina. Galaunya justru bagaimana menjelaskan kepada keduanya bahwa ia tengah belajar mencintai yang lain. Mencintai dia yang juga dikenal oleh keduanya. Namun, untuk mencintainya Ruly harus menjauh dari Rheina dan Ilma. Bukan menjaga jarak secara ekstrim memang. Namun, jelas tidak memungkinkan untuk seenaknya toyor-toyoran kepala seperti dulu. Kalau dia cemburu gimana?

Ah, andai Ruly mengenalnya jauh-jauh hari. Dipastikan ia tidak akan jatuh dalam jurang kegalauan akibat membuat dua orang gadis jatuh cinta. Kalau saja ia mengenalnya lebih dulu, mungkin ia dapat mencegah bunga bermekaran di hati Rheina dan Ilma.

Kini, Ruly bertekad tidak akan goyah. Apalagi tergoda. Pun, dengan pengakuan Rheina yang notabene ia taksir sejak lama. Ruly yakin dia yang sekarang ia cinta jauh lebih baik daripada Rheina.

Adzan Ashar dari mushala komplek memecah lamunannya. Ruly tersenyum sembari lirih menjawab adzan. Ia beranjak, wudhu. Dia yang kini ia cinta memanggil-manggil. Tak akan ditunggunya sampai nanti-nanti. Segera. Ruly menghadap Dia, Yang Maha Mencintai.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar