Lucas memandang jemu deretan tenda yang terpancang di area
perkemahan. Ini acara tahunan sekolah bagi murid baru. Shake Hand Camp,
perkemahan perkenalan.
Madame Monica berseru-seru di tengah
lapangan, dia memang terlalu cerewet menjadi guru. Semua anak tampak
bersemangat dan ceria. Hanya Lucas yang tidak menikmati acara ini
agaknya. Malas-malasan, dia berbaring di bawah pohon mahoni, membiarkan
rambut jigraknya bersatu dengan rerumputan.
“Hei, kau!”
Lucas membuka matanya yang nyaris terpejam. Angin di sini ternyata sejuk
juga, membuat mata berat. Seorang anak laki-laki berdiri di ujung
kakinya. Bertubuh lebih pendek dari Lucas. Hidungnya bangir dengan mata
biru tua. Wajah lugunya dihiasi rambut keriting agak panjang. Lucas
sudah lama mengamati anak ini di perjalanan. Selain satu-satunya bocah
berambut keriting, dia juga tidak banyak bicara. Pasti bukan orang yang
seru dijadikan teman.
“Ya, kenapa?” tanya Lucas.
“Madame Monica menyuruh kita mengambil air ke sungai.”
“Tidak mau!” Lucas kembali memejamkan mata.
Si keriting yang pendiam itu mendengus. “Aku laporkan pada Madame Monica nanti.”
“Oke, oke!” Lucas meraih ember yang sedari tadi ditenteng anak keriting itu kasar. “Di mana sungainya?”
Tanpa bicara, bocah keriting mempimpin langkah. Mereka berjalan di
antara jejeran pohon mahoni. Jalur setapak itu berliku-liku dan akhirnya
menurun. Jauh di bawah sana, pada sebuah lembah mengalir sungai jernih,
menggoda Lucas untuk menyeburkan diri.
“Siapa namamu?” Lucas tiba-tiba teringat, mereka sama sekali belum berkenalan.
“Charly,” jawab si keriting.
Diam-diam Lucas tertawa, nama yang cocok dengan rambutnya. Curly Charly!
“Aku Lucas.”
“Aku tahu.” Charly menoleh ke belakang. “Semua anak kenal kau, si badung!”
Lucas melongo. Aku badung? Oh, ya. Mungkin membantah dan mengerjai Madame Monica adalah salah satu kenakalan tak termaafkan.
Mereka akhirnya sampai di tepian sungai. Lucas meloncat-loncat gembira. Sementara Charly mulai membenamkan embernya.
“Tempat ini keren!” Lucas berseru. Matanya berbinar menyaksikan
permukaan sungai yang berkilau tertimpa cahaya matahari sore. Rimbunan
mahoni di sepanjang tepinya meneduhkan sekitar. Ada semacam gundukan
kecil tak jauh dari mereka berdiri, membuat sungai tampak menjadi
bertingkat.
“Charly, ayo kita berenang!” Lucas tak hentinya berteriak gembira.
Rambut keriting Charly bergoyang saat menggeleng. “Madame Monica hanya meminta kita mengambil air, bukan berenang.”
“Oh yeah, siswa teladan!” ledek Lucas. Bocah sepuluh tahun itu mulai
membuka pakaiannya. Dan, byurrr! Melompat ke dalam sungai.
“Kau kembali saja duluan, nanti aku menyusul!” Lucas melambai di tengah sungai. Berenang seolah-olah hanyut mengikuti arus.
Charly diam di tepian. Baru saja bocah keriting itu mau balik badan,
teriakan Lucas menghentikan gerakannya. Tangan Lucas menggapai-gapai tak
tentu arah. Dia tidak lagi berenang, tapi ... seperti diseret oleh
sesuatu. Bukan arus sungai, aliran air ini cenderung tenang.
Sebelum Charly menyadari apapun, tubuh Lucas lenyap di balik gundukan kecil itu.
***
Dia mengira akan mati saat itu juga. Betapa leganya bisa kembali
membuka mata. Lucas mengerjap-ngerjap, mencoba mengenali tempat ia
berada sekarang. Dia mengamati sekeliling. Jika ini masih di dalam
sungai, harusnya tempat ini tidak kering. Tak ada genangan air sedikit
pun! Justru dinding-dinding batu mengapitnya sekarang. Buntu! Cahaya
remang yang entah dari mana membantu penglihatan.
Bruk! Lucas terdorong ke depan. Sesuatu baru saja menabraknya.
“Charly!” Lucas nyaris memeluk anak itu saking senangnya. Tenang rasanya punya teman di tempat aneh ini.
“Kau baik-baik saja?” Charly merapikan rambut keritingnya. “Aku ingin menolongmu, tapi ... di mana kita?”
“Entahlah. Ada yang menarikku waktu berenang tadi, rasanya pergelangan kakiku membeku.” Lucas bergidik.
“Kalau saja kau menurut padaku, pasti kita tidak di sini. Kau memang biang masalah!” gerutu Charly.
Lucas berkacak pinggang. “Aku juga tidak minta kau ke mari menolongku kan, murid alim? Huh!”
“Aku juga menyesal, asal kau tahu!” Charly tak mau kalah.
Lucas mendengus. Dia benci disalahkan! Tapi sekarang yang terpenting
adalah menemukan jalan keluar. Dia meraba-raba dinding batu,
menekan-nekan seperti mendorong pintu.
Greeek!
Lucas
mundur, menempelkan punggung pada dinding batu di belakangnya. Dinding
batu yang didorongnya terbuka! Sebuah lorong yang temaram mengular di
depan.
Bersamaan dengan itu, Charly memekik histeris. Tubuh
bocah itu tiba-tiba melayang, menggantung satu meter di atas lantai.
Lucas berusaha menariknya ke bawah, namun anak itu melayang semakin
tinggi.
“Lagi-lagi kau membuat masalah!” dengus Charly menggapai-gapai udara.
Lucas mendongak, memandang Charly penuh penyesalan. “Bagaimana kalau kita ikuti saja lorong ini?”
Charly merengut. “Aku jalan duluan. Kau ceroboh, aku tak mau ada kesalahan lagi!”
Lucas mengangguk. Mungkin itu lebih bijaksana. Tapi ternyata Charly
tidak bergerak sama sekali meski kakinya mengayuh-ngayuh udara. Lucas
mencoba melewati pintu lebih dulu. Anehnya, Charly otomatis mengikuti
tanpa perlu menggerakkan tubuh sedikit pun. Bocah keriting itu melayang
seperti hantu!
“Oke, ini sungguh sempurna!” kata Charly. “Hidupku kini sepenuhnya di tanganmu, anak badung!”
Lucas diam saja. Lorong itu mendadak terang saat kakinya melangkah.
Dinding batu abu-abu masih menjaga mereka di kiri kanan. Sementara
Charly megikuti tanpa suara.
“Ada seseorang!” seru Charly. Posisinya yang lebih tinggi membuatnya bisa melihat pemandangan di depan lebih dulu.
Tampilan makhluk itu seperti penyihir. Dia memakai jubah panjang
dilengkapi topi lonjong menyerupai telur. Di hadapannya ada semacam
tungku dengan api menyala dengan periuk di atasnya. Di atas meja,
menggunung ratusan butir telur.
“Tersesat, heh?” katanya ramah.
Kedua bocah itu urung ketakutan. Meski tidak seperti manusia, wajah
penyihir ini tampak menyenangkan.
“Tolonglah kami!” Charly memelas.
“Wow, ada yang melayang! Pasti temanmu sudah melakukan kesalahan.”
Penyihir telur terkekeh menunjuk Charly menggantung. “Harusnya kau ketuk
pintunya, bukan didorong. Ah, kami memang selalu didatangi anak-anak
yang tak sopan!” lanjutnya melirik Lucas.
Lucas sendiri merengut. Masih adakah orang sopan dalam situasi panik?
Penyihir telur tertawa melihat ekspresi Lucas. Dia mengecek periuknya
yang berisi air mendidih. “Sudah matang!” serunya ceria. Kemudian
memindahkan sebutir telur berasap ke dalam mangkuk.
“Tolong beri tahu kami jalan keluar,” mohon Lucas.
“Boleh saja,” jawab penyihir telur sambil menimang-nimang sebutir telur mentah. “Tapi jawab dulu pertanyaanku!”
“Apa?” tanya Lucas dan Charly serempak.
“Lihat telur-telur ini. Aku menghabiskan hari untuk membuatnya
matang,” katanya lesu. “Aku sudah menghitungnya, satu butir telur bisa
matang dalam satu menit. Nah, menurut kalian berapa waktu yang
kuperlukan untuk merebus sepuluh telur?”
“Itu masalah gampang. Sepuluh menit!” teriak Lucas bersemangat.
Si penyihir telur meliriknya lucu. “Kau terlalu tergesa-gesa, anak kecil. Pikirkan dulu pertanyaanku!”
“Aku tahu!” seru Charly dari atas. “Waktunya tetap satu menit!”
“Oh, ya? Bagaimana bisa?” Penyihir telur mendongak.
“Rebus saja sekaligus.”
Penyihir itu tertawa puas. Dirangkulnya pundak Lucas. “Siapapun namamu,
kau sudah memberi banyak kesulitan pada anak cerdas itu,” katanya
menunjuk Charly. “Sebagai ganjaran atas jawaban buru-burumu, temanmu
tidak akan dapat berbicara.”
Charly ber-Oh panjang tanda kesal dalam hati. Lucas tersenyum kecut.
Si penyihir melemparkan sebutir telur ke dinding batu, dan sebuah
pintu menganga di hadapan mereka. “Selamat jalan!” senyumnya.
Lucas melompati pintu setelah berterima kasih. Charly melambai kepada
penyihir. Ah, ternyata ini belum berakhir. Lorong panjang lagi-lagi
menyambut mereka. Semoga ujungnya benar-benar pintu keluar, batin
Charly. Dia tidak mau jadi korban kebodohan Lucas lagi.
Namun,
sial. Mereka bertemu penyihir muda yang sedang mabuk. Di tangannya
tergenggam sebuah botol penuh minuman. Di belakang punggungnya, gunungan
botol kosong menutupi dinding. Lucas dan Charly hampir muntah mencium
aroma napasnya yang bau.
“Jangan harap kalian bisa lewat begitu saja, anak-anak!” kata penyihir mabuk itu sempoyongan.
“Apa kami harus menjawab pertanyaan lagi?” tanya Lucas. Dia berharap
kali ini diberi tantangan berkelahi saja. Penyihir mabuk ini pasti bisa
dikalahkan dengan mudah.
“Oh, penyihir telur menanyai kalian? Hoho, dia memang cerewet!”
Charly melambai-lambai di udara. Ingin sekali berbicara, tapi bibirnya terkunci.
“Kami harus apa?” tanya Lucas tak sabar.
“Karena temanmu melayang, maka kau yang harus melakukannya,” kata
penyihir mabuk. “Itu, di sana ada botol kosong, gabus, dan koin.
Masukkan koin ke dalam botol kemudian sumbat dengan gabusnya!”
Lucas melaksanakan perintah itu hati-hati. Mudah sekali, ejeknya dalam hati. “Sudah!”
“Oke, sekarang coba keluarkan koin itu tanpa menarik gabus atau memecahkan botolnya!”
Lucas melongo. Dia merasa dipermainkan. “Bagaimana mungkin?” teriaknya kesal.
“Gunakan otakmu, anak kecil. Itu perkara gampang!” cibir penyihir mabuk.
Kemarahan menguasai Lucas. Dilemparnya botol berisi koin itu ke dinding batu. Ajaib, tidak pecah sama sekali.
Penyihir mabuk terbahak-bahak. Sementara Charly menendang-nendangkan
kakinya di udara, berusaha memanggil Lucas. Benar-benar tidak sabaran,
gerutunya.
“Sepertinya teman melayangmu bisa membantu,” kata penyihir mabuk meneguk isi botolnya.
Lucas mendongak memandang Charly. Oh, bagaimana caranya mereka
berkomunikasi bila ia tidak bisa mendengar suara si keriting itu. Tapi
Charly tidak putus asa, dia berusaha memberi kode lewat gerakan
tangannya. Semoga si badung itu cukup pintar untuk mengerti maksudku,
batin Charly.
“Apa? Dorong?” tanya Lucas tak paham. Di atas,
Charly menggunakan kedua jempolnya membuat gerakan seperti memencet
sesuatu. “Gabusnya?” tanya Lucas lagi. Charly mengangguk.
Oh!
Lucas menepuk keningnya. Benar, dorong saja gabusnya sampai masuk ke
dalam botol. Sekuat tenaga ia menggencet gabus itu sampai jempolnya
sakit. Setelah berhasil, Lucas mengguncang-guncang botol agar koin bisa
keluar. Kalau koin itu tadinya bisa masuk, pasti bisa lolos lagi, bukan?
“Berhasil!” seru Lucas akhirnya. Charly tersenyum lega.
Penyihir mabuk terkekeh. “Itu berkat temanmu! Karena kau sempat melempar botolku, maka semua hukuman bepindah padamu!”
Lucas pasrah saja saat tubuhnya terangkat, mau protes sudah tidak bisa
karena mulutnya terkunci. Charly mendarat lembut di lantai batu,
suaranya juga sudah kembali. Si penyihir mabuk bersendawa keras, dan
gunungan botol pecah satu persatu. Menyisakan lubang besar di
belakangnya. “Pergilah!”
Charly melangkah lebih dulu. Ada
ruangan serba putih di belakang pecahan botol itu. Sesosok makhluk
kerdil duduk di sebuah kursi yang bersinar menyilaukan. Tubuhnya bening,
berkilauan. Di atas kepalanya ada sebentuk mahkota. Dan tangannya
terbuat dari es dengan jari kurus panjang.
Lucas menunjuk-nunjuk dari atas, berpikir mungkin makhluk inilah yang sudah menyeretnya saat berenang.
“Selamat datang di Under River, anak-anak!” katanya ramah. “Aku Raja Sungai.”
Charly membungkuk sopan. “Bisakah kau membantu kami? Kami ingin kembali ke perkemahan.”
“Aku suka kau.” Raja Sungai memandang Charly lembut. “Kau terjebak di sini karena ingin membantu temanmu, kan?”
“Dia memang agak nakal,” jawab Charly sambil tersenyum.
Lucas tertunduk lesu di udara. Raja Sungai tertawa. “Sayangnya kalian
tidak bisa keluar dari sini tanpa menjawab pertanyaanku. Yang menjawab
dengan tepat, bisa kembali ke perkemahan dengan selamat. Ah, juga ada
sebuah hadiah istimewa!”
“Maksudmu yang menjawab salah akan selamanya terjebak di sini?” tanya Charly ngeri.
Raja Sungai mengangguk. “Aku punya banyak sekali apel. Nah, berapa
apel yang bisa kau masukkan ke dalam keranjang yang kosong?”
Dia memandang Lucas dan Charly bergantian. “Siapa yang mau menjawab lebih dulu?”
Lucas mengacungkan tangannya. Mudah, susun saja apel-apel itu sampai
keranjang penuh, pikirnya. Maka ia melayang ke meja dan mulai
memindahkan apel itu satu-satu ke dalam keranjang. Ada lima puluh buah
apel. Lucas memandang raja, tanda pekerjaannya sudah selesai.
“Wow, kau pintar menyusun apel! Aku bahkan tidak bisa memindahkan setengahnya,” seru Raja Sungai girang.
Mata Lucas berbinar.
“Sayangnya kau keliru, anak kecil. Bukan itu jawabannya!”
Lucas terhenyak. Tiba-tiba saja tubuhnya disambar seutas tali bening, mengikatnya pada sebuah tiang di sudut ruangan.
“Bagaimana denganmu?” Raja melirik Charly.
Si keriting menggaruk kepalanya. Dia harus berhati-hati. Pelan, dia
maju ke meja dengan gunungan apel di atasnya. Menimang-nimang sebuah
apel, kemudian meletakkannya di dalam keranjang kosong.
“Satu saja?” Raja Sungai memandang Charly penuh minat.
Charly mengangguk yakin. “Karena setelah satu apel dimasukkan ke dalam keranjang, berarti keranjangnya tidak kosong lagi.”
“Mengagumkan!” Raja bertepuk tangan. “Sebelum pintunya kubuka, kau boleh minta apa saja!”
“Apapun?” tanya Charly.
“Kecuali yang menyangkut teman badungmu.” Raja Sungai tersenyum seolah bisa membaca pikiran Charly.
Si keriting memandang Lucas yang menangis di tiang. Senakal apapun dia, Charly tak mungkin meninggalkannya di sini.
“Aku minta ... cabut semua hukuman Lucas,” kata Charly mantap.
“Kau yakin? Itu artinya kau tidak bisa kembali ke perkemahan.”
Charly mengangguk cepat.
Tiba-tiba tiang tempat Lucas terikat rubuh membentur dinding batu.
Lalu berangsur-angsur dinding itu menganga membentuk sebuah pintu.
“Tugasku sudah selesai. Pergilah kalian berdua! Sampaikan salamku pada
Madame Monica, oke? Aku selalu suka wanita cerewet itu.” Raja Sungai
tertawa.
Meski kebingungan, Charly dan Lucas berebut melewati
pintu. Ember yang mereka bawa sudah menunggu di sana. Bergantian mereka
membawanya kembali ke perkemahan. Kali ini tanpa berkelahi sedikit pun!
“Madame Monica!” Mereka menyerahkan ember takut-takut. Pasti mereka sudah pergi terlalu lama.
Wanita bersanggul tinggi itu mengamati Lucas dan Charly dari balik
kaca matanya. “Wah, kalian kembali lebih cepat dari perkiraanku. Raja
Sungai melaporkan kalian teman yang kompak.”
Kedua bocah itu tersipu.
“Jangan sebut ini Shake Hand Camp bila kau tidak mendapatkan teman!”
Madame Monica mengedipkan matanya.
Lucas dan Charly tertawa mengerti.
-----
Tidak ada komentar:
Posting Komentar