Minggu, 23 November 2014

Bunga di Bawah Jendela

Embun tebal yang menggelayut tak lagi menarik hati Rosma. Biasanya setiap membuka jendela kayu kamarnya, gadis berwajah elok itu senang menghirup udara pagi yang segar dicampuri embun. Sambil berusaha menembus putihnya yang menutupi jalanan kampung.

Rosma mencari-cari. Mana? Biasanya ada di bawah jendela, tergeletak di tanah yang lembab.
Seminggu ini dengan misterius Rosma selalu mendapati sekuntum bunga di sisi jendelanya. Tidak selalu bunga yang sama. Terakhir kemarin ia menemukan bunga anggrek dan lili yang dirangkai cantik.

Itu dia!

Gadis 24 tahun itu terlonjak melihat tanaman sejenis bonsai yang memagari taman tepat di ambang jendela kini diselipi bunga nusa indah. Kuntumnya yang besar-besar kontras dengan daun bonsai yang mungil.

Rosma tersenyum, menikmati pemandangan cantik di hadapannya. Entah siapa yang begitu telaten dan rutin mengejutkannya dengan bunga-bunga indah itu. Panggilan Ibu untuk segera mandi menyadarkannya. Bergegas, gadis itu beranjak setelah sekali lagi melempar pandang ke bonsai berbunga nusa indah.

"Mungkin ada yang diam-diam suka sama kau, Rosma," tebak Asni, teman satu tempat mengajar.

Rosma tak tahan untuk tidak cerita. Jadilah mereka menduga-duga berdua saat jam istirahat.

"Siapa?" tanya Rosma lugu.

Asni menarik jilbab ungu pupus Rosma. "Manalah aku tahu. Kalau kata orang luar negeri sana, ini namanya secret admirer."

"Pemuja rahasia ...," desis Rosma. Mata dengan alis tebal itu menerawang. Siapa gerangan yang memujanya dalam senyap. "Kenapa dia tak bilang saja kalau suka aku?"

Kali ini Asni melempar pulpen yang dari tadi jadi mainannya di meja. "Mana aku tahu!" serunya sambil melotot lucu. Rosma tergelak.

"Sedang cerita apa?" Pak Bahrun, satu-satunya guru bujangan di sekolah itu, datang bergabung.
"Sepertinya seru sekali."

"Si Rosma dapat kiriman bunga tiap pagi," jawab Asni lancar. Rosma melotot galak. Dasar Asni, rem mulutnya kurang pakem.

"Eh, bunga?" Pak Bahrun tampak tertarik, tatapan galak Rosma pada Asni luput dari pengamatannya.

"Bunga biasa, Pak. Tak ada yang istimewa," kilah Rosma sebelum Asni buka kartu lebih banyak.

"Pengirimnya misterius, Pak!"

Duh, Asniii .... Rosma geram sendiri.

"Oh, ya?" Alis Pak Bahrun terangkat. "Dik Rosma pastilah punya penggemar gelap."

"Rosma belum tahu orangnya gelap atau terang kok, Pak. Kan misterius ...."

Rosma menepuk jidat mendengar tanggapan polos Asni, pamit ke toilet diiringi lirikan Pak Bahrun.
*

"Pengirim bunga?"

Rosma mengangguk cepat. Gadis itu mencoba mencari keterangan tentang si pengirim bunga dari Nek Nah, tetangganya. Nenek yang juga pengasuhnya ketika kecil itu, selalu keluar rumah sebelum subuh, berjalan perlahan menuju masjid kampung. Siapa tahu nenek baik hati ini melihat penampakan si pengantar bunga di depan kamarnya.

Tapi Nek Nah menggeleng, meredupkan sinar harapan di mata Rosma.

"Mungkin mata nenek yang sudah rabun. Kau tahu kan, subuh itu masih remang-remang. Mata tua ini tak bisa lagi melihat jelas," hibur Nek Nah.

Rosma mengangguk, melengkungkan senyum.

"Kau terganggu dengan bunga itu, Ros?" tanya Nek Nah penuh perhatian.

"Tidak, Nek. Rosma hanya ingin tahu siapa pengirimnya."

Bagaimana mungkin ia terganggu. Seumur hidup baru sekarang ia mendapat perhatian dari pria dengan cara yang manis, tapi mengundang penasaran. Sungguh, Rosma merasa sangat diistimewakan.

"Airnya sudah matang, Nek." Wardi, cucu Nek Nah muncul dari dalam, tersenyum tipis kepada Rosma.

"Orang tua ini perlu mandi sore walaupun tak ada yang mengajak jalan-jalan, Ros," pamit Nek Nah.

Tawa Rosma meledak. Tapi, Wardi dingin saja, sibuk membantu neneknya berdiri. Rosma undur diri dari beranda rumah yang selalu bersih itu. Hah, dia juga harus mandi, siapa tahu si pengirim bunga datang mengajaknya jalan-jalan.
*

Rosma menahan kantuk yang gigih menyerangnya. Dia sudah bertekad memergoki si pemuja rahasia meski harus berangkat mengajar dengan mata bengkak keesokan hari. Gadis itu memasang telinga. Sensitif dengan suara-suara mencurigakan dari arah taman, membuka jendela dan memaksa pupil matanya menembus malam yang diterangi lampu teras ala kadarnya.

Sialnya, Rosma tertidur juga. Hasilnya dia kecolongan lagi. Rangkaian bunga boegenville putih tergeletak di bawah jendela bersama selembar daun mangga. Hei, ada tulisan di daunnya!

"Kuawali hariku dengan mendoakanmu agar kau selalu sehat dan bahagia di sana...."(*)

Bibir Rosma mengeja kata demi kata. Mengamati tulisan tak rapi dengan tinta kuning emas itu. Manis sekali, pikirnya. Tampaknya si pemuja rahasia mulai membuka komunikasi.

"Aku kenal tulisan ini!" Asni nyaris berteriak saat Rosma memamerkan surat daun mangga.

"Siapa?" tanya Rosma tak terlalu berharap mendapat jawaban yang memuaskan. Asni memang suka sembarang menduga selain tak bisa menyimpan rahasia.

"Pak Bahrun!"

"Bang ... Bahrun?" Rosma tercekat. Dia tak yakin.

Asni menyambar buku besar absensi guru di hadapannya. "Lihat Ros, mirip," desisnya.

Rosma ikut membandingkan, menunduk serius ke deretan huruf di buku dan daun. Memang mirip, tapi tidak sama. Tulisan Bang Bahrun di buku tegak kokoh. Sementara tulisan di surat daun mangga ini tak tentu posisinya, ada yang tegak, kebanyakan miring dan ada bagian yang tebal di sana-sini. Barangkali si pemuja rahasia kesulitan menancapkan penanya di permukaan daun.

"Dik Rosma."

Yang disebut namanya terperanjat. Sigap Rosma menyembunyikan surat daun mangga dan menutup buku absensi yang masih ditunjuk-tunjuk penuh minat oleh Asni. Rosma tak acuh dengan jerit kecil temannya, menampilkan sikap wajar di hadapan Bang Bahrun.

"Kalian sedang apa? Kenapa terkejut aku datang?" Pria itu rupanya memperhatikan.

Rosma agak menggerutu dalam hati. "Biasa Bang, urusan perempuan," kilahnya,"Abang ada perlu apa?"

Bang Bahrun manggut-manggut. "Oh, ya. Dik Ros dipanggil kepala sekolah."

Rosma mengangguk, berucap terima kasih. Buru-buru dia kabur dari tatapan curiga Bang Bahrun. Tapi telinganya masih bisa menangkap pertanyaan Asni kepada Bang Bahrun yang membuatnya ingin menjahit mulut usil itu.

"Pak Bahrun punya pohon mangga di rumah?"

"Ada." Sayup jawaban Bang Bahrun terdengar.
*

"Dan biarkan aku jadi pemujamu, jangan pernah hiraukan perasaan hatiku."(*)

Ditulis pada selembar daun mangga kering yang diikat bersama sekuntum mawar merah. Rosma memungutnya. Ah, siapa gerangan sosok misterius ini?

"Dapat bunga lagi, Ros?"

Kaget, Rosma menoleh ke belakang. Wardi sudah berdiri di balik punggungnya berpakaian olah raga lengkap. Tampaknya baru lari pagi keliling kampung.

"Nenek yang cerita," lanjut pemuda tampan yang baru setahun belakangan tinggal bersama Nek Nah itu, melihat keheranan di wajah Rosma.

"Ros ingin sekali tahu siapa orangnya, Bang War." Gadis itu mencium mawar merah di genggamannya.

"Mungkin kau harus bangun lebih pagi untuk memergokinya. Nek Nah sering bercerita, kau paling susah bangun pagi." Wardi tertawa.

Rosma memerah wajahnya. Malu. "Kira-kira wajahnya seperti apa ya, Bang? Tampankah?"

Tawa Wardi menjadi. "Bisa jadi," jawabnya.

Hari Minggu itu dihabiskan Rosma dengan memandangi bunga-bunga kiriman si pemuja rahasia. Ada yang sudah tak jelas rupanya karena sudah layu, menghitam, dan busuk.

Siapa? Tak mungkin Bang Bahrun seperti dugaan Asni. Rumah guru muda memang tak jauh dari rumahnya. Tapi, niat betul dia cuma mengantar bunga di pagi buta. Bang Bahrun juga punya pohon mangga. Ah, rumah yang punya pohon mangga di kampung ini tak cuma dia.

Lalu siapa? Bang Wardi? Rosma menepuk jidat. Baru kemarin Nek Nah bercerita, cucunya itu akan segera menikah di kampung halamannya.
*

Pagi masih sangat buta saat Rosma terjaga. Pukul tiga dini hari. Beringsut gadis itu bangkit mengambil wudhu. Tiba-tiba saja terniat untuk solat tahajud, padahal selama ini jarang dia lakoni.
Damai menelusup hati Rosma. Pagi yang lengang mengungkung kekhusyukkannya. Hingga tiba-tiba suara langkah kaki mengusik pendengaran gadis berbalut mukena putih itu dari luar. Terdengar jelas di depan jendela kamarnya!

Rosma terpaku di atas sajadah. Itukah dia? Inikah saatnya membongkar topeng si pemuja rahasia?
Pelan, tangan halusnya membuka gerendel. Tanpa suara jendela itu dia buka. Itu dia! Dalam remang cahaya bulan separuh, Rosma melihat sesosok pria berbaju koko lengkap dengan sarung dan peci putih. Sial, wajahnya tak terlihat karena si pengantar bunga sedang berjalan ke luar dari halaman rumahnya.

Rosma menahan napas. Sedikit lagi dia akan tahu. Tolong, berbaliklah ... setidaknya menoleh, jeritnya dalam hati.

Tapi ..., hei!

Rosma membekap mulutnya. Tak percaya dengan apa yang baru dilihat kedua matanya. Tak mungkin. Si pengantar bunga itu ..., si pemuja rahasianya ternyata ....

Tidak ada bunga. Rosma hanya menemukan selembar daun mangga kering yang ditindih kerikil kecil di sisi jendela. Gadis itu baru memungutnya saat akan berangkat mengajar. Tak sabar rasanya mengabarkan siapa yang dilihatnya mengantar bunga dini hari tadi pada Asni.

"Karena hanya dengan perasaan rinduku yang dalam padamu kupertahankan hidup
Karena hanya dengan jejak-jejak hatimu ada arti kutelusuri hidup ini
Selamanya hanya kubisa memujamu
Selamanya hanya kubisa merindukanmu."(*)

Nek Nah baru saja pamit pulang kampung untuk menikahkan cucu kesayangannya. Rosma mengucapkan selamat. Bang Wardi tersenyum kaku di samping neneknya. Gadis itu bimbang. Terbayang sosok berbaju koko yang berbelok dan masuk ke halaman rumah Nek Nah.

 Haruskah dia mengucapkan terima kasih atas bunga-bunga kirimannya itu?


(*) Lirik lagu Pemuja Rahasia (Sheila On 7)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar