Embun tebal yang menggelayut tak lagi menarik hati Rosma. Biasanya
setiap membuka jendela kayu kamarnya, gadis berwajah elok itu senang
menghirup udara pagi yang segar dicampuri embun. Sambil berusaha
menembus putihnya yang menutupi jalanan kampung.
Rosma mencari-cari. Mana? Biasanya ada di bawah jendela, tergeletak di tanah yang lembab.
Seminggu ini dengan misterius Rosma selalu mendapati sekuntum bunga di
sisi jendelanya. Tidak selalu bunga yang sama. Terakhir kemarin ia
menemukan bunga anggrek dan lili yang dirangkai cantik.
Itu dia!
Gadis 24 tahun itu terlonjak melihat tanaman sejenis bonsai yang
memagari taman tepat di ambang jendela kini diselipi bunga nusa indah.
Kuntumnya yang besar-besar kontras dengan daun bonsai yang mungil.
Rosma tersenyum, menikmati pemandangan cantik di hadapannya. Entah
siapa yang begitu telaten dan rutin mengejutkannya dengan bunga-bunga
indah itu. Panggilan Ibu untuk segera mandi menyadarkannya. Bergegas,
gadis itu beranjak setelah sekali lagi melempar pandang ke bonsai
berbunga nusa indah.
"Mungkin ada yang diam-diam suka sama kau, Rosma," tebak Asni, teman satu tempat mengajar.
Rosma tak tahan untuk tidak cerita. Jadilah mereka menduga-duga berdua saat jam istirahat.
"Siapa?" tanya Rosma lugu.
Asni menarik jilbab ungu pupus Rosma. "Manalah aku tahu. Kalau kata orang luar negeri sana, ini namanya secret admirer."
"Pemuja rahasia ...," desis Rosma. Mata dengan alis tebal itu
menerawang. Siapa gerangan yang memujanya dalam senyap. "Kenapa dia tak
bilang saja kalau suka aku?"
Kali ini Asni melempar pulpen
yang dari tadi jadi mainannya di meja. "Mana aku tahu!" serunya sambil
melotot lucu. Rosma tergelak.
"Sedang cerita apa?" Pak Bahrun, satu-satunya guru bujangan di sekolah itu, datang bergabung.
"Sepertinya seru sekali."
"Si Rosma dapat kiriman bunga tiap pagi," jawab Asni lancar. Rosma melotot galak. Dasar Asni, rem mulutnya kurang pakem.
"Eh, bunga?" Pak Bahrun tampak tertarik, tatapan galak Rosma pada Asni luput dari pengamatannya.
"Bunga biasa, Pak. Tak ada yang istimewa," kilah Rosma sebelum Asni buka kartu lebih banyak.
"Pengirimnya misterius, Pak!"
Duh, Asniii .... Rosma geram sendiri.
"Oh, ya?" Alis Pak Bahrun terangkat. "Dik Rosma pastilah punya penggemar gelap."
"Rosma belum tahu orangnya gelap atau terang kok, Pak. Kan misterius ...."
Rosma menepuk jidat mendengar tanggapan polos Asni, pamit ke toilet diiringi lirikan Pak Bahrun.
*
"Pengirim bunga?"
Rosma mengangguk cepat. Gadis itu mencoba mencari keterangan tentang
si pengirim bunga dari Nek Nah, tetangganya. Nenek yang juga pengasuhnya
ketika kecil itu, selalu keluar rumah sebelum subuh, berjalan perlahan
menuju masjid kampung. Siapa tahu nenek baik hati ini melihat penampakan
si pengantar bunga di depan kamarnya.
Tapi Nek Nah menggeleng, meredupkan sinar harapan di mata Rosma.
"Mungkin mata nenek yang sudah rabun. Kau tahu kan, subuh itu masih
remang-remang. Mata tua ini tak bisa lagi melihat jelas," hibur Nek Nah.
Rosma mengangguk, melengkungkan senyum.
"Kau terganggu dengan bunga itu, Ros?" tanya Nek Nah penuh perhatian.
"Tidak, Nek. Rosma hanya ingin tahu siapa pengirimnya."
Bagaimana mungkin ia terganggu. Seumur hidup baru sekarang ia mendapat
perhatian dari pria dengan cara yang manis, tapi mengundang penasaran.
Sungguh, Rosma merasa sangat diistimewakan.
"Airnya sudah matang, Nek." Wardi, cucu Nek Nah muncul dari dalam, tersenyum tipis kepada Rosma.
"Orang tua ini perlu mandi sore walaupun tak ada yang mengajak jalan-jalan, Ros," pamit Nek Nah.
Tawa Rosma meledak. Tapi, Wardi dingin saja, sibuk membantu neneknya
berdiri. Rosma undur diri dari beranda rumah yang selalu bersih itu.
Hah, dia juga harus mandi, siapa tahu si pengirim bunga datang
mengajaknya jalan-jalan.
*
Rosma menahan kantuk yang gigih
menyerangnya. Dia sudah bertekad memergoki si pemuja rahasia meski
harus berangkat mengajar dengan mata bengkak keesokan hari. Gadis itu
memasang telinga. Sensitif dengan suara-suara mencurigakan dari arah
taman, membuka jendela dan memaksa pupil matanya menembus malam yang
diterangi lampu teras ala kadarnya.
Sialnya, Rosma tertidur
juga. Hasilnya dia kecolongan lagi. Rangkaian bunga boegenville putih
tergeletak di bawah jendela bersama selembar daun mangga. Hei, ada
tulisan di daunnya!
"Kuawali hariku dengan mendoakanmu agar kau selalu sehat dan bahagia di sana...."(*)
Bibir Rosma mengeja kata demi kata. Mengamati tulisan tak rapi dengan
tinta kuning emas itu. Manis sekali, pikirnya. Tampaknya si pemuja
rahasia mulai membuka komunikasi.
"Aku kenal tulisan ini!" Asni nyaris berteriak saat Rosma memamerkan surat daun mangga.
"Siapa?" tanya Rosma tak terlalu berharap mendapat jawaban yang
memuaskan. Asni memang suka sembarang menduga selain tak bisa menyimpan
rahasia.
"Pak Bahrun!"
"Bang ... Bahrun?" Rosma tercekat. Dia tak yakin.
Asni menyambar buku besar absensi guru di hadapannya. "Lihat Ros, mirip," desisnya.
Rosma ikut membandingkan, menunduk serius ke deretan huruf di buku dan
daun. Memang mirip, tapi tidak sama. Tulisan Bang Bahrun di buku tegak
kokoh. Sementara tulisan di surat daun mangga ini tak tentu posisinya,
ada yang tegak, kebanyakan miring dan ada bagian yang tebal di
sana-sini. Barangkali si pemuja rahasia kesulitan menancapkan penanya di
permukaan daun.
"Dik Rosma."
Yang disebut namanya
terperanjat. Sigap Rosma menyembunyikan surat daun mangga dan menutup
buku absensi yang masih ditunjuk-tunjuk penuh minat oleh Asni. Rosma tak
acuh dengan jerit kecil temannya, menampilkan sikap wajar di hadapan
Bang Bahrun.
"Kalian sedang apa? Kenapa terkejut aku datang?" Pria itu rupanya memperhatikan.
Rosma agak menggerutu dalam hati. "Biasa Bang, urusan perempuan," kilahnya,"Abang ada perlu apa?"
Bang Bahrun manggut-manggut. "Oh, ya. Dik Ros dipanggil kepala sekolah."
Rosma mengangguk, berucap terima kasih. Buru-buru dia kabur dari
tatapan curiga Bang Bahrun. Tapi telinganya masih bisa menangkap
pertanyaan Asni kepada Bang Bahrun yang membuatnya ingin menjahit mulut
usil itu.
"Pak Bahrun punya pohon mangga di rumah?"
"Ada." Sayup jawaban Bang Bahrun terdengar.
*
"Dan biarkan aku jadi pemujamu, jangan pernah hiraukan perasaan hatiku."(*)
Ditulis pada selembar daun mangga kering yang diikat bersama sekuntum
mawar merah. Rosma memungutnya. Ah, siapa gerangan sosok misterius ini?
"Dapat bunga lagi, Ros?"
Kaget, Rosma menoleh ke belakang. Wardi sudah berdiri di balik
punggungnya berpakaian olah raga lengkap. Tampaknya baru lari pagi
keliling kampung.
"Nenek yang cerita," lanjut pemuda tampan
yang baru setahun belakangan tinggal bersama Nek Nah itu, melihat
keheranan di wajah Rosma.
"Ros ingin sekali tahu siapa orangnya, Bang War." Gadis itu mencium mawar merah di genggamannya.
"Mungkin kau harus bangun lebih pagi untuk memergokinya. Nek Nah sering
bercerita, kau paling susah bangun pagi." Wardi tertawa.
Rosma memerah wajahnya. Malu. "Kira-kira wajahnya seperti apa ya, Bang? Tampankah?"
Tawa Wardi menjadi. "Bisa jadi," jawabnya.
Hari Minggu itu dihabiskan Rosma dengan memandangi bunga-bunga kiriman
si pemuja rahasia. Ada yang sudah tak jelas rupanya karena sudah layu,
menghitam, dan busuk.
Siapa? Tak mungkin Bang Bahrun seperti
dugaan Asni. Rumah guru muda memang tak jauh dari rumahnya. Tapi, niat
betul dia cuma mengantar bunga di pagi buta. Bang Bahrun juga punya
pohon mangga. Ah, rumah yang punya pohon mangga di kampung ini tak cuma
dia.
Lalu siapa? Bang Wardi? Rosma menepuk jidat. Baru kemarin
Nek Nah bercerita, cucunya itu akan segera menikah di kampung
halamannya.
*
Pagi masih sangat buta saat Rosma terjaga.
Pukul tiga dini hari. Beringsut gadis itu bangkit mengambil wudhu.
Tiba-tiba saja terniat untuk solat tahajud, padahal selama ini jarang
dia lakoni.
Damai menelusup hati Rosma. Pagi yang lengang
mengungkung kekhusyukkannya. Hingga tiba-tiba suara langkah kaki
mengusik pendengaran gadis berbalut mukena putih itu dari luar.
Terdengar jelas di depan jendela kamarnya!
Rosma terpaku di atas sajadah. Itukah dia? Inikah saatnya membongkar topeng si pemuja rahasia?
Pelan, tangan halusnya membuka gerendel. Tanpa suara jendela itu dia
buka. Itu dia! Dalam remang cahaya bulan separuh, Rosma melihat sesosok
pria berbaju koko lengkap dengan sarung dan peci putih. Sial, wajahnya
tak terlihat karena si pengantar bunga sedang berjalan ke luar dari
halaman rumahnya.
Rosma menahan napas. Sedikit lagi dia akan tahu. Tolong, berbaliklah ... setidaknya menoleh, jeritnya dalam hati.
Tapi ..., hei!
Rosma membekap mulutnya. Tak percaya dengan apa yang baru dilihat kedua
matanya. Tak mungkin. Si pengantar bunga itu ..., si pemuja rahasianya
ternyata ....
Tidak ada bunga. Rosma hanya menemukan selembar
daun mangga kering yang ditindih kerikil kecil di sisi jendela. Gadis
itu baru memungutnya saat akan berangkat mengajar. Tak sabar rasanya
mengabarkan siapa yang dilihatnya mengantar bunga dini hari tadi pada
Asni.
"Karena hanya dengan perasaan rinduku yang dalam padamu kupertahankan hidup
Karena hanya dengan jejak-jejak hatimu ada arti kutelusuri hidup ini
Selamanya hanya kubisa memujamu
Selamanya hanya kubisa merindukanmu."(*)
Nek Nah baru saja pamit pulang kampung untuk menikahkan cucu
kesayangannya. Rosma mengucapkan selamat. Bang Wardi tersenyum kaku di
samping neneknya. Gadis itu bimbang. Terbayang sosok berbaju koko yang
berbelok dan masuk ke halaman rumah Nek Nah.
Haruskah dia mengucapkan
terima kasih atas bunga-bunga kirimannya itu?
(*) Lirik lagu Pemuja Rahasia (Sheila On 7)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar