Minggu, 23 November 2014

Beauty Inside, Bright Outside

Sheila mengejar Uul, merasa tak enak hati. Dia pasti sudah melukai perasaan sahabatnya sendiri.

"Ul!"

Yang dipanggil malah lari semakin kencang, menghilang di balik pintu toilet sekolah.

"Ul ..., sorry .... Aku nggak ada maksud ngejek kamu."

Di dalam toilet yang bau, air mata Uul berlomba dengan air keran yang sengaja ia putar habis. Mirip di sinetron-sinetron. Lebay kamu, Ul!

Nggak. Ini bukan lebay. Uul hampir tidak pernah menangis, apalagi untuk hal-hal sepele seperti ini. Tapi, kali ini gadis itu sedih bukan main. Hati remajanya terluka. Percaya dirinya runtuh.

"Ul, please ...," mohon Sheila.

"Aku mau sendiri dulu, She."

Sheila maklum. Duh, pasti Uul tersinggung berat. Sahabatnya itu bukan tipikal cewek cengeng yang gampang menangis. Dan dia sudah membuatnya berurai air mata. Sungguh, Sheila tak mau kehilangan teman sebaik Uul.

"Kita masih temenan kan, Ul?"

Hanya suara muncratan air keran yang menjawab. Lesu, remaja berambut panjang itu beranjak dari sana.

Di dalam toilet, Uul mengusap air matanya. Bodoh, katanya mengatai diri sendiri. Buat apa menangis? Bukankah seharusnya ia sudah terbiasa? Lalu, kenapa ocehan ngasal Aliando begitu menyakitinya?

Kejujuran kadang memang pahit, Ul.

Sebelum ia bersembunyi di sini, Uul dan Sheila sedang bercengkrama di taman sekolah saat Aliando, cowok langganan dipanggil guru BP, iseng bertanya sambil lewat.

"Kalian kok bisa klop banget, sih?"

"Karena kami punya banyak kesamaan." Sheila yang menjawab. "Ya, kan, Ul?"

Uul mengangguk mantap.

Aliando mengerutkan kening. "Perbedaan kalian itu mencolok banget, lho," telunjuknya menuding Sheila dan Uul bergantian,"yang ini terawat, yang ini perlu dirawat! Huaaahaha!"

Wajah Uul merah padam. Tanduk mini mencuat di ubun-ubun. Terlalu! Ini sih, namanya penghinaan!
Sisa tawa Aliando masih terdengar. Dan Uul makin terluka mendapati Sheila, menjepit bibir agar tawanya tak ikut pecah. Huh! Kalau saja bukan di sekolah, Aliando pasti sudah Uul buat bungkam dengan tendangan karatenya. Tapi, Sheila ... tega!
*

Bagai itik buruk rupa.

Itulah perumpaan Uul bila sedang berdampingan dengan Sheila. Gadis itu sungguh beruntung tak perlu usaha berlebihan untuk menarik pandangan mata dan membuat orang berpaling pun enggan. Sahabatnya sejak hari pertama ospek itu, semulus mobil baru. Nggak heran, Maminya kan, owner salon and spa. Sheila yang memang udah cantik dari sononya, makin cemerlang berkat treatment di sana.

Uul sangat sadar semua itu. Bukan sekali dua kali ia dianggap tak kasat mata karena semua perhatian orang sepenuhnya buat Sheila. Dia tahu, Sheila yang selalu modis dan sangat memerhatikan penampilannya, menikmati perhatian dan tatapan kagum itu.

"Itu bentuk apresiasi atas usaha kita tampil cantik, Ul. Makanya kamu perawatan, dong ...."

Uul selama ini tak pernah ambil pusing. Meski kadang terbersit rasa iri karena jiwa remajanya menuntut untuk diakui. Sampai Aliando yang usil itu, mengejeknya telak. Cewek mana yang nggak sedih dibilang jelek?

Sebenarnya, wajah Uul nggak buruk-buruk amat, tapi nggak cakep-cakep banget juga. Sekali dilihat bikin orang noleh lagi. Heran, itu muka apa pantat monyet? Berkeruuut ....

Perbedaan mereka makin mencolok karena kulit putih susu Sheila sangat kontras dengan kulit sawo matang Uul. Tapi yang ini matang banget. Gelap. Serajin apapun pakai lotion, kulit gadis kelas tiga SMP itu, tak kunjung cerah seperti model di iklan produknya. Lagi pula, kegiatan Uul yang kebanyakan di outdoor menjadi indikator utama sehingga kulitnya menjadi sehitam ruangan saat mati lampu tengah malam.

Sheila bukannya tak pernah mengajak Uul nyalon dan perawatan di salon Maminya, minimal creambath-lah. Cuma dia selalu menolak, karena gadis berpenampilan sporty itu beralasan bisa keramas sendiri. Baginya, bebas ketombe dan kutu sudah cukup bersih dan sehat. Masalah rambut bercabang, pangkas aja pake parang!

Tapi ... mungkin tawaran nyalon Sheila tampaknya sekarang harus dipertimbangkan.
*

Saatnya berubah!!!

"Uul cantik nggak, Bang?"

Kakak laki-laki Uul, Bang Zill, melongo demi melihat penampilan adiknya yang ... beda!

"Nggak salah kamu, Dek?"

"Cantik nggaaak?" Uul gemas, ditanya kok balik nanya.

Abangnya yang sudah kuliah semester lima itu, mengamati Uul dari ujung kepala sampai kaki. Rambut sebahu adiknya yang biasa dikuncir asal-asalan kini tergerai, lurus rapi seperti hasil bonding-an.

Lalu itu ... wajah yang lebih cerah karena sapuan bedak, itu sama sekali bukan kebiasaan Uul. Belum lipgloss yang menyulap bibir adik satu-satunya itu pink berkilau, basah seperti baru saja meyantap sepiring gorengan. Dan pakaiannya, meski tidak ekstrim langsung mengenakan rok atau gaun, Uul jelas tampak lebih perempuan dengan celana warna khaki dan kemeja putih yang diselipkan di pinggang. Gaya anak muda terkini.

"Bang! Yeee, malah bengong. Gimana?" desak Uul.

Bang Zill kembali menekuni laptop, menjawab pendek,"Lumayan!"

Uul manyun. Bang Zill payah, cakep banget begini kok, lumayan.

"Pasti diajarin dandan sama Sheila ya, Dek?"

"Ih, nggak, dong. Emang Sheila doang yang bisa cantik?" jawab Uul agak emosi. Lihat, kan, Abangnya sendiri juga menganggap Sheila lebih cantik.

"Oooh, jadi ini dalam rangka menandingi Sheila?" Bang Zill manggut-manggut,"Nggak nyangka ...."

"Nggak nyangka apa?"

"Iya, nggak nyangka Adek Abang selama ini nyimpen stok iri sama sahabatnya."

Uul tertohok. Tapi nggak ada salahnya, kan, berubah ....

"Perubahan kamu ini bentuk kemunduran, Dek," lanjut Bang Zill seolah mendengar suara hati Uul.

"Jujur nih, yaaa, Abang lebih suka kamu pakai celana olah raga kebanggaan kamu itu dari pada celana nge-press kaki begini. Ini lagi ..., baju apaan nerawang-nerawang begini. Mending pake kaos oblong kaya' biasa, deh!"

Mulai, deh, batin Uul. Belakangan ini Bang Zill punya hobi baru. Kerjaannya ceramaaah terus! Bikin Uul bete.

"Kamu tahu Tony Stark?" lanjut Bang Zill.

"Iron Man?" tebak Uul nggak yakin tapi diacungi jempol oleh abangnya.

"Tepat sekali! Kamu tahu nggak kenapa Tony harus berubah jadi Iron Man dulu baru bisa melawan musuh?"

"Biar kuat, lah ...."

"Exactly!" Bang Zill mengangkat telunjuk, persis Mario Teguh saat berkata 'Itu!' di akhir pidatonya.

"Nah, begitu jugalah hendaknya yang Adek Abang lakukan."

Uul garuk-garuk kepala, tak paham. Ditambah tata bahasa Bang Zill yang aneh barusan.

"Uul mesti jadi Iron Man, gitu?"

"Ngaco kamu!" Bang Zill duduk lebih tegak tanda serius. "Tony Stark berubah jadi Iron Man berarti dari tidak kuat menjadi kuat ...."

"Wait, wait!" potong Uul,"Uul paham. Abang mau bilang Uul yang dulu sama yang sekarang berubah dari jelek jadi cantik, kan?" katanya dengan PD full.

"Iya, berubah jadi lebih baik, that's the point, Sweety!"

"So?"

"You're not!"

Uul mulai gerah. Dari tadi dia nggak ada benernya.

Bang Zill merangkul pundak adiknya. "Tony Stark tetaplah Tony Stark walaupun dia berada dalam kostum Iron Man. Ngerti nggak?"

Uul menggeleng. Otaknya yang biasa pinter mendadak lemot begini, ya. Hah, pasti gara-gara Bang Zill kebanyakan bermain analogi. Bikin bingung!

"Jadi diri sendiri! You are you. Uul is Uul, Sheila is Sheila. Nggak mungkin bisa sama biar kamu mati-matian nyama-nyamain juga."

Hmmm. Uul manggut-manggut. Mulai mengerti maksud dan tujuan ocehan abangnya.

"Lagian ngapain kamu capek-capek berubah jadi cantik? Lihat nih, muka kita nggak jauh beda Dek, sama cakepnya!"

Spontan Uul melempar bantal kursi. Huuu, narsis!
*

"U ... ul?" Sheila terperangah. "Uul, kamu ... you look different! You look ... great!"

Uul pasrah tubuhnya diputar-putar Sheila yang pangling dengan penampilannya. Tak banyak memang yang dilakukan Uul. Gadis itu hanya berusaha tampil lebih rapi dan manis sehingga kesan tomboinya berkurang. Kemudian, ada satu tips khusus dari Bang Zill yang berbaik hati memberinya masukan agar tampak menyenangkan.

"Cantik itu nggak perlu repot," ujar Bang Zill,"senyum tulus dari hati udah cukup bikin orang tertarik. Minimal wajah kita terlihat lebih menyenangkan. Nah, kamu udah cantik kok, Dek ..., cuma kurang senyum aja. Mentang-mentang jago karate itu muka diketatin terus kaya' sempak baru!"

Betapa bahagianya Uul saran abangnya itu ternyata manjur.

"Ul, masalah kemarin ..."

"No problem, She. Kejadian itu justru membuka mataku." Uul tersenyum. Tak sabar menunggu seragam baru dan kerudungnya selesai dijahit.

Sheila mengangguk."He'eh, kamu jadi lebih cantik!"

Mereka berpelukan sambil tertawa.

"Eh, berarti sekarang kita bisa nyalon bareng, dong!"

Uul terbahak. Dasar Sheila!

"Siapa, nih. Anak baru, ya?"

Aliando muncul. Uul dan Sheila menyudahi pelukan mereka, menantang si usil.

"Wow!" Aliando berseru, tak berkedip menatap Uul.

"Kenapa? Pangling, ya?" Sheila yang masih merasa bersalah menyerang.

Wajah Aliando sungguh menyebalkan dengan ekspresi melongo dan mata berkedip-kedip pelan. Kepala semi botak itu mengangguk. "Banget! Kamu pasang susuk di mana, Ul?"

Tepat saat Uul mengambil ancang-ancang untuk melayangkan jurus karatenya, si menyebalkan itu kabur menyisakan tawa.

"Sabar ... sabar ...." Sheila menepuk pundak Uul."Orang cantik nggak boleh kasar."

Duh, Sheila ....
***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar