Sheila mengejar Uul, merasa tak enak hati. Dia pasti sudah melukai perasaan sahabatnya sendiri.
"Ul!"
Yang dipanggil malah lari semakin kencang, menghilang di balik pintu toilet sekolah.
"Ul ..., sorry .... Aku nggak ada maksud ngejek kamu."
Di dalam toilet yang bau, air mata Uul berlomba dengan air keran yang
sengaja ia putar habis. Mirip di sinetron-sinetron. Lebay kamu, Ul!
Nggak. Ini bukan lebay. Uul hampir tidak pernah menangis, apalagi untuk
hal-hal sepele seperti ini. Tapi, kali ini gadis itu sedih bukan main.
Hati remajanya terluka. Percaya dirinya runtuh.
"Ul, please ...," mohon Sheila.
"Aku mau sendiri dulu, She."
Sheila maklum. Duh, pasti Uul tersinggung berat. Sahabatnya itu bukan
tipikal cewek cengeng yang gampang menangis. Dan dia sudah membuatnya
berurai air mata. Sungguh, Sheila tak mau kehilangan teman sebaik Uul.
"Kita masih temenan kan, Ul?"
Hanya suara muncratan air keran yang menjawab. Lesu, remaja berambut panjang itu beranjak dari sana.
Di dalam toilet, Uul mengusap air matanya. Bodoh, katanya mengatai diri
sendiri. Buat apa menangis? Bukankah seharusnya ia sudah terbiasa?
Lalu, kenapa ocehan ngasal Aliando begitu menyakitinya?
Kejujuran kadang memang pahit, Ul.
Sebelum ia bersembunyi di sini, Uul dan Sheila sedang bercengkrama di
taman sekolah saat Aliando, cowok langganan dipanggil guru BP, iseng
bertanya sambil lewat.
"Kalian kok bisa klop banget, sih?"
"Karena kami punya banyak kesamaan." Sheila yang menjawab. "Ya, kan, Ul?"
Uul mengangguk mantap.
Aliando mengerutkan kening. "Perbedaan kalian itu mencolok banget,
lho," telunjuknya menuding Sheila dan Uul bergantian,"yang ini terawat,
yang ini perlu dirawat! Huaaahaha!"
Wajah Uul merah padam. Tanduk mini mencuat di ubun-ubun. Terlalu! Ini sih, namanya penghinaan!
Sisa tawa Aliando masih terdengar. Dan Uul makin terluka mendapati
Sheila, menjepit bibir agar tawanya tak ikut pecah. Huh! Kalau saja
bukan di sekolah, Aliando pasti sudah Uul buat bungkam dengan tendangan
karatenya. Tapi, Sheila ... tega!
*
Bagai itik buruk rupa.
Itulah perumpaan Uul bila sedang berdampingan dengan Sheila. Gadis itu
sungguh beruntung tak perlu usaha berlebihan untuk menarik pandangan
mata dan membuat orang berpaling pun enggan. Sahabatnya sejak hari
pertama ospek itu, semulus mobil baru. Nggak heran, Maminya kan, owner
salon and spa. Sheila yang memang udah cantik dari sononya, makin
cemerlang berkat treatment di sana.
Uul sangat sadar semua itu.
Bukan sekali dua kali ia dianggap tak kasat mata karena semua perhatian
orang sepenuhnya buat Sheila. Dia tahu, Sheila yang selalu modis dan
sangat memerhatikan penampilannya, menikmati perhatian dan tatapan kagum
itu.
"Itu bentuk apresiasi atas usaha kita tampil cantik, Ul. Makanya kamu perawatan, dong ...."
Uul selama ini tak pernah ambil pusing. Meski kadang terbersit rasa iri
karena jiwa remajanya menuntut untuk diakui. Sampai Aliando yang usil
itu, mengejeknya telak. Cewek mana yang nggak sedih dibilang jelek?
Sebenarnya, wajah Uul nggak buruk-buruk amat, tapi nggak cakep-cakep
banget juga. Sekali dilihat bikin orang noleh lagi. Heran, itu muka apa
pantat monyet? Berkeruuut ....
Perbedaan mereka makin mencolok
karena kulit putih susu Sheila sangat kontras dengan kulit sawo matang
Uul. Tapi yang ini matang banget. Gelap. Serajin apapun pakai lotion,
kulit gadis kelas tiga SMP itu, tak kunjung cerah seperti model di iklan
produknya. Lagi pula, kegiatan Uul yang kebanyakan di outdoor menjadi
indikator utama sehingga kulitnya menjadi sehitam ruangan saat mati
lampu tengah malam.
Sheila bukannya tak pernah mengajak Uul
nyalon dan perawatan di salon Maminya, minimal creambath-lah. Cuma dia
selalu menolak, karena gadis berpenampilan sporty itu beralasan bisa
keramas sendiri. Baginya, bebas ketombe dan kutu sudah cukup bersih dan
sehat. Masalah rambut bercabang, pangkas aja pake parang!
Tapi ... mungkin tawaran nyalon Sheila tampaknya sekarang harus dipertimbangkan.
*
Saatnya berubah!!!
"Uul cantik nggak, Bang?"
Kakak laki-laki Uul, Bang Zill, melongo demi melihat penampilan adiknya yang ... beda!
"Nggak salah kamu, Dek?"
"Cantik nggaaak?" Uul gemas, ditanya kok balik nanya.
Abangnya yang sudah kuliah semester lima itu, mengamati Uul dari ujung
kepala sampai kaki. Rambut sebahu adiknya yang biasa dikuncir
asal-asalan kini tergerai, lurus rapi seperti hasil bonding-an.
Lalu itu
... wajah yang lebih cerah karena sapuan bedak, itu sama sekali bukan
kebiasaan Uul. Belum lipgloss yang menyulap bibir adik satu-satunya itu
pink berkilau, basah seperti baru saja meyantap sepiring gorengan. Dan
pakaiannya, meski tidak ekstrim langsung mengenakan rok atau gaun, Uul
jelas tampak lebih perempuan dengan celana warna khaki dan kemeja putih
yang diselipkan di pinggang. Gaya anak muda terkini.
"Bang! Yeee, malah bengong. Gimana?" desak Uul.
Bang Zill kembali menekuni laptop, menjawab pendek,"Lumayan!"
Uul manyun. Bang Zill payah, cakep banget begini kok, lumayan.
"Pasti diajarin dandan sama Sheila ya, Dek?"
"Ih, nggak, dong. Emang Sheila doang yang bisa cantik?" jawab Uul agak
emosi. Lihat, kan, Abangnya sendiri juga menganggap Sheila lebih cantik.
"Oooh, jadi ini dalam rangka menandingi Sheila?" Bang Zill manggut-manggut,"Nggak nyangka ...."
"Nggak nyangka apa?"
"Iya, nggak nyangka Adek Abang selama ini nyimpen stok iri sama sahabatnya."
Uul tertohok. Tapi nggak ada salahnya, kan, berubah ....
"Perubahan kamu ini bentuk kemunduran, Dek," lanjut Bang Zill seolah
mendengar suara hati Uul.
"Jujur nih, yaaa, Abang lebih suka kamu pakai
celana olah raga kebanggaan kamu itu dari pada celana nge-press kaki
begini. Ini lagi ..., baju apaan nerawang-nerawang begini. Mending pake
kaos oblong kaya' biasa, deh!"
Mulai, deh, batin Uul. Belakangan ini Bang Zill punya hobi baru. Kerjaannya ceramaaah terus! Bikin Uul bete.
"Kamu tahu Tony Stark?" lanjut Bang Zill.
"Iron Man?" tebak Uul nggak yakin tapi diacungi jempol oleh abangnya.
"Tepat sekali! Kamu tahu nggak kenapa Tony harus berubah jadi Iron Man dulu baru bisa melawan musuh?"
"Biar kuat, lah ...."
"Exactly!" Bang Zill mengangkat telunjuk, persis Mario Teguh saat
berkata 'Itu!' di akhir pidatonya.
"Nah, begitu jugalah hendaknya yang
Adek Abang lakukan."
Uul garuk-garuk kepala, tak paham. Ditambah tata bahasa Bang Zill yang aneh barusan.
"Uul mesti jadi Iron Man, gitu?"
"Ngaco kamu!" Bang Zill duduk lebih tegak tanda serius. "Tony Stark
berubah jadi Iron Man berarti dari tidak kuat menjadi kuat ...."
"Wait, wait!" potong Uul,"Uul paham. Abang mau bilang Uul yang dulu sama
yang sekarang berubah dari jelek jadi cantik, kan?" katanya dengan PD
full.
"Iya, berubah jadi lebih baik, that's the point, Sweety!"
"So?"
"You're not!"
Uul mulai gerah. Dari tadi dia nggak ada benernya.
Bang Zill merangkul pundak adiknya. "Tony Stark tetaplah Tony Stark walaupun dia berada dalam kostum Iron Man. Ngerti nggak?"
Uul menggeleng. Otaknya yang biasa pinter mendadak lemot begini, ya.
Hah, pasti gara-gara Bang Zill kebanyakan bermain analogi. Bikin
bingung!
"Jadi diri sendiri! You are you. Uul is Uul, Sheila is
Sheila. Nggak mungkin bisa sama biar kamu mati-matian nyama-nyamain
juga."
Hmmm. Uul manggut-manggut. Mulai mengerti maksud dan tujuan ocehan abangnya.
"Lagian ngapain kamu capek-capek berubah jadi cantik? Lihat nih, muka kita nggak jauh beda Dek, sama cakepnya!"
Spontan Uul melempar bantal kursi. Huuu, narsis!
*
"U ... ul?" Sheila terperangah. "Uul, kamu ... you look different! You look ... great!"
Uul pasrah tubuhnya diputar-putar Sheila yang pangling dengan
penampilannya. Tak banyak memang yang dilakukan Uul. Gadis itu hanya
berusaha tampil lebih rapi dan manis sehingga kesan tomboinya berkurang.
Kemudian, ada satu tips khusus dari Bang Zill yang berbaik hati
memberinya masukan agar tampak menyenangkan.
"Cantik itu nggak
perlu repot," ujar Bang Zill,"senyum tulus dari hati udah cukup bikin
orang tertarik. Minimal wajah kita terlihat lebih menyenangkan. Nah,
kamu udah cantik kok, Dek ..., cuma kurang senyum aja. Mentang-mentang
jago karate itu muka diketatin terus kaya' sempak baru!"
Betapa bahagianya Uul saran abangnya itu ternyata manjur.
"Ul, masalah kemarin ..."
"No problem, She. Kejadian itu justru membuka mataku." Uul tersenyum.
Tak sabar menunggu seragam baru dan kerudungnya selesai dijahit.
Sheila mengangguk."He'eh, kamu jadi lebih cantik!"
Mereka berpelukan sambil tertawa.
"Eh, berarti sekarang kita bisa nyalon bareng, dong!"
Uul terbahak. Dasar Sheila!
"Siapa, nih. Anak baru, ya?"
Aliando muncul. Uul dan Sheila menyudahi pelukan mereka, menantang si usil.
"Wow!" Aliando berseru, tak berkedip menatap Uul.
"Kenapa? Pangling, ya?" Sheila yang masih merasa bersalah menyerang.
Wajah Aliando sungguh menyebalkan dengan ekspresi melongo dan mata
berkedip-kedip pelan. Kepala semi botak itu mengangguk. "Banget! Kamu
pasang susuk di mana, Ul?"
Tepat saat Uul mengambil ancang-ancang untuk melayangkan jurus karatenya, si menyebalkan itu kabur menyisakan tawa.
"Sabar ... sabar ...." Sheila menepuk pundak Uul."Orang cantik nggak boleh kasar."
Duh, Sheila ....
***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar