Tangan kekarmu, dengan jari kurus dan panjang-panjang, mengangsurkan
kotak berlapis kertas kado warna biru. "Sorry ya, telat tiga hari.
Happy birthday!"
Alisku bertaut. Makin terheran-heran dengan
tingkahmu hari ini. Baru saja aku dikejutkan dengan kehadiranmu di teras
rumahku. Selalu menawan dengan celana cargo. Kulihat jaketmu baru lagi,
melekat gagah di tubuhmu yang tegap berisi. Kebersamaan yang rutin
membuatku tak lagi terpesona, meski kuakui kamu memang sedap bagi
santapan mata para dara.
"Kamu salah obat, ya?" tanyaku sambil menerima hadiah kecil itu.
"Aku nggak minum obat apapun malah." Kamu tertawa.
"Pasti ada maunya, deh." Mataku menyipit curiga.
"Nggak, ada yang ulang tahun ya, dikasih kado, dong. Kamu sih, mikir jelek terus tentang aku, Beb."
"Aneh aja ...," kilahku menimang-nimang kotak itu. Mengira-ngira isinya apa.
"Tapi seneng, kan?" Kamu mencolek bahuku.
Aku bergidik."Geliii. Tumben amat kamu sok sweet begini."
Lagi, tawamu membahana dibawa angin sore.
"Mau ke mana habis dari sini?" tanyaku. Kamu menolak disuguhi minuman.
"Mau ke rumah Intan. Heee," cengirmu.
Aku mencibir. "Ah, tebakanku emang nggak meleset. Pantes rapi banget!"
"Iya, dong. Namanya juga mau ke rumah mertua, Beb." Kamu menarik bagian bahu jaket, berlagak keren.
"Ya udah, shuh ..., pergi sana!" usirku pura-pura marah.
Lalu kita tertawa. Tidak lama, deru motor sport-mu menjauh setelah kamu
memberi isyarat jempol dan kelingking di dekat kuping. Aku mengangguk
sambil melambai.
*
Malam baru bermula. Aku baru saja kembali
dari gerbang komplek, menyambangi gerobak nasi goreng. Antrian pembeli
lebih ramai, menyadarkanku ini malam apa.
Niat ke kamar tadinya
mau menaruh jaket saja. Ketika tiba-tiba ponselku bernyanyi ceria di
atas bantal mungil hadiahmu minggu lalu. Namamu terpampang di sana.
"Vani speaking!" jawabku sambil mengelus perut yang urung diisi.
"Lama banget, Beb ... aku udah nelpon dari tadi." Ha, bisa kubayangkan wajahmu yang merengut lucu.
"Sorry deh, baru dari luar. Lagian nggak biasanya nelpon malam Minggu gini. Nggak ngepelin si Intan?"
"Ngapel!"
Aku terbahak. "Iya, itu maksudnya!"
"Ah, suntuk!"
"Ya udah, kan ada si Widi."
"Bosen!"
Hah, dasar cowok!
"Jadi kalo bosen sama pacar-pacarmu, kamu nyariin aku? Gitu?" kataku sok galak.
"Kamu nggak ngebosenin, sih. Enak lagi digangguin, nggak pernah marah. Males banget tauk, ngerayu cewek ngambek."
Oalah, kamu mulai curhat.
"Maleeees, tapi pacarnya dua!" Andai saja kamu di depanku, pasti sudah kujewer telingamu.
"Kamu nggak keluar, Beb?" tanyamu tak acuh dengan omelanku.
"Nggak ada yang ngajak!" jawabku sekenanya.
"Kalo kapan-kapan aku ajak mau nggak?"
Dalam hati aku tertawa. "Aku mesti mikir dua kali dulu, deh."
"Kok gitu?"
"Iya, dong." Sambil menahan tawa aku melanjutkan," satu, si Intan
marah. Terus aku ditendang pake jurus karatenya. Dua, si Widi
ngamuk-ngamuk. Terus boikot aku di kampus. Kan, serem ...."
"Iya ya, kalo kamu kenapa-napa aku kan, jadi sediiih."
Dan tawa kita menyatu di udara.
Lucu. Itu pendapatku tentang hubungan kita. Aku juga tidak menyangka
bisa berteman dengan pria yang punya bakat main hati dengan banyak
perempuan. Tahukah, kadang itu membuatku menjadi wanita paling jahat
sedunia. Jelas-jelas kaumku yang kamu jadikan permainan.
Namun,
sisi lain hatiku berkata, mungkin cewek-cewek itu saja yang terlalu
bodoh menelan rayuanmu mentah-mentah. Atau barangkali terpedaya oleh
paras senyummu yang memang menawan. Kalau kata si Intan, salah satu
pacarmu, kamu kekasih yang bisa dibanggakan digandeng ke mana saja. Atau
bisa jadi isi kepalamu dan gadis-gadis itu sama, sekadar
bersenang-senang.
Aku merasa sudah cukup cerewet mengingatkanmu
agar tidak macam-macam, apalagi kebablasan. Dan kamu selalu bilang,
cewek-cewek itu tak lebih dari teman jalan dan makan. Juga gengsi.
Katamu, mendapatkan gadis yang dipuja banyak lelaki adalah kebanggaan
tersendiri.
*
Pesan darimu datang setelah dua minggu tak ada kabar. Sudah biasa. Kamu memang muncul dan hilang sesuka hati.
Aku sakit, cuma itu yang terbaca di layar ponselku.
Sejenak aku berpikir, ini pasti trikmu menggangguku. Kamu tahu benar,
aku gampang panik. Lagi pula, tubuh kekarmu itu sudah bolak-balik
naik-turun gunung. Belum serangkaian makanan sehat yang jadi santapanmu
setiap hari. Mana mungkin bisa sakit?
Demi pertemanan, kini aku
di rumahmu. Ibumu yang ramah menyuruhku naik ke atas. Kudapati kamu
sedang melamun di balkon, menatap kosong kemacetan kota sore hari.
"Hei ...," tegurku pelan.
Kamu menoleh tak bersemangat.
Oh, lihat pipi itu. Kenapa kamu jadi begini kurus? Lenganmu juga tampak lebih kecil. Ada apa sebenarnya?
"Baik-baik saja?" tanyaku bersandar di pagar balkon. Melihatmu, mengamati wajah tirus yang tampak kusut itu.
"Ketahuan ..., semuanya terbongkar, Beb."
Kamu memberikan ponselmu. Berderet pesan dari Widi dan Intan memenuhi inbox. Kubaca sekilas dan hampir meledakkan tawa.
Jadi, gara-gara ini kamu jatuh sakit?
Kutatap kamu yang lesu.
Hei, Beb ...
Bertahun-tahun mengenalmu, aku tak pernah menganggapmu playboy seperti
yang orang bilang. Aku paham tabiatmu. Jadi, hentikan tingkah konyolmu
menggaet wanita yang tak kalah konyol di luar sana. Kamu lelaki baik.
Tubuhmu yang mengecil ini buktinya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar