Berisik! Betina-betina berkotek menduduki telur. Petok! Petok!
Bersahutan, tak henti-henti. Istriku, Ay, asyik mengutip jagung dengan
mulutnya.
"Yam ..." panggil Ay.
"Hmmm," jawabku malas.
"Ayolah, betina lain sudah mengeram. Aku bertelur saja belum." Ay memelas.
Kulirik dia. Leher gembung penuh jagung, membuatnya tampak semakin
pendek. Meskipun rakus, aku cinta dia. Namun, belakangan gairahku
lenyap. Bukan karena badan Ay melebar. Aku juga gemuk dan kami memang
diharapkan begitu. Sehat
"Yam!" seru Ay,"Kalau kau tetap tak mau, kita berakhir di penggorengan!"
Aku mematuk dinding kandang, kesal. Baiklah, baiklah ..., akan
kulakukan. Ay berkotek ceria. Kutindih dia, lupa sesaat dengan bara di
dada.
***
Saat dia datang, aku takjub sekaligus iri.
Tiba-tiba saja dunia terasa tidak adil. Hey, kami sama-sama jantan!
Tapi, mengapa dia lebih rupawan? Perawakannya tinggi tegap. Bulu hitam,
merah, kuning, hijau, dan ungu bersilangan sempurna. Belum ekor panjang
menjuntai, senada dengan langkah berayun gemulai. Jengger merah menyala
bertengger bak mahkota. Gagah, segagah namanya. Jago.
Sedangkan
aku? Hah, tak perlu pembahasan panjang lebar. Aku tak lebih menarik dari
onggokan tahi ayam betina yang tengah mengeram. Bau!
"Jangan
membandingkan diri." Ay mematuk-matuk telur penuh sayang. Ya, aku sudah
membuatnya bertelur seperti yang dia minta. Sebentar lagi, Mang Hidin
akan memungutnya.
"Aku juga jantan!" dengusku.
"Oh, yaaa," Ay tersenyum, "Pejantan tangguh, telur ini buktinya."
Kupatuk punggung yang tak gatal. Ay tidak paham. Pejantan tangguh itu
Si Jago. Kudengar dia baru menang KO atas ayam Mang Dudung. Aku bisa
membayangkan betapa perkasanya ia di arena sabung ayam.
Nah,
aku? Bila kuplesetkan lagu Cherry Belle favorit Mila, anak Mang Hidin,
liriknya menjadi "Kamu tangguh, tangguh dari mananya ...".
Aku ini pejantan cemen. Terkurung sepanjang hari bersama istri. Tugasku cuma satu, buatlah Ay bertelur. Beginilah nasib menjadi induk ayam petelur.
"Yam, sudahlah,” tegur Ay.
Aku bergeming. Menatap iri Jago dielus-elus Mang Hidin. “Jagoan! Huebat!” pujinya.
"Yam, setiap kita ada lebih dan kurangnya. Kau tak akan bisa menjadi
Jago, Jago juga tidak mungkin menjadi kau. Seperti petani, kita punya
lahan sendiri-sendiri."
Mang Dudung datang, turut memuji-muji
kehebatan Jago. Huh, makin panas saja hatiku. Sebuah salam khidmat
terdengar. Dua orang penggila ayam itu kelabakan. Kulihat Ustad Dana
serius bicara. Mang Hidin dan Mang Dudung terpekur mengangguk-angguk.
Ay menyenggolku. "Kau dengar? Kelebihan Jago ternyata membawa dosa buat Mang Hidin."
Aku jadi malu sendiri. Kupatuk paruh Ay mesra. Lagi pula, apa gunanya
jadi pejantan tangguh jika membawa keburukan. Lebih baik begini,
diliputi kebaikan walaupun jadi pejantan cemen.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar