Minggu, 23 November 2014

Pejantan Cemen

Berisik! Betina-betina berkotek menduduki telur. Petok! Petok! Bersahutan, tak henti-henti. Istriku, Ay, asyik mengutip jagung dengan mulutnya.

"Yam ..." panggil Ay.

"Hmmm," jawabku malas.

"Ayolah, betina lain sudah mengeram. Aku bertelur saja belum." Ay memelas.

Kulirik dia. Leher gembung penuh jagung, membuatnya tampak semakin pendek. Meskipun rakus, aku cinta dia. Namun, belakangan gairahku lenyap. Bukan karena badan Ay melebar. Aku juga gemuk dan kami memang diharapkan begitu. Sehat

"Yam!" seru Ay,"Kalau kau tetap tak mau, kita berakhir di penggorengan!"

Aku mematuk dinding kandang, kesal. Baiklah, baiklah ..., akan kulakukan. Ay berkotek ceria. Kutindih dia, lupa sesaat dengan bara di dada.
***

Saat dia datang, aku takjub sekaligus iri. Tiba-tiba saja dunia terasa tidak adil. Hey, kami sama-sama jantan! Tapi, mengapa dia lebih rupawan? Perawakannya tinggi tegap. Bulu hitam, merah, kuning, hijau, dan ungu bersilangan sempurna. Belum ekor panjang menjuntai, senada dengan langkah berayun gemulai. Jengger merah menyala bertengger bak mahkota. Gagah, segagah namanya. Jago.

Sedangkan aku? Hah, tak perlu pembahasan panjang lebar. Aku tak lebih menarik dari onggokan tahi ayam betina yang tengah mengeram. Bau!

"Jangan membandingkan diri." Ay mematuk-matuk telur penuh sayang. Ya, aku sudah membuatnya bertelur seperti yang dia minta. Sebentar lagi, Mang Hidin akan memungutnya.

"Aku juga jantan!" dengusku.

"Oh, yaaa," Ay tersenyum, "Pejantan tangguh, telur ini buktinya."

Kupatuk punggung yang tak gatal. Ay tidak paham. Pejantan tangguh itu Si Jago. Kudengar dia baru menang KO atas ayam Mang Dudung. Aku bisa membayangkan betapa perkasanya ia di arena sabung ayam.

Nah, aku? Bila kuplesetkan lagu Cherry Belle favorit Mila, anak Mang Hidin, liriknya menjadi "Kamu tangguh, tangguh dari mananya ...".

Aku ini pejantan cemen. Terkurung sepanjang hari bersama istri. Tugasku cuma satu, buatlah Ay bertelur. Beginilah nasib menjadi induk ayam petelur.

"Yam, sudahlah,” tegur Ay.

Aku bergeming. Menatap iri Jago dielus-elus Mang Hidin. “Jagoan! Huebat!” pujinya.

"Yam, setiap kita ada lebih dan kurangnya. Kau tak akan bisa menjadi Jago, Jago juga tidak mungkin menjadi kau. Seperti petani, kita punya lahan sendiri-sendiri."

Mang Dudung datang, turut memuji-muji kehebatan Jago. Huh, makin panas saja hatiku. Sebuah salam khidmat terdengar. Dua orang penggila ayam itu kelabakan. Kulihat Ustad Dana serius bicara. Mang Hidin dan Mang Dudung terpekur mengangguk-angguk.

Ay menyenggolku. "Kau dengar? Kelebihan Jago ternyata membawa dosa buat Mang Hidin."

Aku jadi malu sendiri. Kupatuk paruh Ay mesra. Lagi pula, apa gunanya jadi pejantan tangguh jika membawa keburukan. Lebih baik begini, diliputi kebaikan walaupun jadi pejantan cemen.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar