Minggu, 23 November 2014

A Letter of Tauge

Penghujung September 2014,

Bang,
Adik ingat waktu praktikum Biologi zaman kita sekolah dulu, Adik pernah disuruh guru menanam biji kacang hijau. Sebelum disemai, bijinya Adik rendam biar nampak bibit mana yang bagus untuk ditanam, yaitu biji yang tenggelam. Yang mengapung Adik berikan kepada ayam.


Lalu Adik siapkan kapas lembab dalam mangkuk. Disemailah biji kacang hijau itu di atasnya. Baru sehari Bang, sudah keluar akar mungil. Besoknya, ia bertunas. Kecil, tapi tampak kokoh mencuat ke atas. Akarnya juga makin kuat menempeli kapas.

Seminggu berselang, tunasnya makin panjang. Putih bersih menjulang melampaui tinggi mangkuk. Ada pucuk daun muda di ujungnya. Abang tahu kan, itu namanya taoge.

Namun, waktu itu Adik lupa memanennya. Alhasil, taoge itu menua. Batangnya menghijau, daunnya melebar dan banyak. Dibuat sayur pun pasti sudah tidak enak. Maka semua Adik buang.

Bang,
Adik tulis surat ini karena cinta Adik pada Abang. Bukan bermaksud menggurui, karena nyatanya Adiklah yang banyak belajar dari Abang.

Tapi, boleh kan, Bang, Adik yang bodoh ini mengingatkan orang terkasihnya?

Bagi Adik, cinta itu bukan sekadar alasan bersatunya sepasang insan. Cinta adalah alasan terindah menggiring teman hidup menuju kebaikan.

Maka, izinkanlah Adik kali ini menggenggam jemari Abang agar kita melangkah bersama ke arah cahaya terang.

Abang sayang, pautan hati Adik ...

Dari sekian banyak pemuda, Adik menjatuhkan hati pada Abang. Ibarat biji kacang hijau yang direndam, Abanglah satu-satunya yang tenggelam.

Cinta Adik bertambah-tambah, karena Abang kian hari kian gagah. Biji kacang hijau pilihan Adik, sudah berkecambah. Tumbuh cepat dengan susah payah. Sungguh hati Adik bangga, punya kekasih yang bekerja ikhlas sepenuh jiwa raga.

Bang,
Adik tak mau kesalahan yang dulu terulang. Akibat kealpaan sendiri, Adik gagal memanen taoge.
Maka, dalam senyap Adik tak putus memantau dan berdoa buat Abang. Agar Abang tetap menjadi taoge yang batangnya putih dan berpucuk sepasang daun muda. Karena saat itulah ia punya banyak manfaat. Dan dengan rendah hati merelakan dirinya dicabut sebelum batangnya mengeras.

Abang sayaaang,
Abang jangan marah ya, Adik samakan dengan taoge. Biarpun Adik tak suka dengan sayur yang satu itu, tapi Adik selalu cinta sama Abang ....


Peluk cium,
Adik abang

Tidak ada komentar:

Posting Komentar