Minggu, 23 November 2014

Saguna

Aku terkesiap. Menambah fokus pada sepasang manusia yang baru saja menghuni meja nomor 29. Sebenarnya mataku lebih tertuju kepada yang perempuan. Dari ruangan khusus perokok ini aku bisa mengenalinya. Cara ia berjalan. Senyumnya, tawanya. Tidak salah lagi. Saguna. Bersama siapa?

Hatiku seperti dicubit. Cemburu? Ah, lucu menyebutnya demikian. Tapi tetap aku harus selidiki lelaki gondrong yang tengah mencuri-curi kesempatan memegang tangannya. Awas, kau!
*

Aku menurunkan kaca mobil. Memandang dengan leluasa rumah putih itu. Masih seperti dulu. Tamannya semarak. Bunga warna-warni ramai di sana. Ibu Saguna tetap rajin berkebun rupanya. Dulu aku dan Saguna kerap bercengkrama di ayunan bundar di tengah taman.

Deru sepeda motor mengalihkanku. Kendaraan bermesin itu masuk ke halaman rumah yang sedari tadi kuamati. Pengendaranya membuka helm, turun. Pintu rumah putih terbuka. Aku buru-buru memakai kaca mata hitam. Bukan karena pantulan kaca spion motor sport itu yang tepat ke mataku. Lebih kepada Saguna yang muncul dari balik pintu.

Aku memutuskan mencari tahu semenjak melihat Saguna tempo hari. Dugaanku tidak meleset. Pastilah ada apa-apanya antara Saguna dengan Si Gondrong. Lihat, Saguna tampak gembira menyambutnya. Bisa kutebak Si Gondrong pasti juga riang. Seriang kunciran rambutnya sekarang.

Jangan berpelukan! Aku menjerit dalam hati. Tinjuku terkepal. Jantung ini kebat-kebit ketika tangan Si Gondrong terbuka lebar. Dan jantungku kembali berdetak normal karena Saguna justru melipat tangannya di dada. Hm, semoga saja Si Gondrong paham. Tak usah dan tak boleh ada pelukan. Aku mengharamkan!

Dua sejoli itu menghilang di balik pintu. Jantungku kembali berpacu. Komat-kamit berdoa. Semoga saja Ibu Saguna juga ada di dalam. Bayangan Si Gondrong menggerayangi Saguna kucoba buang jauh-jauh. Ya Allah, lindungi Sagunaku!
*

Aku memang sudah lama hilang dari kehidupan Saguna. Tapi aku tidak pernah benar-benar pergi. Aku mengikuti setiap perjalanan hidup Saguna dari sudut-sudut tak terlihat.

"Dia bukan milikmu lagi." Asap rokok Suryo mengepul.

Aku menghirup cappucino. "Enak saja kau bicara. Dia tetap Sagunaku."

Suryo terkekeh. "Buktinya dia tidak bersamamu lagi, kan? Sudahlah, tak usah kau urusi."

Aku tak memperhatikan ocehan Suryo. Pintu kaca kafe terbuka. Saguna dan Si Gondrong! Baik, aku mendapat satu kesimpulan. Kafe ini sudah menjadi tempat favorit mereka. Ini keempat kalinya mereka ke mari seminggu terakhir. Aku menyambangi kafe milik Suryo ini setiap hari.

Nanar kupandangi Saguna. Penampilannya berbeda dari biasa. Celana ketat hitam dipadu kemeja merah transparan diselipkan di pinggang. Rambut lurusnya tergerai menggoda.

"Wah, dia memang sungguh gadis yang menarik," Suryo berdecak, "Sepertinya aku menemukan mangsa baru."

Dengar? Suryo yang mata keranjang saja menilai Saguna di atas rata-rata. Aku tidak pernah meragukan penilainya tentang wanita. Dia ahlinya. Namun, aku tak perlu khawatir Suryo akan melahap Saguna. Bejat-bejat begitu dia bukan pengkhianat teman.

Yang kutakutkan justru diri Saguna. Oh, Sayang. Mana rok panjang dan kemeja longgar yang sering kau pakai dulu. Mana jalinan rambut berpita merah yang kusuka itu? Sungguh kau jauh lebih cantik begitu. Pintar sekali Si Gondrong itu mengubahmu.

Tak sadar aku meninju meja. Geram. Mata Si Gondrong liar bermain. Melahap pemandangan cantik. Pandangan itu, tidak sopan! Aku merutuk. Ingin sekali kuselubungi Saguna dengan gorden. Hatiku menggelegak. Rahangku ngilu akibat geraham beradu.Aku bangun.

"Tenang, Kawan. Mereka hanya saling tatap." Suryo menahanku.
*

Kali ini aku benar-benar tidak tahan lagi. Hatiku tidak lagi sekedar menggelegak. Gelembung-gelembung besar berkejaran ke permukaan. Rongganya tidak akan muat lagi menampung. Ibarat periuk penuh air dijerang dengan api. Gelembung-gelembung tanda air mendidih menolak tutup panci. Tumpah ruahlah air didalamnya bila api tak jua dipadamkan.

Dan Si Gondrong itu memantikkan api lebih besar. Klep hatiku jebol sudah. Masih dari sudut khusus perokok di kafe Suryo. Bola mataku ingin loncat dari cangkangnya. Tangan Si Gondrong melingkar di pinggang Saguna.

Namun, aku kembali layu. Oh, Saguna sayang. Pakaian apa gerangan yang kau kenakan. Semakin banyak saja anggota badanmu yang kelihatan. Bajumu tak berlengan. Rok pun kurang bahan. Air mataku menggenang.

"Dia makin seksi, ya!" Suryo memandangi Saguna lekat dari ujung rambut sampai kaki.
"Berhenti memandangnya begitu kalau kau tak mau jadi musuhku," geramku.

Suryo bersiul nakal. "Perubahannya drastis." Ia berkomentar.

Dalam hati aku mengamininya. Drastis. Ekstrim sekali. Hilang sudah Saguna yang anggun lugu. Berganti Saguna yang... Ah, aku benci mengatakannya.

Pandanganku tetap awas pada meja tempat Saguna dan Si Gondrong beradu pandang. Berungkali aku menggeram. Pegang tangan, elus-elus dan cium-cium tampaknya sudah jadi rutinitas mereka. Sudah biasa. Tangan Si Gondrong bahkan kerap mampir di paha Saguna yang telanjang. Kurang ajar!

Aku memperhatikan setiap gerak-gerik mereka. Terutama Si Gondrong itu. Hatiku sudah layaknya bom waktu. Tinggal menunggu detik terakhir sebelum benar-benar meledak. Saguna tengah menggelendot manja di dada bidang Si Gondrong. Aku hanya bisa melihat punggungnya sekarang. Wajah Saguna tenggelam di pelukan lelaki biadab itu.

Aku tidak mungkin salah lihat. Mataku jelas-jelas melototi mereka tanpa jeda. Si Gondrong itu! Ah, benar-benar keterlaluan. Bajingan tengik. Busuk!

"Aku tidak bisa diam saja, Sur. Sagunaku terancam!" Aku panik di tengah emosiku yang memuncak.

"Jangan di sini, Kawan. Kita awasi saja terus. Terlalu beresiko melabraknya sekarang." Suryo tampak tenang meski raut geram juga tergambar di wajahnya.

"Lalu kapan? Tunggu sampai dia melumat Saguna?" Aku tidak sabar melihat ketenangannya.

Aku sungguh khawatir. Saguna terkulai. Si Gondrong memeluknya seolah sedang menidurkan bayi.

"Kau ingin dibenci Saguna seumur hidup karena kau menuduh pacarnya bajingan?" dengus Suryo.

Baiklah. Aku turuti dia. Ada benarnya juga apa yang dia bilang. Meski pun aku sendiri ragu apakah Saguna peduli pada perhatianku. Sudah lama sekali kami tak bertemu. Masa lalu kami yang buruk menghantuiku. Akankah Saguna bersedia lagi menerimaku?

"Sekarang!" Suryo menarik tanganku keluar kafe. Kami menyelinap dari pintu belakang. Aku sempat melihat Saguna dipapah. Suryo meloncat ke dalam mobil. Aku mengikuti. Segera tancap gas mengejar mobil Si Gondrong.

"Ngebut lagi, Sur!" Aku berkeringat. Padahal mobil Suryo dingin oleh AC.

Teman karibku itu lincah di belakang kemudi. Tidak peduli sumpah serapah pemakai jalan yang disalipnya. Jeep hitam Si Gondrong menikung ke jalan sepi. Suryo berbelok tajam. Menginjak rem kuat-kuat. Si Gondrong berhasil kami hadang.

Aku melompat keluar mobil. Si Gondrong sudah di depan mobilnya, tampak marah sekali. "Apa mau kalian?" raungnya. Tinjunya terkepal.

Dua lawan satu. Aku mengitung kekuatan. Meski pun bukan atlet bela diri, aku dan Suryo dulunya jago berkelahi. Masih bisalah kupraktekkan lagi.

"Biar aku saja, Kawan! Kau urus Saguna." Suryo memasang kuda-kuda.

Si Gondrong mengeluarkan sebilah pisau. Suryo tertawa. Aku urung menghampiri Saguna. "Pengecut!"

Si Gondrong menyerbu lebih dulu. Pisau mengancam dalam genggamannya. Namun, aku bisa membaca, gerakannya kaku. Dia bukanlah lawan yang berat. Gentar tertera di wajahnya. Suryo menangkis serangan sambil tertawa-tawa. Oke. Tampaknya ia bisa kutinggal sendirian. Akan kuurus Saguna. Tenang Sayang, kau sudah aman.

Aargh! Aku lengah di tengah lamunan. Si Gondrong mencuri kesempatan. Pisau itu kini menancap di perutku. Suryo berteriak, memburu biadab itu. Mudah saja. Anak itu berdiri kaku setelah menusukku.
Sirine terdengar mendekat. Polisi? Siapa pula yang melapor. Aku sudah tersungkur bersimbah darah.

"Bertahan, Kawan!" teriak Suryo dalam kesibukannya menahan Si Gondrong yang berontak. Pucat pasi dia.

Seketika sekitarku sibuk. Kurasakan tubuhku diangkat. Lalu semuanya gelap.
*

Aku terjaga dalam ruangan serba putih. Suryo yang kulihat pertama kali. Rambutnya tetap klimis meski wajahnya menyiratkan kelelahan. Ia menunjuk ke sisi seberang tempat tidur di mana ia duduk. Aku menoleh. Terperanjat sekaligus bahagia. Sagunaku, cintaku, permata hatiku. Ia begitu dekat kini. Sagunaku yang dulu. Yang anggun lugu dengan rok panjang dan kemeja longgar. Pita merah yang kusuka juga mempercantik jalinan rambut panjangnya. Aku tersenyum.

Dengan air mata berderai Saguna memelukku. "Aku sudah dengar semuanya. Terima kasih sudah menjagaku, Papa..."
****

Tidak ada komentar:

Posting Komentar