Minggu, 23 November 2014

Lamaran Ketujuhbelas

Lelaki itu berdiri di sana, di bawah remang cahaya bulan purnama. Setelan putih-putihnya berkilau menyilaukan. Matanya sayu menatapku sendu. Jarak kami tidak jauh. Bisa kulihat ia tersenyum kemudian menggeleng-geleng sebelum sosoknya perlahan lenyap oleh sekumpulan asap yang datang entah dari mana. Aku terpaku, tidak berusaha mencegahnya pergi. Namun, seperti ada aliran energi yang membuatku yakin ia pasti kembali.

Rahasia apa yang sedang Kau coba tunjukkan padaku, ya Allah.
*

Ayah menjawab dengan sangat hati-hati. Merangkai kata-kata agar terdengar manis. Aku tahu, lidahnya berat. Mukanya juga sudah tebal karena harus mengatakan hal yang sama berulang-ulang.

“Saya minta maaf, Pak Wijaya. Berdasarkan jawaban dari Fatma, saya tidak bisa menerima pinangan anak Bapak.”

Pak Wijaya terlengak. Terang saja dia kaget. Ini sudah kedua kalinya dia datang, memintaku jadi menantu. Yang pertama sepuluh tahun lalu.

“Ini benar-benar pelecehan!” Pengusaha tambang batu bara itu menggebrak meja. “Kalau bukan anak saya yang meminta, saya juga tidak mau merendahkan diri datang ke mari. Saya tidak biasa ditolak! Dan keluarga Pak Harun benar-benar sudah meremehkan saya dengan penolakan ini. Dua kali!”

Ayah salah tingkah, melirihkan maaf berkali-kali. Di balik dinding aku memeluk Ibu. Sungguh tak tega melihat Ayah dibentak-bentak sedemikian rupa.

“Apa kurangnya anak saya?” Kemarahannya belum hilang. “Dulu saya bisa maklum, mungkin Fatma belum siap menikah. Sekarang apa lagi? Anak saya memang sudah duda, tapi masih pantaslah untuk Fatma yang sudah berumur. Perawan tua!”

Oh, kata-kata terakhir itu menikam tepat di ulu hatiku. Ibu merangkul lebih erat. Tidak bisa kubayangkan pilunya hati Ayah yang berhadapan langsung dengan Pak Wijaya. Ya Allah, kuatkan kami ....

Pertemuan malam itu ditutup dengan ancaman. Pak Wijaya akan berhenti menjadi investor di restoran Ayah. Lelaki nomor satu dalam hidupku itu diam saja. Ini bukan pertama kalinya ia mendapat kecaman serupa.
*

“Boleh Abang tahu alasan sebenarnya, Dik?”

Fadli, anak rekan bisnis Ayah, menanyaiku penuh minat saat mengecek salah satu cabang restoran. Ia duda satu anak yang sudah kuanggap saudara sendiri. Bagi Ayah, Fadli sudah seperti anak laki-laki tertuanya. Orang tua kami bersahabat sejak lama.

Aku memutar-mutar sedotan. Sebagai orang dekat, Fadli pasti tahu semuanya dari Ayah alasan penolakanku pada semua pria yang meminang.

“Fatma cuma nggak mau durhaka sama Allah, Bang. Fatma minta petunjuk dan Allah sudah berikan itu. Mana mungkin Fatma langgar?”

“Apa bukan karena bayang-bayang masa lalu?” Fadli menggerak-gerakkan alisnya, menggodaku.

“Apa?” tanyaku tak paham.

“Yaaah, Abang cuma berpikir jawabanmu selama ini dipengaruhi oleh sesuatu yang kamu simpan rapat sendiri. Kamu sedang menanti seseorang, Dik?”

Aku tertawa hambar. Menunggu tanpa kepastian sekian lama? Oh, aku bukan wanita bodoh yang rela menghabiskan umur untuk mendamba pangeran yang belum tentu datang, sementara pemuda yang sama baiknya mengejar-ngejar.

 Mungkin aku pernah berharap pada seseorang, tapi itu bukan penghalang untuk menerima orang lain jika Allah menakdirkan begitu.

“Apa Fatma tampak sebodoh itu, Bang?” Kuputuskan balik bertanya.

Fadli tersenyum. “Abang cuma penasaran. Sungguh ironis, saat gadis lain merana karena tak satu pun lelaki yang datang, kamu malah berkali-kali menolak lamaran dari pangeran.”

Aku terdiam. Ya, ironis. Pinangan Pak Wijaya semalam adalah yang kelimabelas kali. Lamaran yang akhirnya datang lagi setelah dua tahun rumah kami tidak kedatangan tamu dengan maksud yang sama.

Barang kali orang-orang mulai bosan atau tidak mau menanggung kecewa ditolak putri Pak Harun yang katanya sombong ini. Lamaran pemilik pesantren saja tidak diterima!

Namun, bisa apa aku? Setiap diskusiku dengan Yang Maha Pemberi Petunjuk, selalu berbuah mimpi yang sama. Tentang lelaki bersetelan putih yang tersenyum di bawah remang cahaya bulan purnama. Menggeleng-geleng sebelum hilang ditelan asap.

Dan lelaki itu bukan salah satu dari pemuda yang datang meminangku.
*

Kesehatan Ayah memburuk. Sudah seminggu aku dan Ibu bolak-balik rumah sakit. Anehnya, tidak ada penyakit parah yang dideritanya. Banyak pikiran, kata dokter. Pihak rumah sakit hanya menyarankan agar pihak keluarga memenuhi sesuatu yang diminta Ayah. Karena suasana hati yang buruk juga berpengaruh terhadap kondisi kesehatan, apalagi sudah berumur seperti Ayah.

Aku menatap lantai rumah sakit yang beku. Gelisah melanda. Restoran tidak ada masalah. Ayah pasti memikirkan .... Ah, aku merasa disudutkan oleh keadaan.

”Ayah pasti baik-baik saja, Dik.” Fadli duduk sepuluh jengkal di sampingku.

Belakangan duda tampan ini juga ikut repot menunggui Ayah yang justru lebih senang ditemani olehnya. Seperti diperhatikan anak menantu, begitu seloroh Ayah.

“Abang pasti tahu apa yang dipikirkan Ayah, kan?” Mataku tetap tak lepas dari kotak-kotak lantai putih.

“Mungkin sudah saatnya kamu membuka hati, Dik. Pernah tidak terlintas, bisa jadi kamu salah menafsirkan petunjuk dari Allah.”

Kepalaku yang dibalut jilbab ungu pupus otomatis terangkat. Menatap Fadli lekat. “Maksud Abang?”

“Allah mungkin sudah berkata “Ya!”, namun kamu mengartikan sebaliknya. Entah kenapa, perasaan Abang berkata kamu memang dipengaruhi seseorang dari masa lalu. Lupakan, Dik, buka hatimu. Sudah cukup lama kamu menyiksa diri dalam bayang-bayang semu.”

Bibirku bergerak-gerak, tapi tak tahu ingin berucap apa. Fadli mengangguk meyakinkan. Ya Allah, jangan-jangan benar. Adakah aku selama ini terlalu terbawa perasaan?

Tanpa pamit, kutinggalkan Fadli di lorong rumah sakit. Aku ingin sendirian!
*

Lelaki itu berdiri di sana, di bawah remang cahaya bulan purnama. Setelan putih-putihnya berkilau menyilaukan. Matanya sayu menatapku sendu. Jarak kami tidak jauh. Bisa kulihat ia tersenyum kemudian menggeleng-geleng sebelum sosoknya perlahan lenyap oleh sekumpulan asap yang datang entah dari mana. Aku terpaku, tidak berusaha mencegahnya pergi. Namun, seperti ada aliran energi yang membuatku yakin ia pasti kembali.

Mimpi itu lagi. Kuusap wajah yang masih berbalut mukena. Tertidur di atas sajadah setelah istikharah. Ya Allah, kenapa masih wajahnya yang Kau hadirkan?

Otakku kembali memutar memori lama saat sedang aktif-aktifnya di pengajian kampus. Adalah Hashbi, ikhwan salih penuh kharisma dambaan hampir semua akhwat. Namun, aku yakin saat itu kekagumanku tidak hanya sepihak. Berkali-kali aku menangkap basah pemuda itu sedang memandangiku dari kejauhan. Atau buru-buru menunduk jika ketahuan melirikku lewat bulu matanya yang lebat di balik hijab.

Dan betapa mengejutkan. Saat harapanku melambung ke awan, Hashbi melayangkan lamaran setelah sarjana S1-nya diresmikan. Bukan ke rumahku. Kabar yang beredar ia diamanahi kyainya di pesantren untuk menikahi putrinya.

Mimpi-mimpi yang sudah kubangun hancur seketika. Di saat yang bersamaan, lamaran juga deras berdatangan. Aku memilih lari ke luar negeri. Menenggelamkan diri dalam timbunan buku dan kesibukan kampus dengan harapan bayang-bayang Hashbi tidak lagi menghantui.

Namun, sekuat apapun aku berusaha, kelebat bayangnya semakin jelas dan nyata. Bahkan makin mencengkeram jiwa saat aku benar-benar ingin terlepas darinya untuk mencoba memulai hidup baru dengan orang lain.

Selalu. Setelah diskusiku dengan-Nya, ia hadir dengan senyum menawan yang dulu membuatku sanggup membuka mata semalaman. Meski aku kebingungan dan merasa berdosa bersamaan, bagaimana mungkin aku memimpikan pemuda yang sudah berstatus suami orang. Pemuda dengan setelan putih di bawah remang bulan purnama itu dia, Hashbi.

Ini harus dihentikan. Mimpi itu bukan berarti Hashbi akan datang padaku. Gelengannya bisa jadi perintah agar aku berhenti berharap. Dan bukankah dalam mimpi ia lenyap ditelan asap?

Setelah menelepon manager restoran bahwa aku batal berkunjung, kutancap Vios menuju rumah sakit. Memang masih terlalu pagi. Aku tak mau menunda, khawatir hati yang sudah mantap ini kembali goyah. Karena kemantapanku masih serupa donat, bulat tapi bolong di tengah.

Kudapati Ayah masih terlelap. Di sampingnya, Fadli tertidur bertumpukan lengan. Nanti saja. Pintu kembali kututup. Beranjak ke cafetaria rumah sakit. Segelas kopi panas semoga bisa menenangkan gemuruh di hati.

Ya Allah, ampuni hamba bila langkah ini keliru. Permudahlah bila benar, dan cegahlah bila salah, ya Rabb ....

Terngiang lagi lirih bisik Ayah padaku sore kemarin. “Kali ini Ayah mohon jangan kecewakan orang tua ini lagi, Nak. Ayah akan sangat gembira bila kamu mau menerima Fadli.”

Ya, akhirnya penolakan akibat mimpi ini harus berakhir pada lamaran keenambelas. Fadli sendiri yang memintaku lewat Ayah.

“Tante Fatma ....”

Sebuah panggilan menyadarkanku dari lamunan. Seorang anak perempuan sepuluh tahunan menghampiri mejaku.

Tante katanya? Oh, oke. Usiaku memang tak lagi pantas dipanggil kakak.

“Tante Fatma, kan?” ulangnya meyakinkan. Senyumnya sekilas mengingatkan pada ....

“Ya, apa kita pernah ketemu?” tanyaku balas tersenyum. Wajah anak ini, melihatnya sungguh menentramkan hati. Kupinta ia duduk bersama.

“Nggak, tapi Nay kenal Tante,” jawabnya riang.

“Oh, ya?” Aku menatapnya penuh minat.

“Dari Abi.” Mata gadis itu ceria saat bercerita. "Di rumah banyak foto Tante, lho! Nay paling suka tahi lalat Tante.”

Ha, apa aku sepopuler itu? Narsisku kambuh. Tanganku meraba titik hitam di hidung. Memang sangat menonjol dan tak semua orang punya. Jeli sekali anak kecil ini.

Lalu mengalirlah kisah dari bibir mungilnya. Aku menarik kesimpulan, orang tua anak kecil ini pastilah salah satu temanku di kampus dulu.

“Ibu kamu mana? Kamu sama siapa ke sini?” tanyaku makin penasaran.

“Nay sama Abi. Umi ... nggak ada, kata Abi dipanggil Allah.”

Senyumnya yang khas agak memudar. Kuusap punggung tangannya. Entahlah, seperti ada magnet yang membuat kami terasa begitu dekat padahal baru saja bersua.

“Tante mau ketemu Abi nggak? Pasti Abi seneng, deh!”

Tiba-tiba saja tanganku sudah ditarik menuju ruang VVIP. Tepat di depan kamar Ayah dirawat tarikan itu terlepas. Fadli kebetulan baru saja keluar. Ia tersenyum kikuk. Membuatku teringat akan lamarannya.

“Abi!”

Nay, gadis kecil itu berseru sambil membuka pintu di depan kamar Ayah. Refleks aku menoleh. Di atas pembaringan seorang lelaki berpakaian serba putih, seragam pasien rumah sakit, terkejut. Tampak dari matanya yang membulat saat melihatku.

Momen ini membuatku percaya, bahwa waktu terasa berhenti itu benar-benar bisa terjadi. Telingaku berdenging tak bisa mendengar selain suara angin. Aku terpaku.

Ya Allah, apakah rahasia itu sudah seutuhnya terbuka? Inikah yang ingin Kau tunjukkan padaku?

Tangan yang bebas dari selang infus terangkat, memberi kode agar mendekat. Nay membimbingku masuk.

Hening. Aku tak mampu menegakkan kepala. Setelah sekian lama menghantui lewat mimpi, kini Hashbi hadir dalam wujud nyata di depanku.

"Suamimu kenapa tidak diajak masuk?" Ia menunjuk pintu.

Aku berbalik. Ah, ternyata Fadli masih di sana. Ya Allah, harusnya aku sedang bersama dia dan menjawab lamarannya.

Bimbang menderaku. Kemantapan hati kini bak donat tinggal separuh.

Di ambang pintu Fadli tersenyum. Dua jempolnya teracung. Bibirnya bergerak mengatakan "It's OK" tanpa suara.

Aku memandangnya tak mengerti. Fadli mengangguk, kemudian berlalu.

Kembali tubuhku menghadap tempat tidur tempat Hashbi berbaring. Terbata aku menjawab,"A-aku ... aku belum menikah ...."

"Oh ...." Hanya itu tanggapan lelaki yang pesonanya masih membiusku ini. Kekakuan mewarnai suasana.

"Abi, Tante Fatma cantik ya, Bi ... kayak Umi!" celetukan polos Nay sukses membuatku salah tingkah.

Mata Hashbi menikam jantungku meski hanya sesaat pandangan kami beradu. Wajah putihnya juga memerah.

Hashbi meraih tangan mungil Nay dalam genggaman kemudian berkata,"Coba Nay tanya sama Tante Fatma, mau nggak jadi Umi barunya Nay?"

Oh, pasti telingaku belum kembali normal. Aku tidak salah dengar, kan?

Tangan Nay yang lain mencengkeram jariku lembut. Kami bertiga bergandengan. Gadis kecil itu mendongak memandangku. Matanya bulat ceria. Lalu keluarlah tanya itu.

"Tante Fatma mau nggak jadi Umi barunya Nay?"

Aku mengencangkan genggaman jariku dengan anak itu. Rasanya tak percaya dengan skenario Tuhan yang mengganti scene terlalu cepat.

Kulirik Hasbi. Ia tersenyum. Persis senyumnya dalam mimpiku. Namun, kali ini ia tidak menggeleng dan hilang ditelan asap tebal. Ia mengangguk dan tetap berada di hadapanku.

Aku tak kuasa menahan air mata. Ya Allah, lamaran ketujuhbelas ini manis sekali.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar