Embun tebal yang menggelayut tak lagi menarik hati Rosma. Biasanya
setiap membuka jendela kayu kamarnya, gadis berwajah elok itu senang
menghirup udara pagi yang segar dicampuri embun. Sambil berusaha
menembus putihnya yang menutupi jalanan kampung.
Rosma mencari-cari. Mana? Biasanya ada di bawah jendela, tergeletak di tanah yang lembab.
Seminggu ini dengan misterius Rosma selalu mendapati sekuntum bunga di
sisi jendelanya. Tidak selalu bunga yang sama. Terakhir kemarin ia
menemukan bunga anggrek dan lili yang dirangkai cantik.
Itu dia!
Gadis 24 tahun itu terlonjak melihat tanaman sejenis bonsai yang
memagari taman tepat di ambang jendela kini diselipi bunga nusa indah.
Kuntumnya yang besar-besar kontras dengan daun bonsai yang mungil.
Rosma tersenyum, menikmati pemandangan cantik di hadapannya. Entah
siapa yang begitu telaten dan rutin mengejutkannya dengan bunga-bunga
indah itu. Panggilan Ibu untuk segera mandi menyadarkannya. Bergegas,
gadis itu beranjak setelah sekali lagi melempar pandang ke bonsai
berbunga nusa indah.
"Mungkin ada yang diam-diam suka sama kau, Rosma," tebak Asni, teman satu tempat mengajar.
Rosma tak tahan untuk tidak cerita. Jadilah mereka menduga-duga berdua saat jam istirahat.
"Siapa?" tanya Rosma lugu.
Asni menarik jilbab ungu pupus Rosma. "Manalah aku tahu. Kalau kata orang luar negeri sana, ini namanya secret admirer."
"Pemuja rahasia ...," desis Rosma. Mata dengan alis tebal itu
menerawang. Siapa gerangan yang memujanya dalam senyap. "Kenapa dia tak
bilang saja kalau suka aku?"
Kali ini Asni melempar pulpen
yang dari tadi jadi mainannya di meja. "Mana aku tahu!" serunya sambil
melotot lucu. Rosma tergelak.
"Sedang cerita apa?" Pak Bahrun, satu-satunya guru bujangan di sekolah itu, datang bergabung.
"Sepertinya seru sekali."
"Si Rosma dapat kiriman bunga tiap pagi," jawab Asni lancar. Rosma melotot galak. Dasar Asni, rem mulutnya kurang pakem.
"Eh, bunga?" Pak Bahrun tampak tertarik, tatapan galak Rosma pada Asni luput dari pengamatannya.
"Bunga biasa, Pak. Tak ada yang istimewa," kilah Rosma sebelum Asni buka kartu lebih banyak.
"Pengirimnya misterius, Pak!"
Duh, Asniii .... Rosma geram sendiri.
"Oh, ya?" Alis Pak Bahrun terangkat. "Dik Rosma pastilah punya penggemar gelap."
"Rosma belum tahu orangnya gelap atau terang kok, Pak. Kan misterius ...."
Rosma menepuk jidat mendengar tanggapan polos Asni, pamit ke toilet diiringi lirikan Pak Bahrun.
*
"Pengirim bunga?"
Rosma mengangguk cepat. Gadis itu mencoba mencari keterangan tentang
si pengirim bunga dari Nek Nah, tetangganya. Nenek yang juga pengasuhnya
ketika kecil itu, selalu keluar rumah sebelum subuh, berjalan perlahan
menuju masjid kampung. Siapa tahu nenek baik hati ini melihat penampakan
si pengantar bunga di depan kamarnya.
Tapi Nek Nah menggeleng, meredupkan sinar harapan di mata Rosma.
"Mungkin mata nenek yang sudah rabun. Kau tahu kan, subuh itu masih
remang-remang. Mata tua ini tak bisa lagi melihat jelas," hibur Nek Nah.
Rosma mengangguk, melengkungkan senyum.
"Kau terganggu dengan bunga itu, Ros?" tanya Nek Nah penuh perhatian.
"Tidak, Nek. Rosma hanya ingin tahu siapa pengirimnya."
Bagaimana mungkin ia terganggu. Seumur hidup baru sekarang ia mendapat
perhatian dari pria dengan cara yang manis, tapi mengundang penasaran.
Sungguh, Rosma merasa sangat diistimewakan.
"Airnya sudah matang, Nek." Wardi, cucu Nek Nah muncul dari dalam, tersenyum tipis kepada Rosma.
"Orang tua ini perlu mandi sore walaupun tak ada yang mengajak jalan-jalan, Ros," pamit Nek Nah.
Tawa Rosma meledak. Tapi, Wardi dingin saja, sibuk membantu neneknya
berdiri. Rosma undur diri dari beranda rumah yang selalu bersih itu.
Hah, dia juga harus mandi, siapa tahu si pengirim bunga datang
mengajaknya jalan-jalan.
*
Rosma menahan kantuk yang gigih
menyerangnya. Dia sudah bertekad memergoki si pemuja rahasia meski
harus berangkat mengajar dengan mata bengkak keesokan hari. Gadis itu
memasang telinga. Sensitif dengan suara-suara mencurigakan dari arah
taman, membuka jendela dan memaksa pupil matanya menembus malam yang
diterangi lampu teras ala kadarnya.
Sialnya, Rosma tertidur
juga. Hasilnya dia kecolongan lagi. Rangkaian bunga boegenville putih
tergeletak di bawah jendela bersama selembar daun mangga. Hei, ada
tulisan di daunnya!
"Kuawali hariku dengan mendoakanmu agar kau selalu sehat dan bahagia di sana...."(*)
Bibir Rosma mengeja kata demi kata. Mengamati tulisan tak rapi dengan
tinta kuning emas itu. Manis sekali, pikirnya. Tampaknya si pemuja
rahasia mulai membuka komunikasi.
"Aku kenal tulisan ini!" Asni nyaris berteriak saat Rosma memamerkan surat daun mangga.
"Siapa?" tanya Rosma tak terlalu berharap mendapat jawaban yang
memuaskan. Asni memang suka sembarang menduga selain tak bisa menyimpan
rahasia.
"Pak Bahrun!"
"Bang ... Bahrun?" Rosma tercekat. Dia tak yakin.
Asni menyambar buku besar absensi guru di hadapannya. "Lihat Ros, mirip," desisnya.
Rosma ikut membandingkan, menunduk serius ke deretan huruf di buku dan
daun. Memang mirip, tapi tidak sama. Tulisan Bang Bahrun di buku tegak
kokoh. Sementara tulisan di surat daun mangga ini tak tentu posisinya,
ada yang tegak, kebanyakan miring dan ada bagian yang tebal di
sana-sini. Barangkali si pemuja rahasia kesulitan menancapkan penanya di
permukaan daun.
"Dik Rosma."
Yang disebut namanya
terperanjat. Sigap Rosma menyembunyikan surat daun mangga dan menutup
buku absensi yang masih ditunjuk-tunjuk penuh minat oleh Asni. Rosma tak
acuh dengan jerit kecil temannya, menampilkan sikap wajar di hadapan
Bang Bahrun.
"Kalian sedang apa? Kenapa terkejut aku datang?" Pria itu rupanya memperhatikan.
Rosma agak menggerutu dalam hati. "Biasa Bang, urusan perempuan," kilahnya,"Abang ada perlu apa?"
Bang Bahrun manggut-manggut. "Oh, ya. Dik Ros dipanggil kepala sekolah."
Rosma mengangguk, berucap terima kasih. Buru-buru dia kabur dari
tatapan curiga Bang Bahrun. Tapi telinganya masih bisa menangkap
pertanyaan Asni kepada Bang Bahrun yang membuatnya ingin menjahit mulut
usil itu.
"Pak Bahrun punya pohon mangga di rumah?"
"Ada." Sayup jawaban Bang Bahrun terdengar.
*
"Dan biarkan aku jadi pemujamu, jangan pernah hiraukan perasaan hatiku."(*)
Ditulis pada selembar daun mangga kering yang diikat bersama sekuntum
mawar merah. Rosma memungutnya. Ah, siapa gerangan sosok misterius ini?
"Dapat bunga lagi, Ros?"
Kaget, Rosma menoleh ke belakang. Wardi sudah berdiri di balik
punggungnya berpakaian olah raga lengkap. Tampaknya baru lari pagi
keliling kampung.
"Nenek yang cerita," lanjut pemuda tampan
yang baru setahun belakangan tinggal bersama Nek Nah itu, melihat
keheranan di wajah Rosma.
"Ros ingin sekali tahu siapa orangnya, Bang War." Gadis itu mencium mawar merah di genggamannya.
"Mungkin kau harus bangun lebih pagi untuk memergokinya. Nek Nah sering
bercerita, kau paling susah bangun pagi." Wardi tertawa.
Rosma memerah wajahnya. Malu. "Kira-kira wajahnya seperti apa ya, Bang? Tampankah?"
Tawa Wardi menjadi. "Bisa jadi," jawabnya.
Hari Minggu itu dihabiskan Rosma dengan memandangi bunga-bunga kiriman
si pemuja rahasia. Ada yang sudah tak jelas rupanya karena sudah layu,
menghitam, dan busuk.
Siapa? Tak mungkin Bang Bahrun seperti
dugaan Asni. Rumah guru muda memang tak jauh dari rumahnya. Tapi, niat
betul dia cuma mengantar bunga di pagi buta. Bang Bahrun juga punya
pohon mangga. Ah, rumah yang punya pohon mangga di kampung ini tak cuma
dia.
Lalu siapa? Bang Wardi? Rosma menepuk jidat. Baru kemarin
Nek Nah bercerita, cucunya itu akan segera menikah di kampung
halamannya.
*
Pagi masih sangat buta saat Rosma terjaga.
Pukul tiga dini hari. Beringsut gadis itu bangkit mengambil wudhu.
Tiba-tiba saja terniat untuk solat tahajud, padahal selama ini jarang
dia lakoni.
Damai menelusup hati Rosma. Pagi yang lengang
mengungkung kekhusyukkannya. Hingga tiba-tiba suara langkah kaki
mengusik pendengaran gadis berbalut mukena putih itu dari luar.
Terdengar jelas di depan jendela kamarnya!
Rosma terpaku di atas sajadah. Itukah dia? Inikah saatnya membongkar topeng si pemuja rahasia?
Pelan, tangan halusnya membuka gerendel. Tanpa suara jendela itu dia
buka. Itu dia! Dalam remang cahaya bulan separuh, Rosma melihat sesosok
pria berbaju koko lengkap dengan sarung dan peci putih. Sial, wajahnya
tak terlihat karena si pengantar bunga sedang berjalan ke luar dari
halaman rumahnya.
Rosma menahan napas. Sedikit lagi dia akan tahu. Tolong, berbaliklah ... setidaknya menoleh, jeritnya dalam hati.
Tapi ..., hei!
Rosma membekap mulutnya. Tak percaya dengan apa yang baru dilihat kedua
matanya. Tak mungkin. Si pengantar bunga itu ..., si pemuja rahasianya
ternyata ....
Tidak ada bunga. Rosma hanya menemukan selembar
daun mangga kering yang ditindih kerikil kecil di sisi jendela. Gadis
itu baru memungutnya saat akan berangkat mengajar. Tak sabar rasanya
mengabarkan siapa yang dilihatnya mengantar bunga dini hari tadi pada
Asni.
"Karena hanya dengan perasaan rinduku yang dalam padamu kupertahankan hidup
Karena hanya dengan jejak-jejak hatimu ada arti kutelusuri hidup ini
Selamanya hanya kubisa memujamu
Selamanya hanya kubisa merindukanmu."(*)
Nek Nah baru saja pamit pulang kampung untuk menikahkan cucu
kesayangannya. Rosma mengucapkan selamat. Bang Wardi tersenyum kaku di
samping neneknya. Gadis itu bimbang. Terbayang sosok berbaju koko yang
berbelok dan masuk ke halaman rumah Nek Nah.
Haruskah dia mengucapkan
terima kasih atas bunga-bunga kirimannya itu?
(*) Lirik lagu Pemuja Rahasia (Sheila On 7)
Minggu, 23 November 2014
Pejantan Cemen
Berisik! Betina-betina berkotek menduduki telur. Petok! Petok!
Bersahutan, tak henti-henti. Istriku, Ay, asyik mengutip jagung dengan
mulutnya.
"Yam ..." panggil Ay.
"Hmmm," jawabku malas.
"Ayolah, betina lain sudah mengeram. Aku bertelur saja belum." Ay memelas.
Kulirik dia. Leher gembung penuh jagung, membuatnya tampak semakin pendek. Meskipun rakus, aku cinta dia. Namun, belakangan gairahku lenyap. Bukan karena badan Ay melebar. Aku juga gemuk dan kami memang diharapkan begitu. Sehat
"Yam!" seru Ay,"Kalau kau tetap tak mau, kita berakhir di penggorengan!"
Aku mematuk dinding kandang, kesal. Baiklah, baiklah ..., akan kulakukan. Ay berkotek ceria. Kutindih dia, lupa sesaat dengan bara di dada.
***
Saat dia datang, aku takjub sekaligus iri. Tiba-tiba saja dunia terasa tidak adil. Hey, kami sama-sama jantan! Tapi, mengapa dia lebih rupawan? Perawakannya tinggi tegap. Bulu hitam, merah, kuning, hijau, dan ungu bersilangan sempurna. Belum ekor panjang menjuntai, senada dengan langkah berayun gemulai. Jengger merah menyala bertengger bak mahkota. Gagah, segagah namanya. Jago.
Sedangkan aku? Hah, tak perlu pembahasan panjang lebar. Aku tak lebih menarik dari onggokan tahi ayam betina yang tengah mengeram. Bau!
"Jangan membandingkan diri." Ay mematuk-matuk telur penuh sayang. Ya, aku sudah membuatnya bertelur seperti yang dia minta. Sebentar lagi, Mang Hidin akan memungutnya.
"Aku juga jantan!" dengusku.
"Oh, yaaa," Ay tersenyum, "Pejantan tangguh, telur ini buktinya."
Kupatuk punggung yang tak gatal. Ay tidak paham. Pejantan tangguh itu Si Jago. Kudengar dia baru menang KO atas ayam Mang Dudung. Aku bisa membayangkan betapa perkasanya ia di arena sabung ayam.
Nah, aku? Bila kuplesetkan lagu Cherry Belle favorit Mila, anak Mang Hidin, liriknya menjadi "Kamu tangguh, tangguh dari mananya ...".
Aku ini pejantan cemen. Terkurung sepanjang hari bersama istri. Tugasku cuma satu, buatlah Ay bertelur. Beginilah nasib menjadi induk ayam petelur.
"Yam, sudahlah,” tegur Ay.
Aku bergeming. Menatap iri Jago dielus-elus Mang Hidin. “Jagoan! Huebat!” pujinya.
"Yam, setiap kita ada lebih dan kurangnya. Kau tak akan bisa menjadi Jago, Jago juga tidak mungkin menjadi kau. Seperti petani, kita punya lahan sendiri-sendiri."
Mang Dudung datang, turut memuji-muji kehebatan Jago. Huh, makin panas saja hatiku. Sebuah salam khidmat terdengar. Dua orang penggila ayam itu kelabakan. Kulihat Ustad Dana serius bicara. Mang Hidin dan Mang Dudung terpekur mengangguk-angguk.
Ay menyenggolku. "Kau dengar? Kelebihan Jago ternyata membawa dosa buat Mang Hidin."
Aku jadi malu sendiri. Kupatuk paruh Ay mesra. Lagi pula, apa gunanya jadi pejantan tangguh jika membawa keburukan. Lebih baik begini, diliputi kebaikan walaupun jadi pejantan cemen.
"Yam ..." panggil Ay.
"Hmmm," jawabku malas.
"Ayolah, betina lain sudah mengeram. Aku bertelur saja belum." Ay memelas.
Kulirik dia. Leher gembung penuh jagung, membuatnya tampak semakin pendek. Meskipun rakus, aku cinta dia. Namun, belakangan gairahku lenyap. Bukan karena badan Ay melebar. Aku juga gemuk dan kami memang diharapkan begitu. Sehat
"Yam!" seru Ay,"Kalau kau tetap tak mau, kita berakhir di penggorengan!"
Aku mematuk dinding kandang, kesal. Baiklah, baiklah ..., akan kulakukan. Ay berkotek ceria. Kutindih dia, lupa sesaat dengan bara di dada.
***
Saat dia datang, aku takjub sekaligus iri. Tiba-tiba saja dunia terasa tidak adil. Hey, kami sama-sama jantan! Tapi, mengapa dia lebih rupawan? Perawakannya tinggi tegap. Bulu hitam, merah, kuning, hijau, dan ungu bersilangan sempurna. Belum ekor panjang menjuntai, senada dengan langkah berayun gemulai. Jengger merah menyala bertengger bak mahkota. Gagah, segagah namanya. Jago.
Sedangkan aku? Hah, tak perlu pembahasan panjang lebar. Aku tak lebih menarik dari onggokan tahi ayam betina yang tengah mengeram. Bau!
"Jangan membandingkan diri." Ay mematuk-matuk telur penuh sayang. Ya, aku sudah membuatnya bertelur seperti yang dia minta. Sebentar lagi, Mang Hidin akan memungutnya.
"Aku juga jantan!" dengusku.
"Oh, yaaa," Ay tersenyum, "Pejantan tangguh, telur ini buktinya."
Kupatuk punggung yang tak gatal. Ay tidak paham. Pejantan tangguh itu Si Jago. Kudengar dia baru menang KO atas ayam Mang Dudung. Aku bisa membayangkan betapa perkasanya ia di arena sabung ayam.
Nah, aku? Bila kuplesetkan lagu Cherry Belle favorit Mila, anak Mang Hidin, liriknya menjadi "Kamu tangguh, tangguh dari mananya ...".
Aku ini pejantan cemen. Terkurung sepanjang hari bersama istri. Tugasku cuma satu, buatlah Ay bertelur. Beginilah nasib menjadi induk ayam petelur.
"Yam, sudahlah,” tegur Ay.
Aku bergeming. Menatap iri Jago dielus-elus Mang Hidin. “Jagoan! Huebat!” pujinya.
"Yam, setiap kita ada lebih dan kurangnya. Kau tak akan bisa menjadi Jago, Jago juga tidak mungkin menjadi kau. Seperti petani, kita punya lahan sendiri-sendiri."
Mang Dudung datang, turut memuji-muji kehebatan Jago. Huh, makin panas saja hatiku. Sebuah salam khidmat terdengar. Dua orang penggila ayam itu kelabakan. Kulihat Ustad Dana serius bicara. Mang Hidin dan Mang Dudung terpekur mengangguk-angguk.
Ay menyenggolku. "Kau dengar? Kelebihan Jago ternyata membawa dosa buat Mang Hidin."
Aku jadi malu sendiri. Kupatuk paruh Ay mesra. Lagi pula, apa gunanya jadi pejantan tangguh jika membawa keburukan. Lebih baik begini, diliputi kebaikan walaupun jadi pejantan cemen.
Kupilih Dia
Ruly galau. Ah, kenapa baru sekarang ketika hatinya telah mantap
pada satu pilihan? Godaan memang selalu datang menggoyahkan saat kita
sudah yakin dengan sesuatu. Ruly memang belum menyatakan. Tapi,
tangannya hampir kuat berpegang padanya yang Ruly yakini terbaik.
Ugh, bikin pusing aja!
Ruly menimbang-nimbang. Kepala dengan rambut duri landaknya nyembul di antara telapak tangan.
Coba gue tau dari dulu, nggak bakalan galau mampus begini gue!"
*
"Saos sambel gue kayaknya kurang. Bentar, ya." Ruly mendorong kursi dengan pantat.
"Gue ambilin, Rul." Ilma sigap keluar dari jepitan kursi dan meja. Agak berlari ia menuju keran saos di pojok restoran fast food itu.
Ruly dan Rheina berpandangan. Rheina bahkan mengangkat sebelah alisnya. Ilma kembali sekejap kemudian.
"Nih, gue bawain saos tomat juga."
Ruly berterimakasih agak kikuk.
Beres makan siang, ketiga sahabat itu sepakat pulang saja. Panas terik begini memang sangat menguras energi. Apalagi untuk berpetualang mencari secuil berita untuk koran sekolah.
"Gue ngantuk." Rheina menguap.
"Sama, gue juga kurang tidur. Nonton bola!" Ruly mengamini alasan Rheina.
"Ya udin, gue cabut. Lu nebeng gue nggak, Il?" Rheina menyematkan helm di kepala.
"Ng...nggak, deh." Ilma menggeleng.
Rheina melambai meninggalkan parkiran.
"Hati-hati!" teriak Ruly balas melambai.
"Rul, aku nebeng kamu, ya."
Ruly melongo. Ini anak gimana, sih? Tadi tawaran Rheina ditolak. Ruly mencium aroma kurang mengenakkan. Pasti gara-gara yang kemarin.
"Kenapa tadi nggak bareng Rheina aja?" jawab Ruly berusaha menghilangkan kesan bahwa ia repot. Rumah mereka kan, beda arah.
"Aku maunya sama kamu," jawab Ilma sambil senyum dikulum. Nggak jelas antara sok manja atau minta ditabok.
Ruly menggerutu dalam hati. "Buruan naik!"
Ilma langsung loncat ke boncengan motor sport Ruly.
*
Brem, breeem. Motor tepat berhenti di depan rumah Ilma.
"Makasih ya, Rul. Mampir, yuk."
Ruly membuka kaca helmnya. "Gue langsung balik, deh," katanya agak ketus.
Ruly sebel. Sepanjang jalan Ilma kecentilan memeluk pinggangnya. Sengaja banget nempel-nempel di punggungnya. Padahal Ruly asli nggak ngebut atau tiba-tiba ngerem mendadak. Gitu kan, cowok-cowok kebanyakan? Huh, modus.
"Aku mau ngomong."
"Dari tadi ketemu kita udah ngomong. Apa lagi?" Ruly gusar.
Ilma menunduk malu-malu. "Kamu nggak peka banget sih, Rul. Soal yang kemarin aku bilang itu."
Ruly mendesah. Dibukanya helm di kepala. "Gue kan, udah jelasin jawaban gue. Panjang lebar, Il. Tolong dong, lu ngertiin gue juga."
"Tapi kenapa?" Ilma menatapnya sendu, "Apa karena Rheina?"
Ruly berdecak. "Elu dan Rheina sahabat gue. Please Ilma, jangan dirusak."
"Aku tau kok, kamu diam-diam suka kan sama Rheina?" Mata Ilma berkaca-kaca. "Aku sadar nggak mungkin bersaing sama dia."
Ingin rasanya Ruly meremas helm digenggamannya hingga hancur. Gemas dia menyaksikan tingkah Ilma yang sok drama. Bersaing untuk apa?
Ruly mengenakan helm. Menstarter motornya dan mundur. Sebelum pergi ia berkata, "Kalau lu masih mau jadi sahabat gue, gue minta lupain perasaan lu."
*
"Mana Ilma?" Rheina mengintip dari balik komputernya.
Ruangan kecil di sudut sekolah itu disulap menjadi kantor redaksi koran sekolah. Beberapa anak lain nampak serius di depan komputer masing-masing. Ruly mengangkat bahu menanggapi pertanyaan Rheina.
"Gimana sih, tugas belum beres malah ilang-ilangan begitu."
Ruly duduk diam di sofa. Anak-anak lain sesama tim koran sekolah pamit ke kantin. Tinggallah mereka berdua.
"Rul," panggil Rheina.
Ruly menoleh kaget. Sejak kapan Rheina pindah tempat di sampingnya?
"Ada apa, Rhein?" Ruly menggeser duduknya.
Rheina ikut bergeser, mendekat. Ruly risih sendiri. Wajahnya memerah, mulai berkeringat. Tuhan, cewek-cewek sekarang agresif banget begini, ya?
"Di situ aja, Rhein." Ruly mengangkat tangan tanda stop.
Pantatnya udah mentok di ujung sofa. Dia sebenarnya juga heran sama diri sendiri. Duduk berdekatan dengan Rheina atau Ilma sudah jadi kebiasaannya sehari-hari. Tapi, sekarang dia merasakan ada yang ganjil. Ini pastilah efek tingkah Ilma kemarin. Huh!
"Ada yang mau gue bilang, Rul." Rheina menatapnya serius.
Ruly makin grogi. "Eh, iya. A...pa?"
Rheina meremas tangannya. "Gue...gue suka sama lu, Rul."
Ruly terkapar di sandaran sofa. Keringatnya makin membanjir.
"Gue juga tau lu suka sama gue, Rul. Gue bisa rasain itu. Perhatian lu ke gue lebih daripada perhatian lu ke Ilma. Gue tersanjung, Rul."
Ruly mendadak mau pingsan. Pandangannya buram. Buyar konsentrasi. Kenapa pula Rheina bawa-bawa judul sinetron segala.
"Bener kan, Rul?" kejar Rheina. "Lu juga suka sama gue?"
Seperti mendapat tenaga dalam, Ruly sontak berdiri. "Sori Rhein, lu salah paham."
*
Sepulang sekolah, Ruly semedi di kamar. Terngiang-ngiang pernyataan jujur dari Rheina. Ia memang mengagumi cewek itu. Tangguh, mandiri, selain cantik tentu saja. Naluri kewanitaan Rheina rupanya bisa membaca bahwa ia diperlakukan berbeda. Istimewa. Rheina benar, Ruly sudah lama menyimpan rasa.
Mungkin ia pengecut tidak bernyali mengakui. Apalagi terang-terangan berucap suka. Namun, ia salut dengan kegagahan Rheina, juga Ilma. Dua gadis sahabatnya itu jauh lebih perkasa mengungkapkan perasaan.
Galau melanda Ruly. Bukan karena mendadak dihadapkan pada soal pilihan ganda, pilih Ilma atau Rheina. Galaunya justru bagaimana menjelaskan kepada keduanya bahwa ia tengah belajar mencintai yang lain. Mencintai dia yang juga dikenal oleh keduanya. Namun, untuk mencintainya Ruly harus menjauh dari Rheina dan Ilma. Bukan menjaga jarak secara ekstrim memang. Namun, jelas tidak memungkinkan untuk seenaknya toyor-toyoran kepala seperti dulu. Kalau dia cemburu gimana?
Ah, andai Ruly mengenalnya jauh-jauh hari. Dipastikan ia tidak akan jatuh dalam jurang kegalauan akibat membuat dua orang gadis jatuh cinta. Kalau saja ia mengenalnya lebih dulu, mungkin ia dapat mencegah bunga bermekaran di hati Rheina dan Ilma.
Kini, Ruly bertekad tidak akan goyah. Apalagi tergoda. Pun, dengan pengakuan Rheina yang notabene ia taksir sejak lama. Ruly yakin dia yang sekarang ia cinta jauh lebih baik daripada Rheina.
Adzan Ashar dari mushala komplek memecah lamunannya. Ruly tersenyum sembari lirih menjawab adzan. Ia beranjak, wudhu. Dia yang kini ia cinta memanggil-manggil. Tak akan ditunggunya sampai nanti-nanti. Segera. Ruly menghadap Dia, Yang Maha Mencintai.
Ugh, bikin pusing aja!
Ruly menimbang-nimbang. Kepala dengan rambut duri landaknya nyembul di antara telapak tangan.
Coba gue tau dari dulu, nggak bakalan galau mampus begini gue!"
*
"Saos sambel gue kayaknya kurang. Bentar, ya." Ruly mendorong kursi dengan pantat.
"Gue ambilin, Rul." Ilma sigap keluar dari jepitan kursi dan meja. Agak berlari ia menuju keran saos di pojok restoran fast food itu.
Ruly dan Rheina berpandangan. Rheina bahkan mengangkat sebelah alisnya. Ilma kembali sekejap kemudian.
"Nih, gue bawain saos tomat juga."
Ruly berterimakasih agak kikuk.
Beres makan siang, ketiga sahabat itu sepakat pulang saja. Panas terik begini memang sangat menguras energi. Apalagi untuk berpetualang mencari secuil berita untuk koran sekolah.
"Gue ngantuk." Rheina menguap.
"Sama, gue juga kurang tidur. Nonton bola!" Ruly mengamini alasan Rheina.
"Ya udin, gue cabut. Lu nebeng gue nggak, Il?" Rheina menyematkan helm di kepala.
"Ng...nggak, deh." Ilma menggeleng.
Rheina melambai meninggalkan parkiran.
"Hati-hati!" teriak Ruly balas melambai.
"Rul, aku nebeng kamu, ya."
Ruly melongo. Ini anak gimana, sih? Tadi tawaran Rheina ditolak. Ruly mencium aroma kurang mengenakkan. Pasti gara-gara yang kemarin.
"Kenapa tadi nggak bareng Rheina aja?" jawab Ruly berusaha menghilangkan kesan bahwa ia repot. Rumah mereka kan, beda arah.
"Aku maunya sama kamu," jawab Ilma sambil senyum dikulum. Nggak jelas antara sok manja atau minta ditabok.
Ruly menggerutu dalam hati. "Buruan naik!"
Ilma langsung loncat ke boncengan motor sport Ruly.
*
Brem, breeem. Motor tepat berhenti di depan rumah Ilma.
"Makasih ya, Rul. Mampir, yuk."
Ruly membuka kaca helmnya. "Gue langsung balik, deh," katanya agak ketus.
Ruly sebel. Sepanjang jalan Ilma kecentilan memeluk pinggangnya. Sengaja banget nempel-nempel di punggungnya. Padahal Ruly asli nggak ngebut atau tiba-tiba ngerem mendadak. Gitu kan, cowok-cowok kebanyakan? Huh, modus.
"Aku mau ngomong."
"Dari tadi ketemu kita udah ngomong. Apa lagi?" Ruly gusar.
Ilma menunduk malu-malu. "Kamu nggak peka banget sih, Rul. Soal yang kemarin aku bilang itu."
Ruly mendesah. Dibukanya helm di kepala. "Gue kan, udah jelasin jawaban gue. Panjang lebar, Il. Tolong dong, lu ngertiin gue juga."
"Tapi kenapa?" Ilma menatapnya sendu, "Apa karena Rheina?"
Ruly berdecak. "Elu dan Rheina sahabat gue. Please Ilma, jangan dirusak."
"Aku tau kok, kamu diam-diam suka kan sama Rheina?" Mata Ilma berkaca-kaca. "Aku sadar nggak mungkin bersaing sama dia."
Ingin rasanya Ruly meremas helm digenggamannya hingga hancur. Gemas dia menyaksikan tingkah Ilma yang sok drama. Bersaing untuk apa?
Ruly mengenakan helm. Menstarter motornya dan mundur. Sebelum pergi ia berkata, "Kalau lu masih mau jadi sahabat gue, gue minta lupain perasaan lu."
*
"Mana Ilma?" Rheina mengintip dari balik komputernya.
Ruangan kecil di sudut sekolah itu disulap menjadi kantor redaksi koran sekolah. Beberapa anak lain nampak serius di depan komputer masing-masing. Ruly mengangkat bahu menanggapi pertanyaan Rheina.
"Gimana sih, tugas belum beres malah ilang-ilangan begitu."
Ruly duduk diam di sofa. Anak-anak lain sesama tim koran sekolah pamit ke kantin. Tinggallah mereka berdua.
"Rul," panggil Rheina.
Ruly menoleh kaget. Sejak kapan Rheina pindah tempat di sampingnya?
"Ada apa, Rhein?" Ruly menggeser duduknya.
Rheina ikut bergeser, mendekat. Ruly risih sendiri. Wajahnya memerah, mulai berkeringat. Tuhan, cewek-cewek sekarang agresif banget begini, ya?
"Di situ aja, Rhein." Ruly mengangkat tangan tanda stop.
Pantatnya udah mentok di ujung sofa. Dia sebenarnya juga heran sama diri sendiri. Duduk berdekatan dengan Rheina atau Ilma sudah jadi kebiasaannya sehari-hari. Tapi, sekarang dia merasakan ada yang ganjil. Ini pastilah efek tingkah Ilma kemarin. Huh!
"Ada yang mau gue bilang, Rul." Rheina menatapnya serius.
Ruly makin grogi. "Eh, iya. A...pa?"
Rheina meremas tangannya. "Gue...gue suka sama lu, Rul."
Ruly terkapar di sandaran sofa. Keringatnya makin membanjir.
"Gue juga tau lu suka sama gue, Rul. Gue bisa rasain itu. Perhatian lu ke gue lebih daripada perhatian lu ke Ilma. Gue tersanjung, Rul."
Ruly mendadak mau pingsan. Pandangannya buram. Buyar konsentrasi. Kenapa pula Rheina bawa-bawa judul sinetron segala.
"Bener kan, Rul?" kejar Rheina. "Lu juga suka sama gue?"
Seperti mendapat tenaga dalam, Ruly sontak berdiri. "Sori Rhein, lu salah paham."
*
Sepulang sekolah, Ruly semedi di kamar. Terngiang-ngiang pernyataan jujur dari Rheina. Ia memang mengagumi cewek itu. Tangguh, mandiri, selain cantik tentu saja. Naluri kewanitaan Rheina rupanya bisa membaca bahwa ia diperlakukan berbeda. Istimewa. Rheina benar, Ruly sudah lama menyimpan rasa.
Mungkin ia pengecut tidak bernyali mengakui. Apalagi terang-terangan berucap suka. Namun, ia salut dengan kegagahan Rheina, juga Ilma. Dua gadis sahabatnya itu jauh lebih perkasa mengungkapkan perasaan.
Galau melanda Ruly. Bukan karena mendadak dihadapkan pada soal pilihan ganda, pilih Ilma atau Rheina. Galaunya justru bagaimana menjelaskan kepada keduanya bahwa ia tengah belajar mencintai yang lain. Mencintai dia yang juga dikenal oleh keduanya. Namun, untuk mencintainya Ruly harus menjauh dari Rheina dan Ilma. Bukan menjaga jarak secara ekstrim memang. Namun, jelas tidak memungkinkan untuk seenaknya toyor-toyoran kepala seperti dulu. Kalau dia cemburu gimana?
Ah, andai Ruly mengenalnya jauh-jauh hari. Dipastikan ia tidak akan jatuh dalam jurang kegalauan akibat membuat dua orang gadis jatuh cinta. Kalau saja ia mengenalnya lebih dulu, mungkin ia dapat mencegah bunga bermekaran di hati Rheina dan Ilma.
Kini, Ruly bertekad tidak akan goyah. Apalagi tergoda. Pun, dengan pengakuan Rheina yang notabene ia taksir sejak lama. Ruly yakin dia yang sekarang ia cinta jauh lebih baik daripada Rheina.
Adzan Ashar dari mushala komplek memecah lamunannya. Ruly tersenyum sembari lirih menjawab adzan. Ia beranjak, wudhu. Dia yang kini ia cinta memanggil-manggil. Tak akan ditunggunya sampai nanti-nanti. Segera. Ruly menghadap Dia, Yang Maha Mencintai.
Lamaran Ketujuhbelas
Lelaki itu berdiri di sana, di bawah remang cahaya bulan purnama.
Setelan putih-putihnya berkilau menyilaukan. Matanya sayu menatapku
sendu. Jarak kami tidak jauh. Bisa kulihat ia tersenyum kemudian
menggeleng-geleng sebelum sosoknya perlahan lenyap oleh sekumpulan asap
yang datang entah dari mana. Aku terpaku, tidak berusaha mencegahnya
pergi. Namun, seperti ada aliran energi yang membuatku yakin ia pasti
kembali.
Rahasia apa yang sedang Kau coba tunjukkan padaku, ya Allah.
*
Ayah menjawab dengan sangat hati-hati. Merangkai kata-kata agar terdengar manis. Aku tahu, lidahnya berat. Mukanya juga sudah tebal karena harus mengatakan hal yang sama berulang-ulang.
“Saya minta maaf, Pak Wijaya. Berdasarkan jawaban dari Fatma, saya tidak bisa menerima pinangan anak Bapak.”
Pak Wijaya terlengak. Terang saja dia kaget. Ini sudah kedua kalinya dia datang, memintaku jadi menantu. Yang pertama sepuluh tahun lalu.
“Ini benar-benar pelecehan!” Pengusaha tambang batu bara itu menggebrak meja. “Kalau bukan anak saya yang meminta, saya juga tidak mau merendahkan diri datang ke mari. Saya tidak biasa ditolak! Dan keluarga Pak Harun benar-benar sudah meremehkan saya dengan penolakan ini. Dua kali!”
Ayah salah tingkah, melirihkan maaf berkali-kali. Di balik dinding aku memeluk Ibu. Sungguh tak tega melihat Ayah dibentak-bentak sedemikian rupa.
“Apa kurangnya anak saya?” Kemarahannya belum hilang. “Dulu saya bisa maklum, mungkin Fatma belum siap menikah. Sekarang apa lagi? Anak saya memang sudah duda, tapi masih pantaslah untuk Fatma yang sudah berumur. Perawan tua!”
Oh, kata-kata terakhir itu menikam tepat di ulu hatiku. Ibu merangkul lebih erat. Tidak bisa kubayangkan pilunya hati Ayah yang berhadapan langsung dengan Pak Wijaya. Ya Allah, kuatkan kami ....
Pertemuan malam itu ditutup dengan ancaman. Pak Wijaya akan berhenti menjadi investor di restoran Ayah. Lelaki nomor satu dalam hidupku itu diam saja. Ini bukan pertama kalinya ia mendapat kecaman serupa.
*
“Boleh Abang tahu alasan sebenarnya, Dik?”
Fadli, anak rekan bisnis Ayah, menanyaiku penuh minat saat mengecek salah satu cabang restoran. Ia duda satu anak yang sudah kuanggap saudara sendiri. Bagi Ayah, Fadli sudah seperti anak laki-laki tertuanya. Orang tua kami bersahabat sejak lama.
Aku memutar-mutar sedotan. Sebagai orang dekat, Fadli pasti tahu semuanya dari Ayah alasan penolakanku pada semua pria yang meminang.
“Fatma cuma nggak mau durhaka sama Allah, Bang. Fatma minta petunjuk dan Allah sudah berikan itu. Mana mungkin Fatma langgar?”
“Apa bukan karena bayang-bayang masa lalu?” Fadli menggerak-gerakkan alisnya, menggodaku.
“Apa?” tanyaku tak paham.
“Yaaah, Abang cuma berpikir jawabanmu selama ini dipengaruhi oleh sesuatu yang kamu simpan rapat sendiri. Kamu sedang menanti seseorang, Dik?”
Aku tertawa hambar. Menunggu tanpa kepastian sekian lama? Oh, aku bukan wanita bodoh yang rela menghabiskan umur untuk mendamba pangeran yang belum tentu datang, sementara pemuda yang sama baiknya mengejar-ngejar.
Mungkin aku pernah berharap pada seseorang, tapi itu bukan penghalang untuk menerima orang lain jika Allah menakdirkan begitu.
“Apa Fatma tampak sebodoh itu, Bang?” Kuputuskan balik bertanya.
Fadli tersenyum. “Abang cuma penasaran. Sungguh ironis, saat gadis lain merana karena tak satu pun lelaki yang datang, kamu malah berkali-kali menolak lamaran dari pangeran.”
Aku terdiam. Ya, ironis. Pinangan Pak Wijaya semalam adalah yang kelimabelas kali. Lamaran yang akhirnya datang lagi setelah dua tahun rumah kami tidak kedatangan tamu dengan maksud yang sama.
Barang kali orang-orang mulai bosan atau tidak mau menanggung kecewa ditolak putri Pak Harun yang katanya sombong ini. Lamaran pemilik pesantren saja tidak diterima!
Namun, bisa apa aku? Setiap diskusiku dengan Yang Maha Pemberi Petunjuk, selalu berbuah mimpi yang sama. Tentang lelaki bersetelan putih yang tersenyum di bawah remang cahaya bulan purnama. Menggeleng-geleng sebelum hilang ditelan asap.
Dan lelaki itu bukan salah satu dari pemuda yang datang meminangku.
*
Kesehatan Ayah memburuk. Sudah seminggu aku dan Ibu bolak-balik rumah sakit. Anehnya, tidak ada penyakit parah yang dideritanya. Banyak pikiran, kata dokter. Pihak rumah sakit hanya menyarankan agar pihak keluarga memenuhi sesuatu yang diminta Ayah. Karena suasana hati yang buruk juga berpengaruh terhadap kondisi kesehatan, apalagi sudah berumur seperti Ayah.
Aku menatap lantai rumah sakit yang beku. Gelisah melanda. Restoran tidak ada masalah. Ayah pasti memikirkan .... Ah, aku merasa disudutkan oleh keadaan.
”Ayah pasti baik-baik saja, Dik.” Fadli duduk sepuluh jengkal di sampingku.
Belakangan duda tampan ini juga ikut repot menunggui Ayah yang justru lebih senang ditemani olehnya. Seperti diperhatikan anak menantu, begitu seloroh Ayah.
“Abang pasti tahu apa yang dipikirkan Ayah, kan?” Mataku tetap tak lepas dari kotak-kotak lantai putih.
“Mungkin sudah saatnya kamu membuka hati, Dik. Pernah tidak terlintas, bisa jadi kamu salah menafsirkan petunjuk dari Allah.”
Kepalaku yang dibalut jilbab ungu pupus otomatis terangkat. Menatap Fadli lekat. “Maksud Abang?”
“Allah mungkin sudah berkata “Ya!”, namun kamu mengartikan sebaliknya. Entah kenapa, perasaan Abang berkata kamu memang dipengaruhi seseorang dari masa lalu. Lupakan, Dik, buka hatimu. Sudah cukup lama kamu menyiksa diri dalam bayang-bayang semu.”
Bibirku bergerak-gerak, tapi tak tahu ingin berucap apa. Fadli mengangguk meyakinkan. Ya Allah, jangan-jangan benar. Adakah aku selama ini terlalu terbawa perasaan?
Tanpa pamit, kutinggalkan Fadli di lorong rumah sakit. Aku ingin sendirian!
*
Lelaki itu berdiri di sana, di bawah remang cahaya bulan purnama. Setelan putih-putihnya berkilau menyilaukan. Matanya sayu menatapku sendu. Jarak kami tidak jauh. Bisa kulihat ia tersenyum kemudian menggeleng-geleng sebelum sosoknya perlahan lenyap oleh sekumpulan asap yang datang entah dari mana. Aku terpaku, tidak berusaha mencegahnya pergi. Namun, seperti ada aliran energi yang membuatku yakin ia pasti kembali.
Mimpi itu lagi. Kuusap wajah yang masih berbalut mukena. Tertidur di atas sajadah setelah istikharah. Ya Allah, kenapa masih wajahnya yang Kau hadirkan?
Otakku kembali memutar memori lama saat sedang aktif-aktifnya di pengajian kampus. Adalah Hashbi, ikhwan salih penuh kharisma dambaan hampir semua akhwat. Namun, aku yakin saat itu kekagumanku tidak hanya sepihak. Berkali-kali aku menangkap basah pemuda itu sedang memandangiku dari kejauhan. Atau buru-buru menunduk jika ketahuan melirikku lewat bulu matanya yang lebat di balik hijab.
Dan betapa mengejutkan. Saat harapanku melambung ke awan, Hashbi melayangkan lamaran setelah sarjana S1-nya diresmikan. Bukan ke rumahku. Kabar yang beredar ia diamanahi kyainya di pesantren untuk menikahi putrinya.
Mimpi-mimpi yang sudah kubangun hancur seketika. Di saat yang bersamaan, lamaran juga deras berdatangan. Aku memilih lari ke luar negeri. Menenggelamkan diri dalam timbunan buku dan kesibukan kampus dengan harapan bayang-bayang Hashbi tidak lagi menghantui.
Namun, sekuat apapun aku berusaha, kelebat bayangnya semakin jelas dan nyata. Bahkan makin mencengkeram jiwa saat aku benar-benar ingin terlepas darinya untuk mencoba memulai hidup baru dengan orang lain.
Selalu. Setelah diskusiku dengan-Nya, ia hadir dengan senyum menawan yang dulu membuatku sanggup membuka mata semalaman. Meski aku kebingungan dan merasa berdosa bersamaan, bagaimana mungkin aku memimpikan pemuda yang sudah berstatus suami orang. Pemuda dengan setelan putih di bawah remang bulan purnama itu dia, Hashbi.
Ini harus dihentikan. Mimpi itu bukan berarti Hashbi akan datang padaku. Gelengannya bisa jadi perintah agar aku berhenti berharap. Dan bukankah dalam mimpi ia lenyap ditelan asap?
Setelah menelepon manager restoran bahwa aku batal berkunjung, kutancap Vios menuju rumah sakit. Memang masih terlalu pagi. Aku tak mau menunda, khawatir hati yang sudah mantap ini kembali goyah. Karena kemantapanku masih serupa donat, bulat tapi bolong di tengah.
Kudapati Ayah masih terlelap. Di sampingnya, Fadli tertidur bertumpukan lengan. Nanti saja. Pintu kembali kututup. Beranjak ke cafetaria rumah sakit. Segelas kopi panas semoga bisa menenangkan gemuruh di hati.
Ya Allah, ampuni hamba bila langkah ini keliru. Permudahlah bila benar, dan cegahlah bila salah, ya Rabb ....
Terngiang lagi lirih bisik Ayah padaku sore kemarin. “Kali ini Ayah mohon jangan kecewakan orang tua ini lagi, Nak. Ayah akan sangat gembira bila kamu mau menerima Fadli.”
Ya, akhirnya penolakan akibat mimpi ini harus berakhir pada lamaran keenambelas. Fadli sendiri yang memintaku lewat Ayah.
“Tante Fatma ....”
Sebuah panggilan menyadarkanku dari lamunan. Seorang anak perempuan sepuluh tahunan menghampiri mejaku.
Tante katanya? Oh, oke. Usiaku memang tak lagi pantas dipanggil kakak.
“Tante Fatma, kan?” ulangnya meyakinkan. Senyumnya sekilas mengingatkan pada ....
“Ya, apa kita pernah ketemu?” tanyaku balas tersenyum. Wajah anak ini, melihatnya sungguh menentramkan hati. Kupinta ia duduk bersama.
“Nggak, tapi Nay kenal Tante,” jawabnya riang.
“Oh, ya?” Aku menatapnya penuh minat.
“Dari Abi.” Mata gadis itu ceria saat bercerita. "Di rumah banyak foto Tante, lho! Nay paling suka tahi lalat Tante.”
Ha, apa aku sepopuler itu? Narsisku kambuh. Tanganku meraba titik hitam di hidung. Memang sangat menonjol dan tak semua orang punya. Jeli sekali anak kecil ini.
Lalu mengalirlah kisah dari bibir mungilnya. Aku menarik kesimpulan, orang tua anak kecil ini pastilah salah satu temanku di kampus dulu.
“Ibu kamu mana? Kamu sama siapa ke sini?” tanyaku makin penasaran.
“Nay sama Abi. Umi ... nggak ada, kata Abi dipanggil Allah.”
Senyumnya yang khas agak memudar. Kuusap punggung tangannya. Entahlah, seperti ada magnet yang membuat kami terasa begitu dekat padahal baru saja bersua.
“Tante mau ketemu Abi nggak? Pasti Abi seneng, deh!”
Tiba-tiba saja tanganku sudah ditarik menuju ruang VVIP. Tepat di depan kamar Ayah dirawat tarikan itu terlepas. Fadli kebetulan baru saja keluar. Ia tersenyum kikuk. Membuatku teringat akan lamarannya.
“Abi!”
Nay, gadis kecil itu berseru sambil membuka pintu di depan kamar Ayah. Refleks aku menoleh. Di atas pembaringan seorang lelaki berpakaian serba putih, seragam pasien rumah sakit, terkejut. Tampak dari matanya yang membulat saat melihatku.
Momen ini membuatku percaya, bahwa waktu terasa berhenti itu benar-benar bisa terjadi. Telingaku berdenging tak bisa mendengar selain suara angin. Aku terpaku.
Ya Allah, apakah rahasia itu sudah seutuhnya terbuka? Inikah yang ingin Kau tunjukkan padaku?
Tangan yang bebas dari selang infus terangkat, memberi kode agar mendekat. Nay membimbingku masuk.
Hening. Aku tak mampu menegakkan kepala. Setelah sekian lama menghantui lewat mimpi, kini Hashbi hadir dalam wujud nyata di depanku.
"Suamimu kenapa tidak diajak masuk?" Ia menunjuk pintu.
Aku berbalik. Ah, ternyata Fadli masih di sana. Ya Allah, harusnya aku sedang bersama dia dan menjawab lamarannya.
Bimbang menderaku. Kemantapan hati kini bak donat tinggal separuh.
Di ambang pintu Fadli tersenyum. Dua jempolnya teracung. Bibirnya bergerak mengatakan "It's OK" tanpa suara.
Aku memandangnya tak mengerti. Fadli mengangguk, kemudian berlalu.
Kembali tubuhku menghadap tempat tidur tempat Hashbi berbaring. Terbata aku menjawab,"A-aku ... aku belum menikah ...."
"Oh ...." Hanya itu tanggapan lelaki yang pesonanya masih membiusku ini. Kekakuan mewarnai suasana.
"Abi, Tante Fatma cantik ya, Bi ... kayak Umi!" celetukan polos Nay sukses membuatku salah tingkah.
Mata Hashbi menikam jantungku meski hanya sesaat pandangan kami beradu. Wajah putihnya juga memerah.
Hashbi meraih tangan mungil Nay dalam genggaman kemudian berkata,"Coba Nay tanya sama Tante Fatma, mau nggak jadi Umi barunya Nay?"
Oh, pasti telingaku belum kembali normal. Aku tidak salah dengar, kan?
Tangan Nay yang lain mencengkeram jariku lembut. Kami bertiga bergandengan. Gadis kecil itu mendongak memandangku. Matanya bulat ceria. Lalu keluarlah tanya itu.
"Tante Fatma mau nggak jadi Umi barunya Nay?"
Aku mengencangkan genggaman jariku dengan anak itu. Rasanya tak percaya dengan skenario Tuhan yang mengganti scene terlalu cepat.
Kulirik Hasbi. Ia tersenyum. Persis senyumnya dalam mimpiku. Namun, kali ini ia tidak menggeleng dan hilang ditelan asap tebal. Ia mengangguk dan tetap berada di hadapanku.
Aku tak kuasa menahan air mata. Ya Allah, lamaran ketujuhbelas ini manis sekali.
Rahasia apa yang sedang Kau coba tunjukkan padaku, ya Allah.
*
Ayah menjawab dengan sangat hati-hati. Merangkai kata-kata agar terdengar manis. Aku tahu, lidahnya berat. Mukanya juga sudah tebal karena harus mengatakan hal yang sama berulang-ulang.
“Saya minta maaf, Pak Wijaya. Berdasarkan jawaban dari Fatma, saya tidak bisa menerima pinangan anak Bapak.”
Pak Wijaya terlengak. Terang saja dia kaget. Ini sudah kedua kalinya dia datang, memintaku jadi menantu. Yang pertama sepuluh tahun lalu.
“Ini benar-benar pelecehan!” Pengusaha tambang batu bara itu menggebrak meja. “Kalau bukan anak saya yang meminta, saya juga tidak mau merendahkan diri datang ke mari. Saya tidak biasa ditolak! Dan keluarga Pak Harun benar-benar sudah meremehkan saya dengan penolakan ini. Dua kali!”
Ayah salah tingkah, melirihkan maaf berkali-kali. Di balik dinding aku memeluk Ibu. Sungguh tak tega melihat Ayah dibentak-bentak sedemikian rupa.
“Apa kurangnya anak saya?” Kemarahannya belum hilang. “Dulu saya bisa maklum, mungkin Fatma belum siap menikah. Sekarang apa lagi? Anak saya memang sudah duda, tapi masih pantaslah untuk Fatma yang sudah berumur. Perawan tua!”
Oh, kata-kata terakhir itu menikam tepat di ulu hatiku. Ibu merangkul lebih erat. Tidak bisa kubayangkan pilunya hati Ayah yang berhadapan langsung dengan Pak Wijaya. Ya Allah, kuatkan kami ....
Pertemuan malam itu ditutup dengan ancaman. Pak Wijaya akan berhenti menjadi investor di restoran Ayah. Lelaki nomor satu dalam hidupku itu diam saja. Ini bukan pertama kalinya ia mendapat kecaman serupa.
*
“Boleh Abang tahu alasan sebenarnya, Dik?”
Fadli, anak rekan bisnis Ayah, menanyaiku penuh minat saat mengecek salah satu cabang restoran. Ia duda satu anak yang sudah kuanggap saudara sendiri. Bagi Ayah, Fadli sudah seperti anak laki-laki tertuanya. Orang tua kami bersahabat sejak lama.
Aku memutar-mutar sedotan. Sebagai orang dekat, Fadli pasti tahu semuanya dari Ayah alasan penolakanku pada semua pria yang meminang.
“Fatma cuma nggak mau durhaka sama Allah, Bang. Fatma minta petunjuk dan Allah sudah berikan itu. Mana mungkin Fatma langgar?”
“Apa bukan karena bayang-bayang masa lalu?” Fadli menggerak-gerakkan alisnya, menggodaku.
“Apa?” tanyaku tak paham.
“Yaaah, Abang cuma berpikir jawabanmu selama ini dipengaruhi oleh sesuatu yang kamu simpan rapat sendiri. Kamu sedang menanti seseorang, Dik?”
Aku tertawa hambar. Menunggu tanpa kepastian sekian lama? Oh, aku bukan wanita bodoh yang rela menghabiskan umur untuk mendamba pangeran yang belum tentu datang, sementara pemuda yang sama baiknya mengejar-ngejar.
Mungkin aku pernah berharap pada seseorang, tapi itu bukan penghalang untuk menerima orang lain jika Allah menakdirkan begitu.
“Apa Fatma tampak sebodoh itu, Bang?” Kuputuskan balik bertanya.
Fadli tersenyum. “Abang cuma penasaran. Sungguh ironis, saat gadis lain merana karena tak satu pun lelaki yang datang, kamu malah berkali-kali menolak lamaran dari pangeran.”
Aku terdiam. Ya, ironis. Pinangan Pak Wijaya semalam adalah yang kelimabelas kali. Lamaran yang akhirnya datang lagi setelah dua tahun rumah kami tidak kedatangan tamu dengan maksud yang sama.
Barang kali orang-orang mulai bosan atau tidak mau menanggung kecewa ditolak putri Pak Harun yang katanya sombong ini. Lamaran pemilik pesantren saja tidak diterima!
Namun, bisa apa aku? Setiap diskusiku dengan Yang Maha Pemberi Petunjuk, selalu berbuah mimpi yang sama. Tentang lelaki bersetelan putih yang tersenyum di bawah remang cahaya bulan purnama. Menggeleng-geleng sebelum hilang ditelan asap.
Dan lelaki itu bukan salah satu dari pemuda yang datang meminangku.
*
Kesehatan Ayah memburuk. Sudah seminggu aku dan Ibu bolak-balik rumah sakit. Anehnya, tidak ada penyakit parah yang dideritanya. Banyak pikiran, kata dokter. Pihak rumah sakit hanya menyarankan agar pihak keluarga memenuhi sesuatu yang diminta Ayah. Karena suasana hati yang buruk juga berpengaruh terhadap kondisi kesehatan, apalagi sudah berumur seperti Ayah.
Aku menatap lantai rumah sakit yang beku. Gelisah melanda. Restoran tidak ada masalah. Ayah pasti memikirkan .... Ah, aku merasa disudutkan oleh keadaan.
”Ayah pasti baik-baik saja, Dik.” Fadli duduk sepuluh jengkal di sampingku.
Belakangan duda tampan ini juga ikut repot menunggui Ayah yang justru lebih senang ditemani olehnya. Seperti diperhatikan anak menantu, begitu seloroh Ayah.
“Abang pasti tahu apa yang dipikirkan Ayah, kan?” Mataku tetap tak lepas dari kotak-kotak lantai putih.
“Mungkin sudah saatnya kamu membuka hati, Dik. Pernah tidak terlintas, bisa jadi kamu salah menafsirkan petunjuk dari Allah.”
Kepalaku yang dibalut jilbab ungu pupus otomatis terangkat. Menatap Fadli lekat. “Maksud Abang?”
“Allah mungkin sudah berkata “Ya!”, namun kamu mengartikan sebaliknya. Entah kenapa, perasaan Abang berkata kamu memang dipengaruhi seseorang dari masa lalu. Lupakan, Dik, buka hatimu. Sudah cukup lama kamu menyiksa diri dalam bayang-bayang semu.”
Bibirku bergerak-gerak, tapi tak tahu ingin berucap apa. Fadli mengangguk meyakinkan. Ya Allah, jangan-jangan benar. Adakah aku selama ini terlalu terbawa perasaan?
Tanpa pamit, kutinggalkan Fadli di lorong rumah sakit. Aku ingin sendirian!
*
Lelaki itu berdiri di sana, di bawah remang cahaya bulan purnama. Setelan putih-putihnya berkilau menyilaukan. Matanya sayu menatapku sendu. Jarak kami tidak jauh. Bisa kulihat ia tersenyum kemudian menggeleng-geleng sebelum sosoknya perlahan lenyap oleh sekumpulan asap yang datang entah dari mana. Aku terpaku, tidak berusaha mencegahnya pergi. Namun, seperti ada aliran energi yang membuatku yakin ia pasti kembali.
Mimpi itu lagi. Kuusap wajah yang masih berbalut mukena. Tertidur di atas sajadah setelah istikharah. Ya Allah, kenapa masih wajahnya yang Kau hadirkan?
Otakku kembali memutar memori lama saat sedang aktif-aktifnya di pengajian kampus. Adalah Hashbi, ikhwan salih penuh kharisma dambaan hampir semua akhwat. Namun, aku yakin saat itu kekagumanku tidak hanya sepihak. Berkali-kali aku menangkap basah pemuda itu sedang memandangiku dari kejauhan. Atau buru-buru menunduk jika ketahuan melirikku lewat bulu matanya yang lebat di balik hijab.
Dan betapa mengejutkan. Saat harapanku melambung ke awan, Hashbi melayangkan lamaran setelah sarjana S1-nya diresmikan. Bukan ke rumahku. Kabar yang beredar ia diamanahi kyainya di pesantren untuk menikahi putrinya.
Mimpi-mimpi yang sudah kubangun hancur seketika. Di saat yang bersamaan, lamaran juga deras berdatangan. Aku memilih lari ke luar negeri. Menenggelamkan diri dalam timbunan buku dan kesibukan kampus dengan harapan bayang-bayang Hashbi tidak lagi menghantui.
Namun, sekuat apapun aku berusaha, kelebat bayangnya semakin jelas dan nyata. Bahkan makin mencengkeram jiwa saat aku benar-benar ingin terlepas darinya untuk mencoba memulai hidup baru dengan orang lain.
Selalu. Setelah diskusiku dengan-Nya, ia hadir dengan senyum menawan yang dulu membuatku sanggup membuka mata semalaman. Meski aku kebingungan dan merasa berdosa bersamaan, bagaimana mungkin aku memimpikan pemuda yang sudah berstatus suami orang. Pemuda dengan setelan putih di bawah remang bulan purnama itu dia, Hashbi.
Ini harus dihentikan. Mimpi itu bukan berarti Hashbi akan datang padaku. Gelengannya bisa jadi perintah agar aku berhenti berharap. Dan bukankah dalam mimpi ia lenyap ditelan asap?
Setelah menelepon manager restoran bahwa aku batal berkunjung, kutancap Vios menuju rumah sakit. Memang masih terlalu pagi. Aku tak mau menunda, khawatir hati yang sudah mantap ini kembali goyah. Karena kemantapanku masih serupa donat, bulat tapi bolong di tengah.
Kudapati Ayah masih terlelap. Di sampingnya, Fadli tertidur bertumpukan lengan. Nanti saja. Pintu kembali kututup. Beranjak ke cafetaria rumah sakit. Segelas kopi panas semoga bisa menenangkan gemuruh di hati.
Ya Allah, ampuni hamba bila langkah ini keliru. Permudahlah bila benar, dan cegahlah bila salah, ya Rabb ....
Terngiang lagi lirih bisik Ayah padaku sore kemarin. “Kali ini Ayah mohon jangan kecewakan orang tua ini lagi, Nak. Ayah akan sangat gembira bila kamu mau menerima Fadli.”
Ya, akhirnya penolakan akibat mimpi ini harus berakhir pada lamaran keenambelas. Fadli sendiri yang memintaku lewat Ayah.
“Tante Fatma ....”
Sebuah panggilan menyadarkanku dari lamunan. Seorang anak perempuan sepuluh tahunan menghampiri mejaku.
Tante katanya? Oh, oke. Usiaku memang tak lagi pantas dipanggil kakak.
“Tante Fatma, kan?” ulangnya meyakinkan. Senyumnya sekilas mengingatkan pada ....
“Ya, apa kita pernah ketemu?” tanyaku balas tersenyum. Wajah anak ini, melihatnya sungguh menentramkan hati. Kupinta ia duduk bersama.
“Nggak, tapi Nay kenal Tante,” jawabnya riang.
“Oh, ya?” Aku menatapnya penuh minat.
“Dari Abi.” Mata gadis itu ceria saat bercerita. "Di rumah banyak foto Tante, lho! Nay paling suka tahi lalat Tante.”
Ha, apa aku sepopuler itu? Narsisku kambuh. Tanganku meraba titik hitam di hidung. Memang sangat menonjol dan tak semua orang punya. Jeli sekali anak kecil ini.
Lalu mengalirlah kisah dari bibir mungilnya. Aku menarik kesimpulan, orang tua anak kecil ini pastilah salah satu temanku di kampus dulu.
“Ibu kamu mana? Kamu sama siapa ke sini?” tanyaku makin penasaran.
“Nay sama Abi. Umi ... nggak ada, kata Abi dipanggil Allah.”
Senyumnya yang khas agak memudar. Kuusap punggung tangannya. Entahlah, seperti ada magnet yang membuat kami terasa begitu dekat padahal baru saja bersua.
“Tante mau ketemu Abi nggak? Pasti Abi seneng, deh!”
Tiba-tiba saja tanganku sudah ditarik menuju ruang VVIP. Tepat di depan kamar Ayah dirawat tarikan itu terlepas. Fadli kebetulan baru saja keluar. Ia tersenyum kikuk. Membuatku teringat akan lamarannya.
“Abi!”
Nay, gadis kecil itu berseru sambil membuka pintu di depan kamar Ayah. Refleks aku menoleh. Di atas pembaringan seorang lelaki berpakaian serba putih, seragam pasien rumah sakit, terkejut. Tampak dari matanya yang membulat saat melihatku.
Momen ini membuatku percaya, bahwa waktu terasa berhenti itu benar-benar bisa terjadi. Telingaku berdenging tak bisa mendengar selain suara angin. Aku terpaku.
Ya Allah, apakah rahasia itu sudah seutuhnya terbuka? Inikah yang ingin Kau tunjukkan padaku?
Tangan yang bebas dari selang infus terangkat, memberi kode agar mendekat. Nay membimbingku masuk.
Hening. Aku tak mampu menegakkan kepala. Setelah sekian lama menghantui lewat mimpi, kini Hashbi hadir dalam wujud nyata di depanku.
"Suamimu kenapa tidak diajak masuk?" Ia menunjuk pintu.
Aku berbalik. Ah, ternyata Fadli masih di sana. Ya Allah, harusnya aku sedang bersama dia dan menjawab lamarannya.
Bimbang menderaku. Kemantapan hati kini bak donat tinggal separuh.
Di ambang pintu Fadli tersenyum. Dua jempolnya teracung. Bibirnya bergerak mengatakan "It's OK" tanpa suara.
Aku memandangnya tak mengerti. Fadli mengangguk, kemudian berlalu.
Kembali tubuhku menghadap tempat tidur tempat Hashbi berbaring. Terbata aku menjawab,"A-aku ... aku belum menikah ...."
"Oh ...." Hanya itu tanggapan lelaki yang pesonanya masih membiusku ini. Kekakuan mewarnai suasana.
"Abi, Tante Fatma cantik ya, Bi ... kayak Umi!" celetukan polos Nay sukses membuatku salah tingkah.
Mata Hashbi menikam jantungku meski hanya sesaat pandangan kami beradu. Wajah putihnya juga memerah.
Hashbi meraih tangan mungil Nay dalam genggaman kemudian berkata,"Coba Nay tanya sama Tante Fatma, mau nggak jadi Umi barunya Nay?"
Oh, pasti telingaku belum kembali normal. Aku tidak salah dengar, kan?
Tangan Nay yang lain mencengkeram jariku lembut. Kami bertiga bergandengan. Gadis kecil itu mendongak memandangku. Matanya bulat ceria. Lalu keluarlah tanya itu.
"Tante Fatma mau nggak jadi Umi barunya Nay?"
Aku mengencangkan genggaman jariku dengan anak itu. Rasanya tak percaya dengan skenario Tuhan yang mengganti scene terlalu cepat.
Kulirik Hasbi. Ia tersenyum. Persis senyumnya dalam mimpiku. Namun, kali ini ia tidak menggeleng dan hilang ditelan asap tebal. Ia mengangguk dan tetap berada di hadapanku.
Aku tak kuasa menahan air mata. Ya Allah, lamaran ketujuhbelas ini manis sekali.
Shake Hand Camp : Logical Adventure
Lucas memandang jemu deretan tenda yang terpancang di area
perkemahan. Ini acara tahunan sekolah bagi murid baru. Shake Hand Camp,
perkemahan perkenalan.
Madame Monica berseru-seru di tengah lapangan, dia memang terlalu cerewet menjadi guru. Semua anak tampak bersemangat dan ceria. Hanya Lucas yang tidak menikmati acara ini agaknya. Malas-malasan, dia berbaring di bawah pohon mahoni, membiarkan rambut jigraknya bersatu dengan rerumputan.
“Hei, kau!”
Lucas membuka matanya yang nyaris terpejam. Angin di sini ternyata sejuk juga, membuat mata berat. Seorang anak laki-laki berdiri di ujung kakinya. Bertubuh lebih pendek dari Lucas. Hidungnya bangir dengan mata biru tua. Wajah lugunya dihiasi rambut keriting agak panjang. Lucas sudah lama mengamati anak ini di perjalanan. Selain satu-satunya bocah berambut keriting, dia juga tidak banyak bicara. Pasti bukan orang yang seru dijadikan teman.
“Ya, kenapa?” tanya Lucas.
“Madame Monica menyuruh kita mengambil air ke sungai.”
“Tidak mau!” Lucas kembali memejamkan mata.
Si keriting yang pendiam itu mendengus. “Aku laporkan pada Madame Monica nanti.”
“Oke, oke!” Lucas meraih ember yang sedari tadi ditenteng anak keriting itu kasar. “Di mana sungainya?”
Tanpa bicara, bocah keriting mempimpin langkah. Mereka berjalan di antara jejeran pohon mahoni. Jalur setapak itu berliku-liku dan akhirnya menurun. Jauh di bawah sana, pada sebuah lembah mengalir sungai jernih, menggoda Lucas untuk menyeburkan diri.
“Siapa namamu?” Lucas tiba-tiba teringat, mereka sama sekali belum berkenalan.
“Charly,” jawab si keriting.
Diam-diam Lucas tertawa, nama yang cocok dengan rambutnya. Curly Charly!
“Aku Lucas.”
“Aku tahu.” Charly menoleh ke belakang. “Semua anak kenal kau, si badung!”
Lucas melongo. Aku badung? Oh, ya. Mungkin membantah dan mengerjai Madame Monica adalah salah satu kenakalan tak termaafkan.
Mereka akhirnya sampai di tepian sungai. Lucas meloncat-loncat gembira. Sementara Charly mulai membenamkan embernya.
“Tempat ini keren!” Lucas berseru. Matanya berbinar menyaksikan permukaan sungai yang berkilau tertimpa cahaya matahari sore. Rimbunan mahoni di sepanjang tepinya meneduhkan sekitar. Ada semacam gundukan kecil tak jauh dari mereka berdiri, membuat sungai tampak menjadi bertingkat.
“Charly, ayo kita berenang!” Lucas tak hentinya berteriak gembira.
Rambut keriting Charly bergoyang saat menggeleng. “Madame Monica hanya meminta kita mengambil air, bukan berenang.”
“Oh yeah, siswa teladan!” ledek Lucas. Bocah sepuluh tahun itu mulai membuka pakaiannya. Dan, byurrr! Melompat ke dalam sungai.
“Kau kembali saja duluan, nanti aku menyusul!” Lucas melambai di tengah sungai. Berenang seolah-olah hanyut mengikuti arus.
Charly diam di tepian. Baru saja bocah keriting itu mau balik badan, teriakan Lucas menghentikan gerakannya. Tangan Lucas menggapai-gapai tak tentu arah. Dia tidak lagi berenang, tapi ... seperti diseret oleh sesuatu. Bukan arus sungai, aliran air ini cenderung tenang.
Sebelum Charly menyadari apapun, tubuh Lucas lenyap di balik gundukan kecil itu.
***
Dia mengira akan mati saat itu juga. Betapa leganya bisa kembali membuka mata. Lucas mengerjap-ngerjap, mencoba mengenali tempat ia berada sekarang. Dia mengamati sekeliling. Jika ini masih di dalam sungai, harusnya tempat ini tidak kering. Tak ada genangan air sedikit pun! Justru dinding-dinding batu mengapitnya sekarang. Buntu! Cahaya remang yang entah dari mana membantu penglihatan.
Bruk! Lucas terdorong ke depan. Sesuatu baru saja menabraknya.
“Charly!” Lucas nyaris memeluk anak itu saking senangnya. Tenang rasanya punya teman di tempat aneh ini.
“Kau baik-baik saja?” Charly merapikan rambut keritingnya. “Aku ingin menolongmu, tapi ... di mana kita?”
“Entahlah. Ada yang menarikku waktu berenang tadi, rasanya pergelangan kakiku membeku.” Lucas bergidik.
“Kalau saja kau menurut padaku, pasti kita tidak di sini. Kau memang biang masalah!” gerutu Charly.
Lucas berkacak pinggang. “Aku juga tidak minta kau ke mari menolongku kan, murid alim? Huh!”
“Aku juga menyesal, asal kau tahu!” Charly tak mau kalah.
Lucas mendengus. Dia benci disalahkan! Tapi sekarang yang terpenting adalah menemukan jalan keluar. Dia meraba-raba dinding batu, menekan-nekan seperti mendorong pintu.
Greeek!
Lucas mundur, menempelkan punggung pada dinding batu di belakangnya. Dinding batu yang didorongnya terbuka! Sebuah lorong yang temaram mengular di depan.
Bersamaan dengan itu, Charly memekik histeris. Tubuh bocah itu tiba-tiba melayang, menggantung satu meter di atas lantai. Lucas berusaha menariknya ke bawah, namun anak itu melayang semakin tinggi.
“Lagi-lagi kau membuat masalah!” dengus Charly menggapai-gapai udara.
Lucas mendongak, memandang Charly penuh penyesalan. “Bagaimana kalau kita ikuti saja lorong ini?”
Charly merengut. “Aku jalan duluan. Kau ceroboh, aku tak mau ada kesalahan lagi!”
Lucas mengangguk. Mungkin itu lebih bijaksana. Tapi ternyata Charly tidak bergerak sama sekali meski kakinya mengayuh-ngayuh udara. Lucas mencoba melewati pintu lebih dulu. Anehnya, Charly otomatis mengikuti tanpa perlu menggerakkan tubuh sedikit pun. Bocah keriting itu melayang seperti hantu!
“Oke, ini sungguh sempurna!” kata Charly. “Hidupku kini sepenuhnya di tanganmu, anak badung!”
Lucas diam saja. Lorong itu mendadak terang saat kakinya melangkah. Dinding batu abu-abu masih menjaga mereka di kiri kanan. Sementara Charly megikuti tanpa suara.
“Ada seseorang!” seru Charly. Posisinya yang lebih tinggi membuatnya bisa melihat pemandangan di depan lebih dulu.
Tampilan makhluk itu seperti penyihir. Dia memakai jubah panjang dilengkapi topi lonjong menyerupai telur. Di hadapannya ada semacam tungku dengan api menyala dengan periuk di atasnya. Di atas meja, menggunung ratusan butir telur.
“Tersesat, heh?” katanya ramah. Kedua bocah itu urung ketakutan. Meski tidak seperti manusia, wajah penyihir ini tampak menyenangkan.
“Tolonglah kami!” Charly memelas.
“Wow, ada yang melayang! Pasti temanmu sudah melakukan kesalahan.” Penyihir telur terkekeh menunjuk Charly menggantung. “Harusnya kau ketuk pintunya, bukan didorong. Ah, kami memang selalu didatangi anak-anak yang tak sopan!” lanjutnya melirik Lucas.
Lucas sendiri merengut. Masih adakah orang sopan dalam situasi panik?
Penyihir telur tertawa melihat ekspresi Lucas. Dia mengecek periuknya yang berisi air mendidih. “Sudah matang!” serunya ceria. Kemudian memindahkan sebutir telur berasap ke dalam mangkuk.
“Tolong beri tahu kami jalan keluar,” mohon Lucas.
“Boleh saja,” jawab penyihir telur sambil menimang-nimang sebutir telur mentah. “Tapi jawab dulu pertanyaanku!”
“Apa?” tanya Lucas dan Charly serempak.
“Lihat telur-telur ini. Aku menghabiskan hari untuk membuatnya matang,” katanya lesu. “Aku sudah menghitungnya, satu butir telur bisa matang dalam satu menit. Nah, menurut kalian berapa waktu yang kuperlukan untuk merebus sepuluh telur?”
“Itu masalah gampang. Sepuluh menit!” teriak Lucas bersemangat.
Si penyihir telur meliriknya lucu. “Kau terlalu tergesa-gesa, anak kecil. Pikirkan dulu pertanyaanku!”
“Aku tahu!” seru Charly dari atas. “Waktunya tetap satu menit!”
“Oh, ya? Bagaimana bisa?” Penyihir telur mendongak.
“Rebus saja sekaligus.”
Penyihir itu tertawa puas. Dirangkulnya pundak Lucas. “Siapapun namamu, kau sudah memberi banyak kesulitan pada anak cerdas itu,” katanya menunjuk Charly. “Sebagai ganjaran atas jawaban buru-burumu, temanmu tidak akan dapat berbicara.”
Charly ber-Oh panjang tanda kesal dalam hati. Lucas tersenyum kecut.
Si penyihir melemparkan sebutir telur ke dinding batu, dan sebuah pintu menganga di hadapan mereka. “Selamat jalan!” senyumnya.
Lucas melompati pintu setelah berterima kasih. Charly melambai kepada penyihir. Ah, ternyata ini belum berakhir. Lorong panjang lagi-lagi menyambut mereka. Semoga ujungnya benar-benar pintu keluar, batin Charly. Dia tidak mau jadi korban kebodohan Lucas lagi.
Namun, sial. Mereka bertemu penyihir muda yang sedang mabuk. Di tangannya tergenggam sebuah botol penuh minuman. Di belakang punggungnya, gunungan botol kosong menutupi dinding. Lucas dan Charly hampir muntah mencium aroma napasnya yang bau.
“Jangan harap kalian bisa lewat begitu saja, anak-anak!” kata penyihir mabuk itu sempoyongan.
“Apa kami harus menjawab pertanyaan lagi?” tanya Lucas. Dia berharap kali ini diberi tantangan berkelahi saja. Penyihir mabuk ini pasti bisa dikalahkan dengan mudah.
“Oh, penyihir telur menanyai kalian? Hoho, dia memang cerewet!”
Charly melambai-lambai di udara. Ingin sekali berbicara, tapi bibirnya terkunci.
“Kami harus apa?” tanya Lucas tak sabar.
“Karena temanmu melayang, maka kau yang harus melakukannya,” kata penyihir mabuk. “Itu, di sana ada botol kosong, gabus, dan koin. Masukkan koin ke dalam botol kemudian sumbat dengan gabusnya!”
Lucas melaksanakan perintah itu hati-hati. Mudah sekali, ejeknya dalam hati. “Sudah!”
“Oke, sekarang coba keluarkan koin itu tanpa menarik gabus atau memecahkan botolnya!”
Lucas melongo. Dia merasa dipermainkan. “Bagaimana mungkin?” teriaknya kesal.
“Gunakan otakmu, anak kecil. Itu perkara gampang!” cibir penyihir mabuk.
Kemarahan menguasai Lucas. Dilemparnya botol berisi koin itu ke dinding batu. Ajaib, tidak pecah sama sekali.
Penyihir mabuk terbahak-bahak. Sementara Charly menendang-nendangkan kakinya di udara, berusaha memanggil Lucas. Benar-benar tidak sabaran, gerutunya.
“Sepertinya teman melayangmu bisa membantu,” kata penyihir mabuk meneguk isi botolnya.
Lucas mendongak memandang Charly. Oh, bagaimana caranya mereka berkomunikasi bila ia tidak bisa mendengar suara si keriting itu. Tapi Charly tidak putus asa, dia berusaha memberi kode lewat gerakan tangannya. Semoga si badung itu cukup pintar untuk mengerti maksudku, batin Charly.
“Apa? Dorong?” tanya Lucas tak paham. Di atas, Charly menggunakan kedua jempolnya membuat gerakan seperti memencet sesuatu. “Gabusnya?” tanya Lucas lagi. Charly mengangguk.
Oh! Lucas menepuk keningnya. Benar, dorong saja gabusnya sampai masuk ke dalam botol. Sekuat tenaga ia menggencet gabus itu sampai jempolnya sakit. Setelah berhasil, Lucas mengguncang-guncang botol agar koin bisa keluar. Kalau koin itu tadinya bisa masuk, pasti bisa lolos lagi, bukan?
“Berhasil!” seru Lucas akhirnya. Charly tersenyum lega.
Penyihir mabuk terkekeh. “Itu berkat temanmu! Karena kau sempat melempar botolku, maka semua hukuman bepindah padamu!”
Lucas pasrah saja saat tubuhnya terangkat, mau protes sudah tidak bisa karena mulutnya terkunci. Charly mendarat lembut di lantai batu, suaranya juga sudah kembali. Si penyihir mabuk bersendawa keras, dan gunungan botol pecah satu persatu. Menyisakan lubang besar di belakangnya. “Pergilah!”
Charly melangkah lebih dulu. Ada ruangan serba putih di belakang pecahan botol itu. Sesosok makhluk kerdil duduk di sebuah kursi yang bersinar menyilaukan. Tubuhnya bening, berkilauan. Di atas kepalanya ada sebentuk mahkota. Dan tangannya terbuat dari es dengan jari kurus panjang.
Lucas menunjuk-nunjuk dari atas, berpikir mungkin makhluk inilah yang sudah menyeretnya saat berenang.
“Selamat datang di Under River, anak-anak!” katanya ramah. “Aku Raja Sungai.”
Charly membungkuk sopan. “Bisakah kau membantu kami? Kami ingin kembali ke perkemahan.”
“Aku suka kau.” Raja Sungai memandang Charly lembut. “Kau terjebak di sini karena ingin membantu temanmu, kan?”
“Dia memang agak nakal,” jawab Charly sambil tersenyum.
Lucas tertunduk lesu di udara. Raja Sungai tertawa. “Sayangnya kalian tidak bisa keluar dari sini tanpa menjawab pertanyaanku. Yang menjawab dengan tepat, bisa kembali ke perkemahan dengan selamat. Ah, juga ada sebuah hadiah istimewa!”
“Maksudmu yang menjawab salah akan selamanya terjebak di sini?” tanya Charly ngeri.
Raja Sungai mengangguk. “Aku punya banyak sekali apel. Nah, berapa apel yang bisa kau masukkan ke dalam keranjang yang kosong?”
Dia memandang Lucas dan Charly bergantian. “Siapa yang mau menjawab lebih dulu?”
Lucas mengacungkan tangannya. Mudah, susun saja apel-apel itu sampai keranjang penuh, pikirnya. Maka ia melayang ke meja dan mulai memindahkan apel itu satu-satu ke dalam keranjang. Ada lima puluh buah apel. Lucas memandang raja, tanda pekerjaannya sudah selesai.
“Wow, kau pintar menyusun apel! Aku bahkan tidak bisa memindahkan setengahnya,” seru Raja Sungai girang.
Mata Lucas berbinar.
“Sayangnya kau keliru, anak kecil. Bukan itu jawabannya!”
Lucas terhenyak. Tiba-tiba saja tubuhnya disambar seutas tali bening, mengikatnya pada sebuah tiang di sudut ruangan.
“Bagaimana denganmu?” Raja melirik Charly.
Si keriting menggaruk kepalanya. Dia harus berhati-hati. Pelan, dia maju ke meja dengan gunungan apel di atasnya. Menimang-nimang sebuah apel, kemudian meletakkannya di dalam keranjang kosong.
“Satu saja?” Raja Sungai memandang Charly penuh minat.
Charly mengangguk yakin. “Karena setelah satu apel dimasukkan ke dalam keranjang, berarti keranjangnya tidak kosong lagi.”
“Mengagumkan!” Raja bertepuk tangan. “Sebelum pintunya kubuka, kau boleh minta apa saja!”
“Apapun?” tanya Charly.
“Kecuali yang menyangkut teman badungmu.” Raja Sungai tersenyum seolah bisa membaca pikiran Charly.
Si keriting memandang Lucas yang menangis di tiang. Senakal apapun dia, Charly tak mungkin meninggalkannya di sini.
“Aku minta ... cabut semua hukuman Lucas,” kata Charly mantap.
“Kau yakin? Itu artinya kau tidak bisa kembali ke perkemahan.”
Charly mengangguk cepat.
Tiba-tiba tiang tempat Lucas terikat rubuh membentur dinding batu. Lalu berangsur-angsur dinding itu menganga membentuk sebuah pintu.
“Tugasku sudah selesai. Pergilah kalian berdua! Sampaikan salamku pada Madame Monica, oke? Aku selalu suka wanita cerewet itu.” Raja Sungai tertawa.
Meski kebingungan, Charly dan Lucas berebut melewati pintu. Ember yang mereka bawa sudah menunggu di sana. Bergantian mereka membawanya kembali ke perkemahan. Kali ini tanpa berkelahi sedikit pun!
“Madame Monica!” Mereka menyerahkan ember takut-takut. Pasti mereka sudah pergi terlalu lama.
Wanita bersanggul tinggi itu mengamati Lucas dan Charly dari balik kaca matanya. “Wah, kalian kembali lebih cepat dari perkiraanku. Raja Sungai melaporkan kalian teman yang kompak.”
Kedua bocah itu tersipu.
“Jangan sebut ini Shake Hand Camp bila kau tidak mendapatkan teman!” Madame Monica mengedipkan matanya.
Lucas dan Charly tertawa mengerti.
-----
Madame Monica berseru-seru di tengah lapangan, dia memang terlalu cerewet menjadi guru. Semua anak tampak bersemangat dan ceria. Hanya Lucas yang tidak menikmati acara ini agaknya. Malas-malasan, dia berbaring di bawah pohon mahoni, membiarkan rambut jigraknya bersatu dengan rerumputan.
“Hei, kau!”
Lucas membuka matanya yang nyaris terpejam. Angin di sini ternyata sejuk juga, membuat mata berat. Seorang anak laki-laki berdiri di ujung kakinya. Bertubuh lebih pendek dari Lucas. Hidungnya bangir dengan mata biru tua. Wajah lugunya dihiasi rambut keriting agak panjang. Lucas sudah lama mengamati anak ini di perjalanan. Selain satu-satunya bocah berambut keriting, dia juga tidak banyak bicara. Pasti bukan orang yang seru dijadikan teman.
“Ya, kenapa?” tanya Lucas.
“Madame Monica menyuruh kita mengambil air ke sungai.”
“Tidak mau!” Lucas kembali memejamkan mata.
Si keriting yang pendiam itu mendengus. “Aku laporkan pada Madame Monica nanti.”
“Oke, oke!” Lucas meraih ember yang sedari tadi ditenteng anak keriting itu kasar. “Di mana sungainya?”
Tanpa bicara, bocah keriting mempimpin langkah. Mereka berjalan di antara jejeran pohon mahoni. Jalur setapak itu berliku-liku dan akhirnya menurun. Jauh di bawah sana, pada sebuah lembah mengalir sungai jernih, menggoda Lucas untuk menyeburkan diri.
“Siapa namamu?” Lucas tiba-tiba teringat, mereka sama sekali belum berkenalan.
“Charly,” jawab si keriting.
Diam-diam Lucas tertawa, nama yang cocok dengan rambutnya. Curly Charly!
“Aku Lucas.”
“Aku tahu.” Charly menoleh ke belakang. “Semua anak kenal kau, si badung!”
Lucas melongo. Aku badung? Oh, ya. Mungkin membantah dan mengerjai Madame Monica adalah salah satu kenakalan tak termaafkan.
Mereka akhirnya sampai di tepian sungai. Lucas meloncat-loncat gembira. Sementara Charly mulai membenamkan embernya.
“Tempat ini keren!” Lucas berseru. Matanya berbinar menyaksikan permukaan sungai yang berkilau tertimpa cahaya matahari sore. Rimbunan mahoni di sepanjang tepinya meneduhkan sekitar. Ada semacam gundukan kecil tak jauh dari mereka berdiri, membuat sungai tampak menjadi bertingkat.
“Charly, ayo kita berenang!” Lucas tak hentinya berteriak gembira.
Rambut keriting Charly bergoyang saat menggeleng. “Madame Monica hanya meminta kita mengambil air, bukan berenang.”
“Oh yeah, siswa teladan!” ledek Lucas. Bocah sepuluh tahun itu mulai membuka pakaiannya. Dan, byurrr! Melompat ke dalam sungai.
“Kau kembali saja duluan, nanti aku menyusul!” Lucas melambai di tengah sungai. Berenang seolah-olah hanyut mengikuti arus.
Charly diam di tepian. Baru saja bocah keriting itu mau balik badan, teriakan Lucas menghentikan gerakannya. Tangan Lucas menggapai-gapai tak tentu arah. Dia tidak lagi berenang, tapi ... seperti diseret oleh sesuatu. Bukan arus sungai, aliran air ini cenderung tenang.
Sebelum Charly menyadari apapun, tubuh Lucas lenyap di balik gundukan kecil itu.
***
Dia mengira akan mati saat itu juga. Betapa leganya bisa kembali membuka mata. Lucas mengerjap-ngerjap, mencoba mengenali tempat ia berada sekarang. Dia mengamati sekeliling. Jika ini masih di dalam sungai, harusnya tempat ini tidak kering. Tak ada genangan air sedikit pun! Justru dinding-dinding batu mengapitnya sekarang. Buntu! Cahaya remang yang entah dari mana membantu penglihatan.
Bruk! Lucas terdorong ke depan. Sesuatu baru saja menabraknya.
“Charly!” Lucas nyaris memeluk anak itu saking senangnya. Tenang rasanya punya teman di tempat aneh ini.
“Kau baik-baik saja?” Charly merapikan rambut keritingnya. “Aku ingin menolongmu, tapi ... di mana kita?”
“Entahlah. Ada yang menarikku waktu berenang tadi, rasanya pergelangan kakiku membeku.” Lucas bergidik.
“Kalau saja kau menurut padaku, pasti kita tidak di sini. Kau memang biang masalah!” gerutu Charly.
Lucas berkacak pinggang. “Aku juga tidak minta kau ke mari menolongku kan, murid alim? Huh!”
“Aku juga menyesal, asal kau tahu!” Charly tak mau kalah.
Lucas mendengus. Dia benci disalahkan! Tapi sekarang yang terpenting adalah menemukan jalan keluar. Dia meraba-raba dinding batu, menekan-nekan seperti mendorong pintu.
Greeek!
Lucas mundur, menempelkan punggung pada dinding batu di belakangnya. Dinding batu yang didorongnya terbuka! Sebuah lorong yang temaram mengular di depan.
Bersamaan dengan itu, Charly memekik histeris. Tubuh bocah itu tiba-tiba melayang, menggantung satu meter di atas lantai. Lucas berusaha menariknya ke bawah, namun anak itu melayang semakin tinggi.
“Lagi-lagi kau membuat masalah!” dengus Charly menggapai-gapai udara.
Lucas mendongak, memandang Charly penuh penyesalan. “Bagaimana kalau kita ikuti saja lorong ini?”
Charly merengut. “Aku jalan duluan. Kau ceroboh, aku tak mau ada kesalahan lagi!”
Lucas mengangguk. Mungkin itu lebih bijaksana. Tapi ternyata Charly tidak bergerak sama sekali meski kakinya mengayuh-ngayuh udara. Lucas mencoba melewati pintu lebih dulu. Anehnya, Charly otomatis mengikuti tanpa perlu menggerakkan tubuh sedikit pun. Bocah keriting itu melayang seperti hantu!
“Oke, ini sungguh sempurna!” kata Charly. “Hidupku kini sepenuhnya di tanganmu, anak badung!”
Lucas diam saja. Lorong itu mendadak terang saat kakinya melangkah. Dinding batu abu-abu masih menjaga mereka di kiri kanan. Sementara Charly megikuti tanpa suara.
“Ada seseorang!” seru Charly. Posisinya yang lebih tinggi membuatnya bisa melihat pemandangan di depan lebih dulu.
Tampilan makhluk itu seperti penyihir. Dia memakai jubah panjang dilengkapi topi lonjong menyerupai telur. Di hadapannya ada semacam tungku dengan api menyala dengan periuk di atasnya. Di atas meja, menggunung ratusan butir telur.
“Tersesat, heh?” katanya ramah. Kedua bocah itu urung ketakutan. Meski tidak seperti manusia, wajah penyihir ini tampak menyenangkan.
“Tolonglah kami!” Charly memelas.
“Wow, ada yang melayang! Pasti temanmu sudah melakukan kesalahan.” Penyihir telur terkekeh menunjuk Charly menggantung. “Harusnya kau ketuk pintunya, bukan didorong. Ah, kami memang selalu didatangi anak-anak yang tak sopan!” lanjutnya melirik Lucas.
Lucas sendiri merengut. Masih adakah orang sopan dalam situasi panik?
Penyihir telur tertawa melihat ekspresi Lucas. Dia mengecek periuknya yang berisi air mendidih. “Sudah matang!” serunya ceria. Kemudian memindahkan sebutir telur berasap ke dalam mangkuk.
“Tolong beri tahu kami jalan keluar,” mohon Lucas.
“Boleh saja,” jawab penyihir telur sambil menimang-nimang sebutir telur mentah. “Tapi jawab dulu pertanyaanku!”
“Apa?” tanya Lucas dan Charly serempak.
“Lihat telur-telur ini. Aku menghabiskan hari untuk membuatnya matang,” katanya lesu. “Aku sudah menghitungnya, satu butir telur bisa matang dalam satu menit. Nah, menurut kalian berapa waktu yang kuperlukan untuk merebus sepuluh telur?”
“Itu masalah gampang. Sepuluh menit!” teriak Lucas bersemangat.
Si penyihir telur meliriknya lucu. “Kau terlalu tergesa-gesa, anak kecil. Pikirkan dulu pertanyaanku!”
“Aku tahu!” seru Charly dari atas. “Waktunya tetap satu menit!”
“Oh, ya? Bagaimana bisa?” Penyihir telur mendongak.
“Rebus saja sekaligus.”
Penyihir itu tertawa puas. Dirangkulnya pundak Lucas. “Siapapun namamu, kau sudah memberi banyak kesulitan pada anak cerdas itu,” katanya menunjuk Charly. “Sebagai ganjaran atas jawaban buru-burumu, temanmu tidak akan dapat berbicara.”
Charly ber-Oh panjang tanda kesal dalam hati. Lucas tersenyum kecut.
Si penyihir melemparkan sebutir telur ke dinding batu, dan sebuah pintu menganga di hadapan mereka. “Selamat jalan!” senyumnya.
Lucas melompati pintu setelah berterima kasih. Charly melambai kepada penyihir. Ah, ternyata ini belum berakhir. Lorong panjang lagi-lagi menyambut mereka. Semoga ujungnya benar-benar pintu keluar, batin Charly. Dia tidak mau jadi korban kebodohan Lucas lagi.
Namun, sial. Mereka bertemu penyihir muda yang sedang mabuk. Di tangannya tergenggam sebuah botol penuh minuman. Di belakang punggungnya, gunungan botol kosong menutupi dinding. Lucas dan Charly hampir muntah mencium aroma napasnya yang bau.
“Jangan harap kalian bisa lewat begitu saja, anak-anak!” kata penyihir mabuk itu sempoyongan.
“Apa kami harus menjawab pertanyaan lagi?” tanya Lucas. Dia berharap kali ini diberi tantangan berkelahi saja. Penyihir mabuk ini pasti bisa dikalahkan dengan mudah.
“Oh, penyihir telur menanyai kalian? Hoho, dia memang cerewet!”
Charly melambai-lambai di udara. Ingin sekali berbicara, tapi bibirnya terkunci.
“Kami harus apa?” tanya Lucas tak sabar.
“Karena temanmu melayang, maka kau yang harus melakukannya,” kata penyihir mabuk. “Itu, di sana ada botol kosong, gabus, dan koin. Masukkan koin ke dalam botol kemudian sumbat dengan gabusnya!”
Lucas melaksanakan perintah itu hati-hati. Mudah sekali, ejeknya dalam hati. “Sudah!”
“Oke, sekarang coba keluarkan koin itu tanpa menarik gabus atau memecahkan botolnya!”
Lucas melongo. Dia merasa dipermainkan. “Bagaimana mungkin?” teriaknya kesal.
“Gunakan otakmu, anak kecil. Itu perkara gampang!” cibir penyihir mabuk.
Kemarahan menguasai Lucas. Dilemparnya botol berisi koin itu ke dinding batu. Ajaib, tidak pecah sama sekali.
Penyihir mabuk terbahak-bahak. Sementara Charly menendang-nendangkan kakinya di udara, berusaha memanggil Lucas. Benar-benar tidak sabaran, gerutunya.
“Sepertinya teman melayangmu bisa membantu,” kata penyihir mabuk meneguk isi botolnya.
Lucas mendongak memandang Charly. Oh, bagaimana caranya mereka berkomunikasi bila ia tidak bisa mendengar suara si keriting itu. Tapi Charly tidak putus asa, dia berusaha memberi kode lewat gerakan tangannya. Semoga si badung itu cukup pintar untuk mengerti maksudku, batin Charly.
“Apa? Dorong?” tanya Lucas tak paham. Di atas, Charly menggunakan kedua jempolnya membuat gerakan seperti memencet sesuatu. “Gabusnya?” tanya Lucas lagi. Charly mengangguk.
Oh! Lucas menepuk keningnya. Benar, dorong saja gabusnya sampai masuk ke dalam botol. Sekuat tenaga ia menggencet gabus itu sampai jempolnya sakit. Setelah berhasil, Lucas mengguncang-guncang botol agar koin bisa keluar. Kalau koin itu tadinya bisa masuk, pasti bisa lolos lagi, bukan?
“Berhasil!” seru Lucas akhirnya. Charly tersenyum lega.
Penyihir mabuk terkekeh. “Itu berkat temanmu! Karena kau sempat melempar botolku, maka semua hukuman bepindah padamu!”
Lucas pasrah saja saat tubuhnya terangkat, mau protes sudah tidak bisa karena mulutnya terkunci. Charly mendarat lembut di lantai batu, suaranya juga sudah kembali. Si penyihir mabuk bersendawa keras, dan gunungan botol pecah satu persatu. Menyisakan lubang besar di belakangnya. “Pergilah!”
Charly melangkah lebih dulu. Ada ruangan serba putih di belakang pecahan botol itu. Sesosok makhluk kerdil duduk di sebuah kursi yang bersinar menyilaukan. Tubuhnya bening, berkilauan. Di atas kepalanya ada sebentuk mahkota. Dan tangannya terbuat dari es dengan jari kurus panjang.
Lucas menunjuk-nunjuk dari atas, berpikir mungkin makhluk inilah yang sudah menyeretnya saat berenang.
“Selamat datang di Under River, anak-anak!” katanya ramah. “Aku Raja Sungai.”
Charly membungkuk sopan. “Bisakah kau membantu kami? Kami ingin kembali ke perkemahan.”
“Aku suka kau.” Raja Sungai memandang Charly lembut. “Kau terjebak di sini karena ingin membantu temanmu, kan?”
“Dia memang agak nakal,” jawab Charly sambil tersenyum.
Lucas tertunduk lesu di udara. Raja Sungai tertawa. “Sayangnya kalian tidak bisa keluar dari sini tanpa menjawab pertanyaanku. Yang menjawab dengan tepat, bisa kembali ke perkemahan dengan selamat. Ah, juga ada sebuah hadiah istimewa!”
“Maksudmu yang menjawab salah akan selamanya terjebak di sini?” tanya Charly ngeri.
Raja Sungai mengangguk. “Aku punya banyak sekali apel. Nah, berapa apel yang bisa kau masukkan ke dalam keranjang yang kosong?”
Dia memandang Lucas dan Charly bergantian. “Siapa yang mau menjawab lebih dulu?”
Lucas mengacungkan tangannya. Mudah, susun saja apel-apel itu sampai keranjang penuh, pikirnya. Maka ia melayang ke meja dan mulai memindahkan apel itu satu-satu ke dalam keranjang. Ada lima puluh buah apel. Lucas memandang raja, tanda pekerjaannya sudah selesai.
“Wow, kau pintar menyusun apel! Aku bahkan tidak bisa memindahkan setengahnya,” seru Raja Sungai girang.
Mata Lucas berbinar.
“Sayangnya kau keliru, anak kecil. Bukan itu jawabannya!”
Lucas terhenyak. Tiba-tiba saja tubuhnya disambar seutas tali bening, mengikatnya pada sebuah tiang di sudut ruangan.
“Bagaimana denganmu?” Raja melirik Charly.
Si keriting menggaruk kepalanya. Dia harus berhati-hati. Pelan, dia maju ke meja dengan gunungan apel di atasnya. Menimang-nimang sebuah apel, kemudian meletakkannya di dalam keranjang kosong.
“Satu saja?” Raja Sungai memandang Charly penuh minat.
Charly mengangguk yakin. “Karena setelah satu apel dimasukkan ke dalam keranjang, berarti keranjangnya tidak kosong lagi.”
“Mengagumkan!” Raja bertepuk tangan. “Sebelum pintunya kubuka, kau boleh minta apa saja!”
“Apapun?” tanya Charly.
“Kecuali yang menyangkut teman badungmu.” Raja Sungai tersenyum seolah bisa membaca pikiran Charly.
Si keriting memandang Lucas yang menangis di tiang. Senakal apapun dia, Charly tak mungkin meninggalkannya di sini.
“Aku minta ... cabut semua hukuman Lucas,” kata Charly mantap.
“Kau yakin? Itu artinya kau tidak bisa kembali ke perkemahan.”
Charly mengangguk cepat.
Tiba-tiba tiang tempat Lucas terikat rubuh membentur dinding batu. Lalu berangsur-angsur dinding itu menganga membentuk sebuah pintu.
“Tugasku sudah selesai. Pergilah kalian berdua! Sampaikan salamku pada Madame Monica, oke? Aku selalu suka wanita cerewet itu.” Raja Sungai tertawa.
Meski kebingungan, Charly dan Lucas berebut melewati pintu. Ember yang mereka bawa sudah menunggu di sana. Bergantian mereka membawanya kembali ke perkemahan. Kali ini tanpa berkelahi sedikit pun!
“Madame Monica!” Mereka menyerahkan ember takut-takut. Pasti mereka sudah pergi terlalu lama.
Wanita bersanggul tinggi itu mengamati Lucas dan Charly dari balik kaca matanya. “Wah, kalian kembali lebih cepat dari perkiraanku. Raja Sungai melaporkan kalian teman yang kompak.”
Kedua bocah itu tersipu.
“Jangan sebut ini Shake Hand Camp bila kau tidak mendapatkan teman!” Madame Monica mengedipkan matanya.
Lucas dan Charly tertawa mengerti.
-----
Dayang Bidadari
“Lu kelewatan, Bro! Si Hesty marah banget sama gua tau nggak!”
Athar menghempaskan tubuhnya di kasur. Satu dari tiga perabot yang mengisi kamar kosku. Yang lainnya lemari kecil dan dispenser.
“Maap deh, gua nggak maksud. Tapi kan, ini urusan hati, Bro. Nggak bisa dipaksa,” kilahku.
“Iya, gua tau. Tapi doi tersinggung berat. Elu, sih ....”
Aku garuk-garuk kepala. Ribet deh, ah!
“Ntar gua samperin buat minta maap, deh ....”
“Lu kira gampang? Tau sendiri cewek kalo marah. Apalagi si Hesty, bisa habis lu dicakar.” Athar bergidik.
“Dia sepupu lu apa macan, sih?”
Athar mengacungkan bogemnya. “Bacot lu, Brooo.”
Aku ngakak. “Seandainya kemarin Hesty datang sendirian, gua pasti nggak plin-plan gini, Bro.”
“Ah, dasar elunya aja nggak konsisten!” dengus Athar.
“Beneran!” Aku mengacungkan telujuk dan jari tengah. “Seperti kata pepatah, Bro, pandangan pertama begitu menggoda, berikutnya terserah Anda! Itu yang gua alamin.”
“Apaan sih, lu? Kok gua nggak nyambung? Yang bego pasti elu!” Athar duduk dari posisi berbaringnya.
“Saat kemunculannya, gua emang cuma lihat Hesty yang jalan ke arah gua. Senyumnya, Brooo, nggak kuaaaat! Langkahnya teratur, Bro, ayuuu kayak putri keraton. Ckckck,waktu itu gua percaya, ternyata bidadari beneran bisa nyasar di bumi.”
“Lebay lu!”
“Ini kenyataan!” seruku. “Begitu dekat, gua baru ngeh, di samping Hesty si bidadari, rupanya ada dayang-dayang, si Lusi.”
“Terus lu tiba-tiba khilaf jatuh hati sama dayang-dayangnya bidadari gitu? Oon lu!” Tangan kekar Athar mendarat di jidatku.
“Nggak! Atau tepatnya belum, Bro.”
“Tuh, kan! Mata kantong kresek lu dasar!”
“Denger dulu, Bro.” Aku menahan tangan Athar yang siap menjitak lagi. “Setelah ngobrol ini itu, tiba-tiba si Hesty pamit ke toilet. Tinggallah gua berdua Lusi. Nah, dari situ gua bikin banyak perbandingan!”
Aku meneguk segelas air putih sebelum melanjutkan. “Mungkin karena terlalu fokus ke cantiknya si Hesty, gua baru sadar ... Si Lusi itu, Bro, beeeugh ...! ” Jempolku teracung.
“Gitu, ye?” Athar menatapku tak percaya. Aku tahu cowok flamboyan ini mulai penasaran.
“Cerdas dan sederhana. Itu point-nya!”
“Maksud lu sepupu gua bego, gitu?”
Jiaaah. Si Athar mikirnya jelek terus, ya.
“Nggak begitu juga ....”
“Berarti iya!” Athar melotot.
“Gua sama Hesty itu ibarat lagi megang saklar lampu, Bro. Gua keukeuh mencet On, die gencet tombol Off kenceng-kenceng.”
“Apaaaa lagi maksudnya,” kata Athar mulai putus asa.
“Gua udah berusaha buka topik obrolan, Bro. Tapi die tutup dengan ... sorry-sorry to say, ya ... jawaban anak TK semisal “Kasih tau gak, yaaa” atau “Yaaa gitu, deeeh”. Males banget, kan? Buat gua itu nutup pintu pake dibanting, Bro. Game over!”
Athar manggut-manggut. “Kalo Lusi?”
“Ah, doi apa adanya, Bro. Bikin terkagum-kagum deh, pokoknya!” jawabku menggebu-gebu. “ Tau bilang tau, nggak tau dia nanya gua. Kan ada timbal baliknya! Sekalian gua bisa pamer kecerdasan otak gua, ya nggak?”
Athar menatapku lama. “Masuk akal. Tumben lu bener?”
Kutepuk dada yang cuma dibungkus kaos. “Guaaa! Lu cari juga dong, yang kayak si Lusi. Cantiknya itu dari dalem, Bro. Muka kinclong kalo otak bolong, aihhh toloooong. Hahahah!”
“Lu pernah digigit drakula belum?” Athar bertanya keluar topik.
“Belum. Untung di Indonesia adanya pocong, ompong!” tawaku menjadi.
“Ada!”
“Mana?”
Tiba-tiba Athar menarik leherku. “Yang otaknya bolong itu sepupu gua, begoooo!”
Sigap kutepis tangannya dan langsung ngibrit. “Ampuuuuun!”
Athar menghempaskan tubuhnya di kasur. Satu dari tiga perabot yang mengisi kamar kosku. Yang lainnya lemari kecil dan dispenser.
“Maap deh, gua nggak maksud. Tapi kan, ini urusan hati, Bro. Nggak bisa dipaksa,” kilahku.
“Iya, gua tau. Tapi doi tersinggung berat. Elu, sih ....”
Aku garuk-garuk kepala. Ribet deh, ah!
“Ntar gua samperin buat minta maap, deh ....”
“Lu kira gampang? Tau sendiri cewek kalo marah. Apalagi si Hesty, bisa habis lu dicakar.” Athar bergidik.
“Dia sepupu lu apa macan, sih?”
Athar mengacungkan bogemnya. “Bacot lu, Brooo.”
Aku ngakak. “Seandainya kemarin Hesty datang sendirian, gua pasti nggak plin-plan gini, Bro.”
“Ah, dasar elunya aja nggak konsisten!” dengus Athar.
“Beneran!” Aku mengacungkan telujuk dan jari tengah. “Seperti kata pepatah, Bro, pandangan pertama begitu menggoda, berikutnya terserah Anda! Itu yang gua alamin.”
“Apaan sih, lu? Kok gua nggak nyambung? Yang bego pasti elu!” Athar duduk dari posisi berbaringnya.
“Saat kemunculannya, gua emang cuma lihat Hesty yang jalan ke arah gua. Senyumnya, Brooo, nggak kuaaaat! Langkahnya teratur, Bro, ayuuu kayak putri keraton. Ckckck,waktu itu gua percaya, ternyata bidadari beneran bisa nyasar di bumi.”
“Lebay lu!”
“Ini kenyataan!” seruku. “Begitu dekat, gua baru ngeh, di samping Hesty si bidadari, rupanya ada dayang-dayang, si Lusi.”
“Terus lu tiba-tiba khilaf jatuh hati sama dayang-dayangnya bidadari gitu? Oon lu!” Tangan kekar Athar mendarat di jidatku.
“Nggak! Atau tepatnya belum, Bro.”
“Tuh, kan! Mata kantong kresek lu dasar!”
“Denger dulu, Bro.” Aku menahan tangan Athar yang siap menjitak lagi. “Setelah ngobrol ini itu, tiba-tiba si Hesty pamit ke toilet. Tinggallah gua berdua Lusi. Nah, dari situ gua bikin banyak perbandingan!”
Aku meneguk segelas air putih sebelum melanjutkan. “Mungkin karena terlalu fokus ke cantiknya si Hesty, gua baru sadar ... Si Lusi itu, Bro, beeeugh ...! ” Jempolku teracung.
“Gitu, ye?” Athar menatapku tak percaya. Aku tahu cowok flamboyan ini mulai penasaran.
“Cerdas dan sederhana. Itu point-nya!”
“Maksud lu sepupu gua bego, gitu?”
Jiaaah. Si Athar mikirnya jelek terus, ya.
“Nggak begitu juga ....”
“Berarti iya!” Athar melotot.
“Gua sama Hesty itu ibarat lagi megang saklar lampu, Bro. Gua keukeuh mencet On, die gencet tombol Off kenceng-kenceng.”
“Apaaaa lagi maksudnya,” kata Athar mulai putus asa.
“Gua udah berusaha buka topik obrolan, Bro. Tapi die tutup dengan ... sorry-sorry to say, ya ... jawaban anak TK semisal “Kasih tau gak, yaaa” atau “Yaaa gitu, deeeh”. Males banget, kan? Buat gua itu nutup pintu pake dibanting, Bro. Game over!”
Athar manggut-manggut. “Kalo Lusi?”
“Ah, doi apa adanya, Bro. Bikin terkagum-kagum deh, pokoknya!” jawabku menggebu-gebu. “ Tau bilang tau, nggak tau dia nanya gua. Kan ada timbal baliknya! Sekalian gua bisa pamer kecerdasan otak gua, ya nggak?”
Athar menatapku lama. “Masuk akal. Tumben lu bener?”
Kutepuk dada yang cuma dibungkus kaos. “Guaaa! Lu cari juga dong, yang kayak si Lusi. Cantiknya itu dari dalem, Bro. Muka kinclong kalo otak bolong, aihhh toloooong. Hahahah!”
“Lu pernah digigit drakula belum?” Athar bertanya keluar topik.
“Belum. Untung di Indonesia adanya pocong, ompong!” tawaku menjadi.
“Ada!”
“Mana?”
Tiba-tiba Athar menarik leherku. “Yang otaknya bolong itu sepupu gua, begoooo!”
Sigap kutepis tangannya dan langsung ngibrit. “Ampuuuuun!”
Beauty Inside, Bright Outside
Sheila mengejar Uul, merasa tak enak hati. Dia pasti sudah melukai perasaan sahabatnya sendiri.
"Ul!"
Yang dipanggil malah lari semakin kencang, menghilang di balik pintu toilet sekolah.
"Ul ..., sorry .... Aku nggak ada maksud ngejek kamu."
Di dalam toilet yang bau, air mata Uul berlomba dengan air keran yang sengaja ia putar habis. Mirip di sinetron-sinetron. Lebay kamu, Ul!
Nggak. Ini bukan lebay. Uul hampir tidak pernah menangis, apalagi untuk hal-hal sepele seperti ini. Tapi, kali ini gadis itu sedih bukan main. Hati remajanya terluka. Percaya dirinya runtuh.
"Ul, please ...," mohon Sheila.
"Aku mau sendiri dulu, She."
Sheila maklum. Duh, pasti Uul tersinggung berat. Sahabatnya itu bukan tipikal cewek cengeng yang gampang menangis. Dan dia sudah membuatnya berurai air mata. Sungguh, Sheila tak mau kehilangan teman sebaik Uul.
"Kita masih temenan kan, Ul?"
Hanya suara muncratan air keran yang menjawab. Lesu, remaja berambut panjang itu beranjak dari sana.
Di dalam toilet, Uul mengusap air matanya. Bodoh, katanya mengatai diri sendiri. Buat apa menangis? Bukankah seharusnya ia sudah terbiasa? Lalu, kenapa ocehan ngasal Aliando begitu menyakitinya?
Kejujuran kadang memang pahit, Ul.
Sebelum ia bersembunyi di sini, Uul dan Sheila sedang bercengkrama di taman sekolah saat Aliando, cowok langganan dipanggil guru BP, iseng bertanya sambil lewat.
"Kalian kok bisa klop banget, sih?"
"Karena kami punya banyak kesamaan." Sheila yang menjawab. "Ya, kan, Ul?"
Uul mengangguk mantap.
Aliando mengerutkan kening. "Perbedaan kalian itu mencolok banget, lho," telunjuknya menuding Sheila dan Uul bergantian,"yang ini terawat, yang ini perlu dirawat! Huaaahaha!"
Wajah Uul merah padam. Tanduk mini mencuat di ubun-ubun. Terlalu! Ini sih, namanya penghinaan!
Sisa tawa Aliando masih terdengar. Dan Uul makin terluka mendapati Sheila, menjepit bibir agar tawanya tak ikut pecah. Huh! Kalau saja bukan di sekolah, Aliando pasti sudah Uul buat bungkam dengan tendangan karatenya. Tapi, Sheila ... tega!
*
Bagai itik buruk rupa.
Itulah perumpaan Uul bila sedang berdampingan dengan Sheila. Gadis itu sungguh beruntung tak perlu usaha berlebihan untuk menarik pandangan mata dan membuat orang berpaling pun enggan. Sahabatnya sejak hari pertama ospek itu, semulus mobil baru. Nggak heran, Maminya kan, owner salon and spa. Sheila yang memang udah cantik dari sononya, makin cemerlang berkat treatment di sana.
Uul sangat sadar semua itu. Bukan sekali dua kali ia dianggap tak kasat mata karena semua perhatian orang sepenuhnya buat Sheila. Dia tahu, Sheila yang selalu modis dan sangat memerhatikan penampilannya, menikmati perhatian dan tatapan kagum itu.
"Itu bentuk apresiasi atas usaha kita tampil cantik, Ul. Makanya kamu perawatan, dong ...."
Uul selama ini tak pernah ambil pusing. Meski kadang terbersit rasa iri karena jiwa remajanya menuntut untuk diakui. Sampai Aliando yang usil itu, mengejeknya telak. Cewek mana yang nggak sedih dibilang jelek?
Sebenarnya, wajah Uul nggak buruk-buruk amat, tapi nggak cakep-cakep banget juga. Sekali dilihat bikin orang noleh lagi. Heran, itu muka apa pantat monyet? Berkeruuut ....
Perbedaan mereka makin mencolok karena kulit putih susu Sheila sangat kontras dengan kulit sawo matang Uul. Tapi yang ini matang banget. Gelap. Serajin apapun pakai lotion, kulit gadis kelas tiga SMP itu, tak kunjung cerah seperti model di iklan produknya. Lagi pula, kegiatan Uul yang kebanyakan di outdoor menjadi indikator utama sehingga kulitnya menjadi sehitam ruangan saat mati lampu tengah malam.
Sheila bukannya tak pernah mengajak Uul nyalon dan perawatan di salon Maminya, minimal creambath-lah. Cuma dia selalu menolak, karena gadis berpenampilan sporty itu beralasan bisa keramas sendiri. Baginya, bebas ketombe dan kutu sudah cukup bersih dan sehat. Masalah rambut bercabang, pangkas aja pake parang!
Tapi ... mungkin tawaran nyalon Sheila tampaknya sekarang harus dipertimbangkan.
*
Saatnya berubah!!!
"Uul cantik nggak, Bang?"
Kakak laki-laki Uul, Bang Zill, melongo demi melihat penampilan adiknya yang ... beda!
"Nggak salah kamu, Dek?"
"Cantik nggaaak?" Uul gemas, ditanya kok balik nanya.
Abangnya yang sudah kuliah semester lima itu, mengamati Uul dari ujung kepala sampai kaki. Rambut sebahu adiknya yang biasa dikuncir asal-asalan kini tergerai, lurus rapi seperti hasil bonding-an.
Lalu itu ... wajah yang lebih cerah karena sapuan bedak, itu sama sekali bukan kebiasaan Uul. Belum lipgloss yang menyulap bibir adik satu-satunya itu pink berkilau, basah seperti baru saja meyantap sepiring gorengan. Dan pakaiannya, meski tidak ekstrim langsung mengenakan rok atau gaun, Uul jelas tampak lebih perempuan dengan celana warna khaki dan kemeja putih yang diselipkan di pinggang. Gaya anak muda terkini.
"Bang! Yeee, malah bengong. Gimana?" desak Uul.
Bang Zill kembali menekuni laptop, menjawab pendek,"Lumayan!"
Uul manyun. Bang Zill payah, cakep banget begini kok, lumayan.
"Pasti diajarin dandan sama Sheila ya, Dek?"
"Ih, nggak, dong. Emang Sheila doang yang bisa cantik?" jawab Uul agak emosi. Lihat, kan, Abangnya sendiri juga menganggap Sheila lebih cantik.
"Oooh, jadi ini dalam rangka menandingi Sheila?" Bang Zill manggut-manggut,"Nggak nyangka ...."
"Nggak nyangka apa?"
"Iya, nggak nyangka Adek Abang selama ini nyimpen stok iri sama sahabatnya."
Uul tertohok. Tapi nggak ada salahnya, kan, berubah ....
"Perubahan kamu ini bentuk kemunduran, Dek," lanjut Bang Zill seolah mendengar suara hati Uul.
"Jujur nih, yaaa, Abang lebih suka kamu pakai celana olah raga kebanggaan kamu itu dari pada celana nge-press kaki begini. Ini lagi ..., baju apaan nerawang-nerawang begini. Mending pake kaos oblong kaya' biasa, deh!"
Mulai, deh, batin Uul. Belakangan ini Bang Zill punya hobi baru. Kerjaannya ceramaaah terus! Bikin Uul bete.
"Kamu tahu Tony Stark?" lanjut Bang Zill.
"Iron Man?" tebak Uul nggak yakin tapi diacungi jempol oleh abangnya.
"Tepat sekali! Kamu tahu nggak kenapa Tony harus berubah jadi Iron Man dulu baru bisa melawan musuh?"
"Biar kuat, lah ...."
"Exactly!" Bang Zill mengangkat telunjuk, persis Mario Teguh saat berkata 'Itu!' di akhir pidatonya.
"Nah, begitu jugalah hendaknya yang Adek Abang lakukan."
Uul garuk-garuk kepala, tak paham. Ditambah tata bahasa Bang Zill yang aneh barusan.
"Uul mesti jadi Iron Man, gitu?"
"Ngaco kamu!" Bang Zill duduk lebih tegak tanda serius. "Tony Stark berubah jadi Iron Man berarti dari tidak kuat menjadi kuat ...."
"Wait, wait!" potong Uul,"Uul paham. Abang mau bilang Uul yang dulu sama yang sekarang berubah dari jelek jadi cantik, kan?" katanya dengan PD full.
"Iya, berubah jadi lebih baik, that's the point, Sweety!"
"So?"
"You're not!"
Uul mulai gerah. Dari tadi dia nggak ada benernya.
Bang Zill merangkul pundak adiknya. "Tony Stark tetaplah Tony Stark walaupun dia berada dalam kostum Iron Man. Ngerti nggak?"
Uul menggeleng. Otaknya yang biasa pinter mendadak lemot begini, ya. Hah, pasti gara-gara Bang Zill kebanyakan bermain analogi. Bikin bingung!
"Jadi diri sendiri! You are you. Uul is Uul, Sheila is Sheila. Nggak mungkin bisa sama biar kamu mati-matian nyama-nyamain juga."
Hmmm. Uul manggut-manggut. Mulai mengerti maksud dan tujuan ocehan abangnya.
"Lagian ngapain kamu capek-capek berubah jadi cantik? Lihat nih, muka kita nggak jauh beda Dek, sama cakepnya!"
Spontan Uul melempar bantal kursi. Huuu, narsis!
*
"U ... ul?" Sheila terperangah. "Uul, kamu ... you look different! You look ... great!"
Uul pasrah tubuhnya diputar-putar Sheila yang pangling dengan penampilannya. Tak banyak memang yang dilakukan Uul. Gadis itu hanya berusaha tampil lebih rapi dan manis sehingga kesan tomboinya berkurang. Kemudian, ada satu tips khusus dari Bang Zill yang berbaik hati memberinya masukan agar tampak menyenangkan.
"Cantik itu nggak perlu repot," ujar Bang Zill,"senyum tulus dari hati udah cukup bikin orang tertarik. Minimal wajah kita terlihat lebih menyenangkan. Nah, kamu udah cantik kok, Dek ..., cuma kurang senyum aja. Mentang-mentang jago karate itu muka diketatin terus kaya' sempak baru!"
Betapa bahagianya Uul saran abangnya itu ternyata manjur.
"Ul, masalah kemarin ..."
"No problem, She. Kejadian itu justru membuka mataku." Uul tersenyum. Tak sabar menunggu seragam baru dan kerudungnya selesai dijahit.
Sheila mengangguk."He'eh, kamu jadi lebih cantik!"
Mereka berpelukan sambil tertawa.
"Eh, berarti sekarang kita bisa nyalon bareng, dong!"
Uul terbahak. Dasar Sheila!
"Siapa, nih. Anak baru, ya?"
Aliando muncul. Uul dan Sheila menyudahi pelukan mereka, menantang si usil.
"Wow!" Aliando berseru, tak berkedip menatap Uul.
"Kenapa? Pangling, ya?" Sheila yang masih merasa bersalah menyerang.
Wajah Aliando sungguh menyebalkan dengan ekspresi melongo dan mata berkedip-kedip pelan. Kepala semi botak itu mengangguk. "Banget! Kamu pasang susuk di mana, Ul?"
Tepat saat Uul mengambil ancang-ancang untuk melayangkan jurus karatenya, si menyebalkan itu kabur menyisakan tawa.
"Sabar ... sabar ...." Sheila menepuk pundak Uul."Orang cantik nggak boleh kasar."
Duh, Sheila ....
***
"Ul!"
Yang dipanggil malah lari semakin kencang, menghilang di balik pintu toilet sekolah.
"Ul ..., sorry .... Aku nggak ada maksud ngejek kamu."
Di dalam toilet yang bau, air mata Uul berlomba dengan air keran yang sengaja ia putar habis. Mirip di sinetron-sinetron. Lebay kamu, Ul!
Nggak. Ini bukan lebay. Uul hampir tidak pernah menangis, apalagi untuk hal-hal sepele seperti ini. Tapi, kali ini gadis itu sedih bukan main. Hati remajanya terluka. Percaya dirinya runtuh.
"Ul, please ...," mohon Sheila.
"Aku mau sendiri dulu, She."
Sheila maklum. Duh, pasti Uul tersinggung berat. Sahabatnya itu bukan tipikal cewek cengeng yang gampang menangis. Dan dia sudah membuatnya berurai air mata. Sungguh, Sheila tak mau kehilangan teman sebaik Uul.
"Kita masih temenan kan, Ul?"
Hanya suara muncratan air keran yang menjawab. Lesu, remaja berambut panjang itu beranjak dari sana.
Di dalam toilet, Uul mengusap air matanya. Bodoh, katanya mengatai diri sendiri. Buat apa menangis? Bukankah seharusnya ia sudah terbiasa? Lalu, kenapa ocehan ngasal Aliando begitu menyakitinya?
Kejujuran kadang memang pahit, Ul.
Sebelum ia bersembunyi di sini, Uul dan Sheila sedang bercengkrama di taman sekolah saat Aliando, cowok langganan dipanggil guru BP, iseng bertanya sambil lewat.
"Kalian kok bisa klop banget, sih?"
"Karena kami punya banyak kesamaan." Sheila yang menjawab. "Ya, kan, Ul?"
Uul mengangguk mantap.
Aliando mengerutkan kening. "Perbedaan kalian itu mencolok banget, lho," telunjuknya menuding Sheila dan Uul bergantian,"yang ini terawat, yang ini perlu dirawat! Huaaahaha!"
Wajah Uul merah padam. Tanduk mini mencuat di ubun-ubun. Terlalu! Ini sih, namanya penghinaan!
Sisa tawa Aliando masih terdengar. Dan Uul makin terluka mendapati Sheila, menjepit bibir agar tawanya tak ikut pecah. Huh! Kalau saja bukan di sekolah, Aliando pasti sudah Uul buat bungkam dengan tendangan karatenya. Tapi, Sheila ... tega!
*
Bagai itik buruk rupa.
Itulah perumpaan Uul bila sedang berdampingan dengan Sheila. Gadis itu sungguh beruntung tak perlu usaha berlebihan untuk menarik pandangan mata dan membuat orang berpaling pun enggan. Sahabatnya sejak hari pertama ospek itu, semulus mobil baru. Nggak heran, Maminya kan, owner salon and spa. Sheila yang memang udah cantik dari sononya, makin cemerlang berkat treatment di sana.
Uul sangat sadar semua itu. Bukan sekali dua kali ia dianggap tak kasat mata karena semua perhatian orang sepenuhnya buat Sheila. Dia tahu, Sheila yang selalu modis dan sangat memerhatikan penampilannya, menikmati perhatian dan tatapan kagum itu.
"Itu bentuk apresiasi atas usaha kita tampil cantik, Ul. Makanya kamu perawatan, dong ...."
Uul selama ini tak pernah ambil pusing. Meski kadang terbersit rasa iri karena jiwa remajanya menuntut untuk diakui. Sampai Aliando yang usil itu, mengejeknya telak. Cewek mana yang nggak sedih dibilang jelek?
Sebenarnya, wajah Uul nggak buruk-buruk amat, tapi nggak cakep-cakep banget juga. Sekali dilihat bikin orang noleh lagi. Heran, itu muka apa pantat monyet? Berkeruuut ....
Perbedaan mereka makin mencolok karena kulit putih susu Sheila sangat kontras dengan kulit sawo matang Uul. Tapi yang ini matang banget. Gelap. Serajin apapun pakai lotion, kulit gadis kelas tiga SMP itu, tak kunjung cerah seperti model di iklan produknya. Lagi pula, kegiatan Uul yang kebanyakan di outdoor menjadi indikator utama sehingga kulitnya menjadi sehitam ruangan saat mati lampu tengah malam.
Sheila bukannya tak pernah mengajak Uul nyalon dan perawatan di salon Maminya, minimal creambath-lah. Cuma dia selalu menolak, karena gadis berpenampilan sporty itu beralasan bisa keramas sendiri. Baginya, bebas ketombe dan kutu sudah cukup bersih dan sehat. Masalah rambut bercabang, pangkas aja pake parang!
Tapi ... mungkin tawaran nyalon Sheila tampaknya sekarang harus dipertimbangkan.
*
Saatnya berubah!!!
"Uul cantik nggak, Bang?"
Kakak laki-laki Uul, Bang Zill, melongo demi melihat penampilan adiknya yang ... beda!
"Nggak salah kamu, Dek?"
"Cantik nggaaak?" Uul gemas, ditanya kok balik nanya.
Abangnya yang sudah kuliah semester lima itu, mengamati Uul dari ujung kepala sampai kaki. Rambut sebahu adiknya yang biasa dikuncir asal-asalan kini tergerai, lurus rapi seperti hasil bonding-an.
Lalu itu ... wajah yang lebih cerah karena sapuan bedak, itu sama sekali bukan kebiasaan Uul. Belum lipgloss yang menyulap bibir adik satu-satunya itu pink berkilau, basah seperti baru saja meyantap sepiring gorengan. Dan pakaiannya, meski tidak ekstrim langsung mengenakan rok atau gaun, Uul jelas tampak lebih perempuan dengan celana warna khaki dan kemeja putih yang diselipkan di pinggang. Gaya anak muda terkini.
"Bang! Yeee, malah bengong. Gimana?" desak Uul.
Bang Zill kembali menekuni laptop, menjawab pendek,"Lumayan!"
Uul manyun. Bang Zill payah, cakep banget begini kok, lumayan.
"Pasti diajarin dandan sama Sheila ya, Dek?"
"Ih, nggak, dong. Emang Sheila doang yang bisa cantik?" jawab Uul agak emosi. Lihat, kan, Abangnya sendiri juga menganggap Sheila lebih cantik.
"Oooh, jadi ini dalam rangka menandingi Sheila?" Bang Zill manggut-manggut,"Nggak nyangka ...."
"Nggak nyangka apa?"
"Iya, nggak nyangka Adek Abang selama ini nyimpen stok iri sama sahabatnya."
Uul tertohok. Tapi nggak ada salahnya, kan, berubah ....
"Perubahan kamu ini bentuk kemunduran, Dek," lanjut Bang Zill seolah mendengar suara hati Uul.
"Jujur nih, yaaa, Abang lebih suka kamu pakai celana olah raga kebanggaan kamu itu dari pada celana nge-press kaki begini. Ini lagi ..., baju apaan nerawang-nerawang begini. Mending pake kaos oblong kaya' biasa, deh!"
Mulai, deh, batin Uul. Belakangan ini Bang Zill punya hobi baru. Kerjaannya ceramaaah terus! Bikin Uul bete.
"Kamu tahu Tony Stark?" lanjut Bang Zill.
"Iron Man?" tebak Uul nggak yakin tapi diacungi jempol oleh abangnya.
"Tepat sekali! Kamu tahu nggak kenapa Tony harus berubah jadi Iron Man dulu baru bisa melawan musuh?"
"Biar kuat, lah ...."
"Exactly!" Bang Zill mengangkat telunjuk, persis Mario Teguh saat berkata 'Itu!' di akhir pidatonya.
"Nah, begitu jugalah hendaknya yang Adek Abang lakukan."
Uul garuk-garuk kepala, tak paham. Ditambah tata bahasa Bang Zill yang aneh barusan.
"Uul mesti jadi Iron Man, gitu?"
"Ngaco kamu!" Bang Zill duduk lebih tegak tanda serius. "Tony Stark berubah jadi Iron Man berarti dari tidak kuat menjadi kuat ...."
"Wait, wait!" potong Uul,"Uul paham. Abang mau bilang Uul yang dulu sama yang sekarang berubah dari jelek jadi cantik, kan?" katanya dengan PD full.
"Iya, berubah jadi lebih baik, that's the point, Sweety!"
"So?"
"You're not!"
Uul mulai gerah. Dari tadi dia nggak ada benernya.
Bang Zill merangkul pundak adiknya. "Tony Stark tetaplah Tony Stark walaupun dia berada dalam kostum Iron Man. Ngerti nggak?"
Uul menggeleng. Otaknya yang biasa pinter mendadak lemot begini, ya. Hah, pasti gara-gara Bang Zill kebanyakan bermain analogi. Bikin bingung!
"Jadi diri sendiri! You are you. Uul is Uul, Sheila is Sheila. Nggak mungkin bisa sama biar kamu mati-matian nyama-nyamain juga."
Hmmm. Uul manggut-manggut. Mulai mengerti maksud dan tujuan ocehan abangnya.
"Lagian ngapain kamu capek-capek berubah jadi cantik? Lihat nih, muka kita nggak jauh beda Dek, sama cakepnya!"
Spontan Uul melempar bantal kursi. Huuu, narsis!
*
"U ... ul?" Sheila terperangah. "Uul, kamu ... you look different! You look ... great!"
Uul pasrah tubuhnya diputar-putar Sheila yang pangling dengan penampilannya. Tak banyak memang yang dilakukan Uul. Gadis itu hanya berusaha tampil lebih rapi dan manis sehingga kesan tomboinya berkurang. Kemudian, ada satu tips khusus dari Bang Zill yang berbaik hati memberinya masukan agar tampak menyenangkan.
"Cantik itu nggak perlu repot," ujar Bang Zill,"senyum tulus dari hati udah cukup bikin orang tertarik. Minimal wajah kita terlihat lebih menyenangkan. Nah, kamu udah cantik kok, Dek ..., cuma kurang senyum aja. Mentang-mentang jago karate itu muka diketatin terus kaya' sempak baru!"
Betapa bahagianya Uul saran abangnya itu ternyata manjur.
"Ul, masalah kemarin ..."
"No problem, She. Kejadian itu justru membuka mataku." Uul tersenyum. Tak sabar menunggu seragam baru dan kerudungnya selesai dijahit.
Sheila mengangguk."He'eh, kamu jadi lebih cantik!"
Mereka berpelukan sambil tertawa.
"Eh, berarti sekarang kita bisa nyalon bareng, dong!"
Uul terbahak. Dasar Sheila!
"Siapa, nih. Anak baru, ya?"
Aliando muncul. Uul dan Sheila menyudahi pelukan mereka, menantang si usil.
"Wow!" Aliando berseru, tak berkedip menatap Uul.
"Kenapa? Pangling, ya?" Sheila yang masih merasa bersalah menyerang.
Wajah Aliando sungguh menyebalkan dengan ekspresi melongo dan mata berkedip-kedip pelan. Kepala semi botak itu mengangguk. "Banget! Kamu pasang susuk di mana, Ul?"
Tepat saat Uul mengambil ancang-ancang untuk melayangkan jurus karatenya, si menyebalkan itu kabur menyisakan tawa.
"Sabar ... sabar ...." Sheila menepuk pundak Uul."Orang cantik nggak boleh kasar."
Duh, Sheila ....
***
Unknown Number
Petikan lembut gitar, intro lagu I Won’t Give Up-nya Jason Mraz
membuyarkan konsentrasiku yang serius mengamati cicak di dinding. Ada
dua ekor. Sepertinya sepasang, yang satu lebih besar dari yang lain.
Keduanya berkejaran di hijaunya dinding kamarku.
Sesekali si kecil, yang kutebak sebagai betina, menyelinap ke balik lubang ventilasi. Menggoda si jantan yang kebingungan, ke mana kekasihnya sembunyi. Jika ditambah dengan latar lagu India, pasti lebih romantis malam Minggu begini.
Ponsel di samping kepala berkedip-kedip gembira minta diraih. Kuintip nama tersangka yang mengganggu lamunanku di layarnya. Kemudian memutuskan mengabaikannya saja, menenggelamkan wajahku di balik guling yang paling setia memelukku kala bermimpi.
Namun, si tersangka rupanya tidak putus asa. Dipikir-pikir segan juga. Kusentuh tombol hijau, menempelkan ponsel hitam itu ke telinga tanpa menjawab. Sudah bagus kuterima, dengusku jemu.
Siapa pula yang tidak bosan dihubungi tiga kali sehari seperti resep obat dokter? Belum pesan yang memenuhi inbox. Kubaca, tapi langsung masuk tong sampah. Tidak menghargai? Haaah, maaf kalau begitu.
“Qoni?” sapa suara di seberang.
“Ya,” sahutku malas.
“Sudah tidur, ya?”
Ah, pertanyaan basa-basi yang tak penting. Aku diam saja.
“Aku ganggu?” tanyanya lagi.
Ingin sekali kujawab : Iya. “Ada apa, Bang?”
Terdengar desahan. “Nggak, cuma mau dengar suara Qoni sebelum tidur. Siapa tahu nanti Abang mimpi ketemu Qoni.”
Preeet! Aku berlagak mual.
“Oh. Qoni ngantuk, mau istirahat dulu.”
Ia tertawa. “Ya udah, met bobok ya, Qon. Nice dream.”
Klik!
Kuputus obrolan tanpa permisi apalagi salam. Memang tidak sopan. Tapi, ah ... aku hanya heran ada orang yang begitu tidak peka.
Baru saja mata ini hendak terpejam, ponsel yang katanya pintar itu bernyanyi lagi. Kulihat si penelepon dengan mata setengah terbuka.
Deretan nomor tak dikenal terpajang. Sepertinya bukan nomor wilayah sini, pikirku. Beda operator pula. Ah, paling anak itu lagi. Cari-cari perhatian lagi pakai nomor lain. Panggilan itu tak kugubris.
Intro itu berbunyi sekali lagi. Masih dari nomor yang sama.
Siapa, sih?
Kubiarkan saja. Selama ini aku juga tidak pernah menerima panggilan dari nomor yang tidak tersimpan di memory card. Sebelum nada panggilan berakhir, kantuk sudah membawaku ke alam mimpi.
*
“Heh, lu parah luuu. Telpon gua gak dijawab-jawab!”
Senin pagi. Bella, teman sekantor dan teman masa SMA, memberondongku dengan omelannya.
“Kapan?” tanyaku menautkan alis.
“Subuh tadi, Kucing! Gua panik, masa’ data gua ilang semua!!!” sahutnya heboh. “Padahal gua bela-belain gak kencan demi ngerjain itu data.”
“Pasti lu ganti nomor lagi, deh,” kataku yakin sambil mengecek HP. Kebiasaan Bella, gonta-ganti nomor ponsel kayak ABG galau.
“Iyeee, lagian elu punya kebiasaan tuh, yang bagusan dikit kek!” Bella merengut.
“Wait, kebiasaan gua yang mana yang jelek menurut lu?” Bikin esmosi ni orang!
“Ituuu, kebiasaan lu nggak mau terima telpon kalo nomornya nggak kenal. Kan gua jadi susah.”
“Kan lu bisa sms gua dulu, bilang kalo itu elu,” jawabku membela diri.
“Ah, jahat lu!”
Huh!
“Eh,” Bella mencolekku. “Gua baru inget, malam Minggu kemarin gua ditelpon Oki, lho!”
Oki? Kuping di balik jilbabku langsung naik. Aih, mendengar namanya saja sudah mampu membuat hatiku didera gempa–gempa kecil. Apa kabar dia? Sudah sangat lama ....
"Nah yaaa, lu bohong, kan? Gimana Oki mau nelpon elu, nomor lu aja ganti mulu." Aku tak bisa begitu saja percaya.
Bella menimpukku dengan tisu. "Dia tanya nomor gua lewat inbox FB, Sapi! Terus ... teruuuus ...," katanya sok ngepoin.
Huh! Menyebalkan. Aku tahu dia sedang menggodaku.
"Terus kami nostalgia, deeeh!" lanjutnya.
Di sampingku, Bella terus mencerocos tanpa diminta. Itu juga kebiasaannya. Tak perlu kau tanya, semua berita ke luar sendiri dari bibir sensualnya. Menceritakan percakapan dengan Oki, teman sekelas kami dulu di SMA.
Aku dihinggapi rasa iri. Kenapa bukan aku yang terlibat obrolan seru itu?
Suara cempreng Bella tak mampu mengusik bayangan sosok tinggi tegap itu dalam kepalaku. Seperti apa Oki sekarang? Aku rindu mata sipitnya yang menghilang bila tertawa.
“Kali ini gua bilangin sama elu, Qon, buang kebiasaan lu yang ogah nerima telpon dari nomor asing!” kata Bella menyentil hidungku dengan ujung kukunya yang terawat itu.
“Kenapa gua mesti nurut sama elu?” tantangku.
“Rugiii!” cibir Bella. Matanya berkedip-kedip penuh arti.
Dih! Aku mengangkat bahu tak peduli.
“Oki juga nelpon elu, Kucing. Tapi lu cuekin!” Bella langsung ngeloyor pergi.
Gerakan jariku di keyboard komputer terhenti. Oki menghubungiku?
Malam Minggu?
Sigap kuperiksa daftar panggilan masuk malam itu. Hanya ada dua nomor yang terekam. Si penelepon rutin tiga kali sehari, dan ... nomor asing yang kuabaikan ....
Sesal menyelimutiku seketika. Itu kamu, Ki???
Sesekali si kecil, yang kutebak sebagai betina, menyelinap ke balik lubang ventilasi. Menggoda si jantan yang kebingungan, ke mana kekasihnya sembunyi. Jika ditambah dengan latar lagu India, pasti lebih romantis malam Minggu begini.
Ponsel di samping kepala berkedip-kedip gembira minta diraih. Kuintip nama tersangka yang mengganggu lamunanku di layarnya. Kemudian memutuskan mengabaikannya saja, menenggelamkan wajahku di balik guling yang paling setia memelukku kala bermimpi.
Namun, si tersangka rupanya tidak putus asa. Dipikir-pikir segan juga. Kusentuh tombol hijau, menempelkan ponsel hitam itu ke telinga tanpa menjawab. Sudah bagus kuterima, dengusku jemu.
Siapa pula yang tidak bosan dihubungi tiga kali sehari seperti resep obat dokter? Belum pesan yang memenuhi inbox. Kubaca, tapi langsung masuk tong sampah. Tidak menghargai? Haaah, maaf kalau begitu.
“Qoni?” sapa suara di seberang.
“Ya,” sahutku malas.
“Sudah tidur, ya?”
Ah, pertanyaan basa-basi yang tak penting. Aku diam saja.
“Aku ganggu?” tanyanya lagi.
Ingin sekali kujawab : Iya. “Ada apa, Bang?”
Terdengar desahan. “Nggak, cuma mau dengar suara Qoni sebelum tidur. Siapa tahu nanti Abang mimpi ketemu Qoni.”
Preeet! Aku berlagak mual.
“Oh. Qoni ngantuk, mau istirahat dulu.”
Ia tertawa. “Ya udah, met bobok ya, Qon. Nice dream.”
Klik!
Kuputus obrolan tanpa permisi apalagi salam. Memang tidak sopan. Tapi, ah ... aku hanya heran ada orang yang begitu tidak peka.
Baru saja mata ini hendak terpejam, ponsel yang katanya pintar itu bernyanyi lagi. Kulihat si penelepon dengan mata setengah terbuka.
Deretan nomor tak dikenal terpajang. Sepertinya bukan nomor wilayah sini, pikirku. Beda operator pula. Ah, paling anak itu lagi. Cari-cari perhatian lagi pakai nomor lain. Panggilan itu tak kugubris.
Intro itu berbunyi sekali lagi. Masih dari nomor yang sama.
Siapa, sih?
Kubiarkan saja. Selama ini aku juga tidak pernah menerima panggilan dari nomor yang tidak tersimpan di memory card. Sebelum nada panggilan berakhir, kantuk sudah membawaku ke alam mimpi.
*
“Heh, lu parah luuu. Telpon gua gak dijawab-jawab!”
Senin pagi. Bella, teman sekantor dan teman masa SMA, memberondongku dengan omelannya.
“Kapan?” tanyaku menautkan alis.
“Subuh tadi, Kucing! Gua panik, masa’ data gua ilang semua!!!” sahutnya heboh. “Padahal gua bela-belain gak kencan demi ngerjain itu data.”
“Pasti lu ganti nomor lagi, deh,” kataku yakin sambil mengecek HP. Kebiasaan Bella, gonta-ganti nomor ponsel kayak ABG galau.
“Iyeee, lagian elu punya kebiasaan tuh, yang bagusan dikit kek!” Bella merengut.
“Wait, kebiasaan gua yang mana yang jelek menurut lu?” Bikin esmosi ni orang!
“Ituuu, kebiasaan lu nggak mau terima telpon kalo nomornya nggak kenal. Kan gua jadi susah.”
“Kan lu bisa sms gua dulu, bilang kalo itu elu,” jawabku membela diri.
“Ah, jahat lu!”
Huh!
“Eh,” Bella mencolekku. “Gua baru inget, malam Minggu kemarin gua ditelpon Oki, lho!”
Oki? Kuping di balik jilbabku langsung naik. Aih, mendengar namanya saja sudah mampu membuat hatiku didera gempa–gempa kecil. Apa kabar dia? Sudah sangat lama ....
"Nah yaaa, lu bohong, kan? Gimana Oki mau nelpon elu, nomor lu aja ganti mulu." Aku tak bisa begitu saja percaya.
Bella menimpukku dengan tisu. "Dia tanya nomor gua lewat inbox FB, Sapi! Terus ... teruuuus ...," katanya sok ngepoin.
Huh! Menyebalkan. Aku tahu dia sedang menggodaku.
"Terus kami nostalgia, deeeh!" lanjutnya.
Di sampingku, Bella terus mencerocos tanpa diminta. Itu juga kebiasaannya. Tak perlu kau tanya, semua berita ke luar sendiri dari bibir sensualnya. Menceritakan percakapan dengan Oki, teman sekelas kami dulu di SMA.
Aku dihinggapi rasa iri. Kenapa bukan aku yang terlibat obrolan seru itu?
Suara cempreng Bella tak mampu mengusik bayangan sosok tinggi tegap itu dalam kepalaku. Seperti apa Oki sekarang? Aku rindu mata sipitnya yang menghilang bila tertawa.
“Kali ini gua bilangin sama elu, Qon, buang kebiasaan lu yang ogah nerima telpon dari nomor asing!” kata Bella menyentil hidungku dengan ujung kukunya yang terawat itu.
“Kenapa gua mesti nurut sama elu?” tantangku.
“Rugiii!” cibir Bella. Matanya berkedip-kedip penuh arti.
Dih! Aku mengangkat bahu tak peduli.
“Oki juga nelpon elu, Kucing. Tapi lu cuekin!” Bella langsung ngeloyor pergi.
Gerakan jariku di keyboard komputer terhenti. Oki menghubungiku?
Malam Minggu?
Sigap kuperiksa daftar panggilan masuk malam itu. Hanya ada dua nomor yang terekam. Si penelepon rutin tiga kali sehari, dan ... nomor asing yang kuabaikan ....
Sesal menyelimutiku seketika. Itu kamu, Ki???
Semekot
Siang terasa makin panas. Cairan tubuhku menguap, begitu juga dengan
sejumput harapan. Kepalaku otomatis tertunduk setelah tengadah beberapa
lama karena harus melihat wajah ibumu yang dua puluh senti di atasku.
Tengkukku pegal. Dan semakin nyeri saat bibirnya yang merah karena
cairan sirih, melahirkan sederet kalimat yang membuatku putus asa.
Ya, putus asa. Cantik-cantik begini otakku pintar, telingaku nyaring, dan mataku normal meski kelopaknya kecil. Bisa kutangkap dengan jelas maksud dari rentetan kalimat ibumu. Dia pasti tidak tahu, kata-katanya menohok hatiku. Aku ... aku merasa kecil ....
Saraf di otakku bekerja cepat. Berputar mencari ide agar dapat menjadi seperti yang ibumu bilang. Namun, logikaku berbisik tak mungkin. Aku sudah dalam kondisi mentok. Bahkan dari artikel yang kubaca, kemungkinan akan menyusut seiring pertambahan usia.
Ada obatnya! Batinku berseru. Hah, bahkan saat demam pun aku paling malas menelan obat-obatan. Lagi pula, aku tak yakin akan berpengaruh banyak. Dengan kondisiku, mungkin hanya keajaiban yang bisa membantu.
Ah, sudahlah ....
Bisa jadi ini kode dari Tuhan. Atau jangan-jangan ibumu tahu kalau aku ....
"Pik, kamu kenal ndak sama Rosmawarni?" Itu awal percakapanku dengan ibumu siang ini di sela dentuman suara alu dan lesung. Kami sedang menumbuk beras bersama. Bergantian menikam butiran putih itu agar halus menjadi tepung.
Agak kikuk aku mengiyakan. Bukankah Rosmawarni bekas kekasihmu?
"Untunglah Yasmal putus dengannya. Amak ndak suka!"
"Kenapa, Mak?" Seulas senyum tak sadar tersungging di bibirku. Kita sama, Mak.
"Ah, Amak rasa ndak cocok dia sama anak Amak. Sudah berkali-kali Amak bilang sama Yasmal, cari perempuan yang sepantaran."
Senyumku melebar. Tak salah lagi, pasti ibumu keberatan dengan Rosmawarni karena cuma lulusan SMP. Artinya, ibumu mau kamu berjodoh dengan tamatan SMA juga, seperti aku.
"Heran Amak, Pik. Ntah apa yang dilihat Yasmal dari si Rosma itu. Pendek!" lanjut ibumu.
"Maksud Amak?" tanyaku tak paham. Jadi ....
"Iya, coba bayangkan kalau mereka bersanding. Oh, jomplang! Yang satu tinggi menjulang, yang lain tenggelam. Ndak sepadan!"
Syuuut ....
Kulihat diriku. Tak jauh beda dengan Rosmawarni. Seingatku, aku cuma sebahumu.
Aih, Mak ....
Aku sudah cukup frustasi gagal jadi pramugari. Kenapa syarat menantu Amak mesti ada batas tinggi badannya juga? Itu sulit kupenuhi, Mak.
Kenapa tidak pintar memasak saja? Masih bisa kupelajari di rumah. Tapi kalau tinggi badan ....
Ah, mustahil. Perlu dua puluh senti lagi untuk mengimbangi anak Amak. Aku semekot, semeter kotor!
Ya, putus asa. Cantik-cantik begini otakku pintar, telingaku nyaring, dan mataku normal meski kelopaknya kecil. Bisa kutangkap dengan jelas maksud dari rentetan kalimat ibumu. Dia pasti tidak tahu, kata-katanya menohok hatiku. Aku ... aku merasa kecil ....
Saraf di otakku bekerja cepat. Berputar mencari ide agar dapat menjadi seperti yang ibumu bilang. Namun, logikaku berbisik tak mungkin. Aku sudah dalam kondisi mentok. Bahkan dari artikel yang kubaca, kemungkinan akan menyusut seiring pertambahan usia.
Ada obatnya! Batinku berseru. Hah, bahkan saat demam pun aku paling malas menelan obat-obatan. Lagi pula, aku tak yakin akan berpengaruh banyak. Dengan kondisiku, mungkin hanya keajaiban yang bisa membantu.
Ah, sudahlah ....
Bisa jadi ini kode dari Tuhan. Atau jangan-jangan ibumu tahu kalau aku ....
"Pik, kamu kenal ndak sama Rosmawarni?" Itu awal percakapanku dengan ibumu siang ini di sela dentuman suara alu dan lesung. Kami sedang menumbuk beras bersama. Bergantian menikam butiran putih itu agar halus menjadi tepung.
Agak kikuk aku mengiyakan. Bukankah Rosmawarni bekas kekasihmu?
"Untunglah Yasmal putus dengannya. Amak ndak suka!"
"Kenapa, Mak?" Seulas senyum tak sadar tersungging di bibirku. Kita sama, Mak.
"Ah, Amak rasa ndak cocok dia sama anak Amak. Sudah berkali-kali Amak bilang sama Yasmal, cari perempuan yang sepantaran."
Senyumku melebar. Tak salah lagi, pasti ibumu keberatan dengan Rosmawarni karena cuma lulusan SMP. Artinya, ibumu mau kamu berjodoh dengan tamatan SMA juga, seperti aku.
"Heran Amak, Pik. Ntah apa yang dilihat Yasmal dari si Rosma itu. Pendek!" lanjut ibumu.
"Maksud Amak?" tanyaku tak paham. Jadi ....
"Iya, coba bayangkan kalau mereka bersanding. Oh, jomplang! Yang satu tinggi menjulang, yang lain tenggelam. Ndak sepadan!"
Syuuut ....
Kulihat diriku. Tak jauh beda dengan Rosmawarni. Seingatku, aku cuma sebahumu.
Aih, Mak ....
Aku sudah cukup frustasi gagal jadi pramugari. Kenapa syarat menantu Amak mesti ada batas tinggi badannya juga? Itu sulit kupenuhi, Mak.
Kenapa tidak pintar memasak saja? Masih bisa kupelajari di rumah. Tapi kalau tinggi badan ....
Ah, mustahil. Perlu dua puluh senti lagi untuk mengimbangi anak Amak. Aku semekot, semeter kotor!
A Letter of Tauge
Penghujung September 2014,
Bang,
Adik ingat waktu praktikum Biologi zaman kita sekolah dulu, Adik pernah disuruh guru menanam biji kacang hijau. Sebelum disemai, bijinya Adik rendam biar nampak bibit mana yang bagus untuk ditanam, yaitu biji yang tenggelam. Yang mengapung Adik berikan kepada ayam.
Lalu Adik siapkan kapas lembab dalam mangkuk. Disemailah biji kacang hijau itu di atasnya. Baru sehari Bang, sudah keluar akar mungil. Besoknya, ia bertunas. Kecil, tapi tampak kokoh mencuat ke atas. Akarnya juga makin kuat menempeli kapas.
Seminggu berselang, tunasnya makin panjang. Putih bersih menjulang melampaui tinggi mangkuk. Ada pucuk daun muda di ujungnya. Abang tahu kan, itu namanya taoge.
Namun, waktu itu Adik lupa memanennya. Alhasil, taoge itu menua. Batangnya menghijau, daunnya melebar dan banyak. Dibuat sayur pun pasti sudah tidak enak. Maka semua Adik buang.
Bang,
Adik tulis surat ini karena cinta Adik pada Abang. Bukan bermaksud menggurui, karena nyatanya Adiklah yang banyak belajar dari Abang.
Tapi, boleh kan, Bang, Adik yang bodoh ini mengingatkan orang terkasihnya?
Bagi Adik, cinta itu bukan sekadar alasan bersatunya sepasang insan. Cinta adalah alasan terindah menggiring teman hidup menuju kebaikan.
Maka, izinkanlah Adik kali ini menggenggam jemari Abang agar kita melangkah bersama ke arah cahaya terang.
Abang sayang, pautan hati Adik ...
Dari sekian banyak pemuda, Adik menjatuhkan hati pada Abang. Ibarat biji kacang hijau yang direndam, Abanglah satu-satunya yang tenggelam.
Cinta Adik bertambah-tambah, karena Abang kian hari kian gagah. Biji kacang hijau pilihan Adik, sudah berkecambah. Tumbuh cepat dengan susah payah. Sungguh hati Adik bangga, punya kekasih yang bekerja ikhlas sepenuh jiwa raga.
Bang,
Adik tak mau kesalahan yang dulu terulang. Akibat kealpaan sendiri, Adik gagal memanen taoge.
Maka, dalam senyap Adik tak putus memantau dan berdoa buat Abang. Agar Abang tetap menjadi taoge yang batangnya putih dan berpucuk sepasang daun muda. Karena saat itulah ia punya banyak manfaat. Dan dengan rendah hati merelakan dirinya dicabut sebelum batangnya mengeras.
Abang sayaaang,
Abang jangan marah ya, Adik samakan dengan taoge. Biarpun Adik tak suka dengan sayur yang satu itu, tapi Adik selalu cinta sama Abang ....
Peluk cium,
Adik abang
Bang,
Adik ingat waktu praktikum Biologi zaman kita sekolah dulu, Adik pernah disuruh guru menanam biji kacang hijau. Sebelum disemai, bijinya Adik rendam biar nampak bibit mana yang bagus untuk ditanam, yaitu biji yang tenggelam. Yang mengapung Adik berikan kepada ayam.
Lalu Adik siapkan kapas lembab dalam mangkuk. Disemailah biji kacang hijau itu di atasnya. Baru sehari Bang, sudah keluar akar mungil. Besoknya, ia bertunas. Kecil, tapi tampak kokoh mencuat ke atas. Akarnya juga makin kuat menempeli kapas.
Seminggu berselang, tunasnya makin panjang. Putih bersih menjulang melampaui tinggi mangkuk. Ada pucuk daun muda di ujungnya. Abang tahu kan, itu namanya taoge.
Namun, waktu itu Adik lupa memanennya. Alhasil, taoge itu menua. Batangnya menghijau, daunnya melebar dan banyak. Dibuat sayur pun pasti sudah tidak enak. Maka semua Adik buang.
Bang,
Adik tulis surat ini karena cinta Adik pada Abang. Bukan bermaksud menggurui, karena nyatanya Adiklah yang banyak belajar dari Abang.
Tapi, boleh kan, Bang, Adik yang bodoh ini mengingatkan orang terkasihnya?
Bagi Adik, cinta itu bukan sekadar alasan bersatunya sepasang insan. Cinta adalah alasan terindah menggiring teman hidup menuju kebaikan.
Maka, izinkanlah Adik kali ini menggenggam jemari Abang agar kita melangkah bersama ke arah cahaya terang.
Abang sayang, pautan hati Adik ...
Dari sekian banyak pemuda, Adik menjatuhkan hati pada Abang. Ibarat biji kacang hijau yang direndam, Abanglah satu-satunya yang tenggelam.
Cinta Adik bertambah-tambah, karena Abang kian hari kian gagah. Biji kacang hijau pilihan Adik, sudah berkecambah. Tumbuh cepat dengan susah payah. Sungguh hati Adik bangga, punya kekasih yang bekerja ikhlas sepenuh jiwa raga.
Bang,
Adik tak mau kesalahan yang dulu terulang. Akibat kealpaan sendiri, Adik gagal memanen taoge.
Maka, dalam senyap Adik tak putus memantau dan berdoa buat Abang. Agar Abang tetap menjadi taoge yang batangnya putih dan berpucuk sepasang daun muda. Karena saat itulah ia punya banyak manfaat. Dan dengan rendah hati merelakan dirinya dicabut sebelum batangnya mengeras.
Abang sayaaang,
Abang jangan marah ya, Adik samakan dengan taoge. Biarpun Adik tak suka dengan sayur yang satu itu, tapi Adik selalu cinta sama Abang ....
Peluk cium,
Adik abang
Rasanya Itu ....
Tring!
"Nah, dapat deh, nilai x-nya. Sekarang ...."
Tring!
"Substitusikan ke salah satu persamaan ...."
Tring!
"Untuk nyari nilai y."
Tring!
Uul mengangkat kepala dan melongo seketika. Busyet dah, gua dikacangin!
"Dea, BB-nya matiin dulu, deh ...."
Bocah SMP itu mesem. "Lesnya stop aja, deh, Kak. Dea nggak konsen ...."
"Makanya matiin dulu biar konsen!" Esmosi juga si Uul.
Dea manyun. "Nggak bisa, Kak ..., Dea lagi BBM-an sama cowok Dea."
Uul mencibir dalam hati. Bocaaah, bocah!
Nah, yaaa, lu iri kan, Ul?
Gua? Iri? Ngapain?
Halah, lu kan, jomblo berkarat!
Berisik, ah!
"Ya udin, kalo Mama marah, Dea yang tanggung jawab loh, ya?" Uul mengalah. Percuma juga ngoceh sampai berbusa kalo yang diajak ngomong pikirannya jalan-jalan.
"Aman deh, pokoknya! Tapi Kak Uul mau ya, dengerin Dea curhat?"
Jaelah, ini anak ..., seberat apa sih, hidup lu?
Uul mengangkat alisnya tanda OK.
Alhasil sore yang seharusnya membahas sistem persamaan linear itu berubah tema menjadi curhat cinta remaja. Sumpah deh, Uul jemu. Eneg sendiri mendengar intonasi dan melihat ekspresi wajah Dea. Kayaknya menderitaaa banget. Huh, ngambek-ngambekan doang sama pacar segitu merananya.
Awas lu nangis depan gua ..., gua tinggal lu! ancam Uul dalam hati.
Demi keberlangsungan kerja sama, Uul menjelma jadi dokter cinta seketika. Sementara Dea manggut-manggut kagum menyimak nasehat dari guru lesnya.
Dan sampailah pada bagian yang nggak Uul suka. Si Dea mendadak kepo, nanya-nanya tentang ... pengalaman cinta Uul. Eeetdah ....
"Kakak kok, nggak pernah keluar, sih?"
"Tiap hari, kok ...."
"Bukaaan, maksud Dea jalan-jalan ... main .... Kakak di rumaaah terus!"
"Ada kok, Dea aja yang nggak lihat."
"Apalagi malam Minggu, motor Kakak ngejogrok aja tuh, di teras. Kakak punya pacar nggak? Curhat dooong, sama Dea ...."
Yasalaaaam. Uul garuk-garuk kepala.
"Pasti punya kan, Kak? Atau cerita mantan yang dulu juga boleh."
Boro-boro .... Air mana air? Uul tiba-tiba haus.
"Nggak punya," jawab Uul setelah berdehem kencang. Mata juga nggak jelas fokusnya ke mana.
Puk puk puk ..., sabar ya, Ul!
Diem lu! I'm fine! I'm OK!
Dea tertawa. "Mantan, deh ...."
"Nggak ada!"
"Kakak serius?" Dea antusias.
"Sheila On Seven malah!"
"Beneran, nih?" Dea ngeyel.
"Hm, mh!"
Dea bertepuk tangan. "Kok bisa?"
"Bisa, dong!"
"Nggak mungkin, aaah. Yang naksir pasti ada kan, Kak?"
Hahahah! Kalo lu adik gua, udah gua tabok luuu!
"Iyeee," jawab Uul sekenanya.
"Terus ditolak gitu?" tanya Dea semangat.
Kalo gua terima, jangan pingsan lu dengar jumlah mantan gua!
Huuu, gaya lu!
Ck, pura-puranya, lhooo.
"Umur Kak Uul sekarang berapa?"
"Dua empat."
"Waaah, rasanya gimana, Kak, menjomblo sekian lama?"
"Biasa aja." Uul stay cool.
Yakin lu, Ul?
Lu bisa diem nggak?
"Dea pengen lho, Kak ... jadi jomblo lagi. Capek ... pacaran, putus, pacaran, putus ...."
"Ya udin, putusin aja pacar kamu!"
Dea menerawang. "Hmmm, tapi nanti abis putus rasanya kok kesepian, Kak. Ujung-ujungnya pacaran lagi, deh!"
"Kalo kesepian cari tempat rame, lah ...."
"Kakak, iiih ...."
"Cari kegiatan lain kan, bisa .... Baca buku, dengerin musik, apa kek gituuu." Uul sok bijak.
"Rasanya gimana sih, Kak, nggak pernah pacaran?" Dea balik ke topik awal.
Uul menghela napas panjang. Dia juga bingung ... rasanya gimana, ya?
"Dea pernah makan ice cream?"
"Pernah, dong!"
"Enak nggak?"
"Enak!"
"Saking enaknya pengen lagi, pengen lagi, kan?"
"He'eh, sampai kayak orang ngidam gituuu."
"Betul. Makanan apa yang Dea nggak suka?"
"Mmm ..., pete!"
"Pernah nyobain walopun dikit?"
"Idih ... nggaaak! Bau!"
"Kalo sekarang di sini ada pete, Dea mau makan nggak?"
"Oh, tidaaak."
"Nah, rasanya ya, begitu! Buat Dea, pacaran itu ibarat ice cream. Enaknya udah kerasa, makanya sekalinya jomblo langsung kesepian. Buat Kakak, pacaran ibarat pete. Mau disodorin berapa banyak juga nggak bakal mau karena di otak udah ada warning pete itu bau. Jadi, yaaa biasa aja ...."
Dea manggut-manggut. "Tapi, Kak ..., pasti Kakak pernah iri dong, sama orang yang kemana-mana berduaan?"
HUAHAHAH!
Dea, dear .... Itu beda perkara!
"Nah, dapat deh, nilai x-nya. Sekarang ...."
Tring!
"Substitusikan ke salah satu persamaan ...."
Tring!
"Untuk nyari nilai y."
Tring!
Uul mengangkat kepala dan melongo seketika. Busyet dah, gua dikacangin!
"Dea, BB-nya matiin dulu, deh ...."
Bocah SMP itu mesem. "Lesnya stop aja, deh, Kak. Dea nggak konsen ...."
"Makanya matiin dulu biar konsen!" Esmosi juga si Uul.
Dea manyun. "Nggak bisa, Kak ..., Dea lagi BBM-an sama cowok Dea."
Uul mencibir dalam hati. Bocaaah, bocah!
Nah, yaaa, lu iri kan, Ul?
Gua? Iri? Ngapain?
Halah, lu kan, jomblo berkarat!
Berisik, ah!
"Ya udin, kalo Mama marah, Dea yang tanggung jawab loh, ya?" Uul mengalah. Percuma juga ngoceh sampai berbusa kalo yang diajak ngomong pikirannya jalan-jalan.
"Aman deh, pokoknya! Tapi Kak Uul mau ya, dengerin Dea curhat?"
Jaelah, ini anak ..., seberat apa sih, hidup lu?
Uul mengangkat alisnya tanda OK.
Alhasil sore yang seharusnya membahas sistem persamaan linear itu berubah tema menjadi curhat cinta remaja. Sumpah deh, Uul jemu. Eneg sendiri mendengar intonasi dan melihat ekspresi wajah Dea. Kayaknya menderitaaa banget. Huh, ngambek-ngambekan doang sama pacar segitu merananya.
Awas lu nangis depan gua ..., gua tinggal lu! ancam Uul dalam hati.
Demi keberlangsungan kerja sama, Uul menjelma jadi dokter cinta seketika. Sementara Dea manggut-manggut kagum menyimak nasehat dari guru lesnya.
Dan sampailah pada bagian yang nggak Uul suka. Si Dea mendadak kepo, nanya-nanya tentang ... pengalaman cinta Uul. Eeetdah ....
"Kakak kok, nggak pernah keluar, sih?"
"Tiap hari, kok ...."
"Bukaaan, maksud Dea jalan-jalan ... main .... Kakak di rumaaah terus!"
"Ada kok, Dea aja yang nggak lihat."
"Apalagi malam Minggu, motor Kakak ngejogrok aja tuh, di teras. Kakak punya pacar nggak? Curhat dooong, sama Dea ...."
Yasalaaaam. Uul garuk-garuk kepala.
"Pasti punya kan, Kak? Atau cerita mantan yang dulu juga boleh."
Boro-boro .... Air mana air? Uul tiba-tiba haus.
"Nggak punya," jawab Uul setelah berdehem kencang. Mata juga nggak jelas fokusnya ke mana.
Puk puk puk ..., sabar ya, Ul!
Diem lu! I'm fine! I'm OK!
Dea tertawa. "Mantan, deh ...."
"Nggak ada!"
"Kakak serius?" Dea antusias.
"Sheila On Seven malah!"
"Beneran, nih?" Dea ngeyel.
"Hm, mh!"
Dea bertepuk tangan. "Kok bisa?"
"Bisa, dong!"
"Nggak mungkin, aaah. Yang naksir pasti ada kan, Kak?"
Hahahah! Kalo lu adik gua, udah gua tabok luuu!
"Iyeee," jawab Uul sekenanya.
"Terus ditolak gitu?" tanya Dea semangat.
Kalo gua terima, jangan pingsan lu dengar jumlah mantan gua!
Huuu, gaya lu!
Ck, pura-puranya, lhooo.
"Umur Kak Uul sekarang berapa?"
"Dua empat."
"Waaah, rasanya gimana, Kak, menjomblo sekian lama?"
"Biasa aja." Uul stay cool.
Yakin lu, Ul?
Lu bisa diem nggak?
"Dea pengen lho, Kak ... jadi jomblo lagi. Capek ... pacaran, putus, pacaran, putus ...."
"Ya udin, putusin aja pacar kamu!"
Dea menerawang. "Hmmm, tapi nanti abis putus rasanya kok kesepian, Kak. Ujung-ujungnya pacaran lagi, deh!"
"Kalo kesepian cari tempat rame, lah ...."
"Kakak, iiih ...."
"Cari kegiatan lain kan, bisa .... Baca buku, dengerin musik, apa kek gituuu." Uul sok bijak.
"Rasanya gimana sih, Kak, nggak pernah pacaran?" Dea balik ke topik awal.
Uul menghela napas panjang. Dia juga bingung ... rasanya gimana, ya?
"Dea pernah makan ice cream?"
"Pernah, dong!"
"Enak nggak?"
"Enak!"
"Saking enaknya pengen lagi, pengen lagi, kan?"
"He'eh, sampai kayak orang ngidam gituuu."
"Betul. Makanan apa yang Dea nggak suka?"
"Mmm ..., pete!"
"Pernah nyobain walopun dikit?"
"Idih ... nggaaak! Bau!"
"Kalo sekarang di sini ada pete, Dea mau makan nggak?"
"Oh, tidaaak."
"Nah, rasanya ya, begitu! Buat Dea, pacaran itu ibarat ice cream. Enaknya udah kerasa, makanya sekalinya jomblo langsung kesepian. Buat Kakak, pacaran ibarat pete. Mau disodorin berapa banyak juga nggak bakal mau karena di otak udah ada warning pete itu bau. Jadi, yaaa biasa aja ...."
Dea manggut-manggut. "Tapi, Kak ..., pasti Kakak pernah iri dong, sama orang yang kemana-mana berduaan?"
HUAHAHAH!
Dea, dear .... Itu beda perkara!
Saguna
Aku terkesiap. Menambah fokus pada sepasang manusia yang baru saja
menghuni meja nomor 29. Sebenarnya mataku lebih tertuju kepada yang
perempuan. Dari ruangan khusus perokok ini aku bisa mengenalinya. Cara
ia berjalan. Senyumnya, tawanya. Tidak salah lagi. Saguna. Bersama
siapa?
Hatiku seperti dicubit. Cemburu? Ah, lucu menyebutnya demikian. Tapi tetap aku harus selidiki lelaki gondrong yang tengah mencuri-curi kesempatan memegang tangannya. Awas, kau!
*
Aku menurunkan kaca mobil. Memandang dengan leluasa rumah putih itu. Masih seperti dulu. Tamannya semarak. Bunga warna-warni ramai di sana. Ibu Saguna tetap rajin berkebun rupanya. Dulu aku dan Saguna kerap bercengkrama di ayunan bundar di tengah taman.
Deru sepeda motor mengalihkanku. Kendaraan bermesin itu masuk ke halaman rumah yang sedari tadi kuamati. Pengendaranya membuka helm, turun. Pintu rumah putih terbuka. Aku buru-buru memakai kaca mata hitam. Bukan karena pantulan kaca spion motor sport itu yang tepat ke mataku. Lebih kepada Saguna yang muncul dari balik pintu.
Aku memutuskan mencari tahu semenjak melihat Saguna tempo hari. Dugaanku tidak meleset. Pastilah ada apa-apanya antara Saguna dengan Si Gondrong. Lihat, Saguna tampak gembira menyambutnya. Bisa kutebak Si Gondrong pasti juga riang. Seriang kunciran rambutnya sekarang.
Jangan berpelukan! Aku menjerit dalam hati. Tinjuku terkepal. Jantung ini kebat-kebit ketika tangan Si Gondrong terbuka lebar. Dan jantungku kembali berdetak normal karena Saguna justru melipat tangannya di dada. Hm, semoga saja Si Gondrong paham. Tak usah dan tak boleh ada pelukan. Aku mengharamkan!
Dua sejoli itu menghilang di balik pintu. Jantungku kembali berpacu. Komat-kamit berdoa. Semoga saja Ibu Saguna juga ada di dalam. Bayangan Si Gondrong menggerayangi Saguna kucoba buang jauh-jauh. Ya Allah, lindungi Sagunaku!
*
Aku memang sudah lama hilang dari kehidupan Saguna. Tapi aku tidak pernah benar-benar pergi. Aku mengikuti setiap perjalanan hidup Saguna dari sudut-sudut tak terlihat.
"Dia bukan milikmu lagi." Asap rokok Suryo mengepul.
Aku menghirup cappucino. "Enak saja kau bicara. Dia tetap Sagunaku."
Suryo terkekeh. "Buktinya dia tidak bersamamu lagi, kan? Sudahlah, tak usah kau urusi."
Aku tak memperhatikan ocehan Suryo. Pintu kaca kafe terbuka. Saguna dan Si Gondrong! Baik, aku mendapat satu kesimpulan. Kafe ini sudah menjadi tempat favorit mereka. Ini keempat kalinya mereka ke mari seminggu terakhir. Aku menyambangi kafe milik Suryo ini setiap hari.
Nanar kupandangi Saguna. Penampilannya berbeda dari biasa. Celana ketat hitam dipadu kemeja merah transparan diselipkan di pinggang. Rambut lurusnya tergerai menggoda.
"Wah, dia memang sungguh gadis yang menarik," Suryo berdecak, "Sepertinya aku menemukan mangsa baru."
Dengar? Suryo yang mata keranjang saja menilai Saguna di atas rata-rata. Aku tidak pernah meragukan penilainya tentang wanita. Dia ahlinya. Namun, aku tak perlu khawatir Suryo akan melahap Saguna. Bejat-bejat begitu dia bukan pengkhianat teman.
Yang kutakutkan justru diri Saguna. Oh, Sayang. Mana rok panjang dan kemeja longgar yang sering kau pakai dulu. Mana jalinan rambut berpita merah yang kusuka itu? Sungguh kau jauh lebih cantik begitu. Pintar sekali Si Gondrong itu mengubahmu.
Tak sadar aku meninju meja. Geram. Mata Si Gondrong liar bermain. Melahap pemandangan cantik. Pandangan itu, tidak sopan! Aku merutuk. Ingin sekali kuselubungi Saguna dengan gorden. Hatiku menggelegak. Rahangku ngilu akibat geraham beradu.Aku bangun.
"Tenang, Kawan. Mereka hanya saling tatap." Suryo menahanku.
*
Kali ini aku benar-benar tidak tahan lagi. Hatiku tidak lagi sekedar menggelegak. Gelembung-gelembung besar berkejaran ke permukaan. Rongganya tidak akan muat lagi menampung. Ibarat periuk penuh air dijerang dengan api. Gelembung-gelembung tanda air mendidih menolak tutup panci. Tumpah ruahlah air didalamnya bila api tak jua dipadamkan.
Dan Si Gondrong itu memantikkan api lebih besar. Klep hatiku jebol sudah. Masih dari sudut khusus perokok di kafe Suryo. Bola mataku ingin loncat dari cangkangnya. Tangan Si Gondrong melingkar di pinggang Saguna.
Namun, aku kembali layu. Oh, Saguna sayang. Pakaian apa gerangan yang kau kenakan. Semakin banyak saja anggota badanmu yang kelihatan. Bajumu tak berlengan. Rok pun kurang bahan. Air mataku menggenang.
"Dia makin seksi, ya!" Suryo memandangi Saguna lekat dari ujung rambut sampai kaki.
"Berhenti memandangnya begitu kalau kau tak mau jadi musuhku," geramku.
Suryo bersiul nakal. "Perubahannya drastis." Ia berkomentar.
Dalam hati aku mengamininya. Drastis. Ekstrim sekali. Hilang sudah Saguna yang anggun lugu. Berganti Saguna yang... Ah, aku benci mengatakannya.
Pandanganku tetap awas pada meja tempat Saguna dan Si Gondrong beradu pandang. Berungkali aku menggeram. Pegang tangan, elus-elus dan cium-cium tampaknya sudah jadi rutinitas mereka. Sudah biasa. Tangan Si Gondrong bahkan kerap mampir di paha Saguna yang telanjang. Kurang ajar!
Aku memperhatikan setiap gerak-gerik mereka. Terutama Si Gondrong itu. Hatiku sudah layaknya bom waktu. Tinggal menunggu detik terakhir sebelum benar-benar meledak. Saguna tengah menggelendot manja di dada bidang Si Gondrong. Aku hanya bisa melihat punggungnya sekarang. Wajah Saguna tenggelam di pelukan lelaki biadab itu.
Aku tidak mungkin salah lihat. Mataku jelas-jelas melototi mereka tanpa jeda. Si Gondrong itu! Ah, benar-benar keterlaluan. Bajingan tengik. Busuk!
"Aku tidak bisa diam saja, Sur. Sagunaku terancam!" Aku panik di tengah emosiku yang memuncak.
"Jangan di sini, Kawan. Kita awasi saja terus. Terlalu beresiko melabraknya sekarang." Suryo tampak tenang meski raut geram juga tergambar di wajahnya.
"Lalu kapan? Tunggu sampai dia melumat Saguna?" Aku tidak sabar melihat ketenangannya.
Aku sungguh khawatir. Saguna terkulai. Si Gondrong memeluknya seolah sedang menidurkan bayi.
"Kau ingin dibenci Saguna seumur hidup karena kau menuduh pacarnya bajingan?" dengus Suryo.
Baiklah. Aku turuti dia. Ada benarnya juga apa yang dia bilang. Meski pun aku sendiri ragu apakah Saguna peduli pada perhatianku. Sudah lama sekali kami tak bertemu. Masa lalu kami yang buruk menghantuiku. Akankah Saguna bersedia lagi menerimaku?
"Sekarang!" Suryo menarik tanganku keluar kafe. Kami menyelinap dari pintu belakang. Aku sempat melihat Saguna dipapah. Suryo meloncat ke dalam mobil. Aku mengikuti. Segera tancap gas mengejar mobil Si Gondrong.
"Ngebut lagi, Sur!" Aku berkeringat. Padahal mobil Suryo dingin oleh AC.
Teman karibku itu lincah di belakang kemudi. Tidak peduli sumpah serapah pemakai jalan yang disalipnya. Jeep hitam Si Gondrong menikung ke jalan sepi. Suryo berbelok tajam. Menginjak rem kuat-kuat. Si Gondrong berhasil kami hadang.
Aku melompat keluar mobil. Si Gondrong sudah di depan mobilnya, tampak marah sekali. "Apa mau kalian?" raungnya. Tinjunya terkepal.
Dua lawan satu. Aku mengitung kekuatan. Meski pun bukan atlet bela diri, aku dan Suryo dulunya jago berkelahi. Masih bisalah kupraktekkan lagi.
"Biar aku saja, Kawan! Kau urus Saguna." Suryo memasang kuda-kuda.
Si Gondrong mengeluarkan sebilah pisau. Suryo tertawa. Aku urung menghampiri Saguna. "Pengecut!"
Si Gondrong menyerbu lebih dulu. Pisau mengancam dalam genggamannya. Namun, aku bisa membaca, gerakannya kaku. Dia bukanlah lawan yang berat. Gentar tertera di wajahnya. Suryo menangkis serangan sambil tertawa-tawa. Oke. Tampaknya ia bisa kutinggal sendirian. Akan kuurus Saguna. Tenang Sayang, kau sudah aman.
Aargh! Aku lengah di tengah lamunan. Si Gondrong mencuri kesempatan. Pisau itu kini menancap di perutku. Suryo berteriak, memburu biadab itu. Mudah saja. Anak itu berdiri kaku setelah menusukku.
Sirine terdengar mendekat. Polisi? Siapa pula yang melapor. Aku sudah tersungkur bersimbah darah.
"Bertahan, Kawan!" teriak Suryo dalam kesibukannya menahan Si Gondrong yang berontak. Pucat pasi dia.
Seketika sekitarku sibuk. Kurasakan tubuhku diangkat. Lalu semuanya gelap.
*
Aku terjaga dalam ruangan serba putih. Suryo yang kulihat pertama kali. Rambutnya tetap klimis meski wajahnya menyiratkan kelelahan. Ia menunjuk ke sisi seberang tempat tidur di mana ia duduk. Aku menoleh. Terperanjat sekaligus bahagia. Sagunaku, cintaku, permata hatiku. Ia begitu dekat kini. Sagunaku yang dulu. Yang anggun lugu dengan rok panjang dan kemeja longgar. Pita merah yang kusuka juga mempercantik jalinan rambut panjangnya. Aku tersenyum.
Dengan air mata berderai Saguna memelukku. "Aku sudah dengar semuanya. Terima kasih sudah menjagaku, Papa..."
****
Hatiku seperti dicubit. Cemburu? Ah, lucu menyebutnya demikian. Tapi tetap aku harus selidiki lelaki gondrong yang tengah mencuri-curi kesempatan memegang tangannya. Awas, kau!
*
Aku menurunkan kaca mobil. Memandang dengan leluasa rumah putih itu. Masih seperti dulu. Tamannya semarak. Bunga warna-warni ramai di sana. Ibu Saguna tetap rajin berkebun rupanya. Dulu aku dan Saguna kerap bercengkrama di ayunan bundar di tengah taman.
Deru sepeda motor mengalihkanku. Kendaraan bermesin itu masuk ke halaman rumah yang sedari tadi kuamati. Pengendaranya membuka helm, turun. Pintu rumah putih terbuka. Aku buru-buru memakai kaca mata hitam. Bukan karena pantulan kaca spion motor sport itu yang tepat ke mataku. Lebih kepada Saguna yang muncul dari balik pintu.
Aku memutuskan mencari tahu semenjak melihat Saguna tempo hari. Dugaanku tidak meleset. Pastilah ada apa-apanya antara Saguna dengan Si Gondrong. Lihat, Saguna tampak gembira menyambutnya. Bisa kutebak Si Gondrong pasti juga riang. Seriang kunciran rambutnya sekarang.
Jangan berpelukan! Aku menjerit dalam hati. Tinjuku terkepal. Jantung ini kebat-kebit ketika tangan Si Gondrong terbuka lebar. Dan jantungku kembali berdetak normal karena Saguna justru melipat tangannya di dada. Hm, semoga saja Si Gondrong paham. Tak usah dan tak boleh ada pelukan. Aku mengharamkan!
Dua sejoli itu menghilang di balik pintu. Jantungku kembali berpacu. Komat-kamit berdoa. Semoga saja Ibu Saguna juga ada di dalam. Bayangan Si Gondrong menggerayangi Saguna kucoba buang jauh-jauh. Ya Allah, lindungi Sagunaku!
*
Aku memang sudah lama hilang dari kehidupan Saguna. Tapi aku tidak pernah benar-benar pergi. Aku mengikuti setiap perjalanan hidup Saguna dari sudut-sudut tak terlihat.
"Dia bukan milikmu lagi." Asap rokok Suryo mengepul.
Aku menghirup cappucino. "Enak saja kau bicara. Dia tetap Sagunaku."
Suryo terkekeh. "Buktinya dia tidak bersamamu lagi, kan? Sudahlah, tak usah kau urusi."
Aku tak memperhatikan ocehan Suryo. Pintu kaca kafe terbuka. Saguna dan Si Gondrong! Baik, aku mendapat satu kesimpulan. Kafe ini sudah menjadi tempat favorit mereka. Ini keempat kalinya mereka ke mari seminggu terakhir. Aku menyambangi kafe milik Suryo ini setiap hari.
Nanar kupandangi Saguna. Penampilannya berbeda dari biasa. Celana ketat hitam dipadu kemeja merah transparan diselipkan di pinggang. Rambut lurusnya tergerai menggoda.
"Wah, dia memang sungguh gadis yang menarik," Suryo berdecak, "Sepertinya aku menemukan mangsa baru."
Dengar? Suryo yang mata keranjang saja menilai Saguna di atas rata-rata. Aku tidak pernah meragukan penilainya tentang wanita. Dia ahlinya. Namun, aku tak perlu khawatir Suryo akan melahap Saguna. Bejat-bejat begitu dia bukan pengkhianat teman.
Yang kutakutkan justru diri Saguna. Oh, Sayang. Mana rok panjang dan kemeja longgar yang sering kau pakai dulu. Mana jalinan rambut berpita merah yang kusuka itu? Sungguh kau jauh lebih cantik begitu. Pintar sekali Si Gondrong itu mengubahmu.
Tak sadar aku meninju meja. Geram. Mata Si Gondrong liar bermain. Melahap pemandangan cantik. Pandangan itu, tidak sopan! Aku merutuk. Ingin sekali kuselubungi Saguna dengan gorden. Hatiku menggelegak. Rahangku ngilu akibat geraham beradu.Aku bangun.
"Tenang, Kawan. Mereka hanya saling tatap." Suryo menahanku.
*
Kali ini aku benar-benar tidak tahan lagi. Hatiku tidak lagi sekedar menggelegak. Gelembung-gelembung besar berkejaran ke permukaan. Rongganya tidak akan muat lagi menampung. Ibarat periuk penuh air dijerang dengan api. Gelembung-gelembung tanda air mendidih menolak tutup panci. Tumpah ruahlah air didalamnya bila api tak jua dipadamkan.
Dan Si Gondrong itu memantikkan api lebih besar. Klep hatiku jebol sudah. Masih dari sudut khusus perokok di kafe Suryo. Bola mataku ingin loncat dari cangkangnya. Tangan Si Gondrong melingkar di pinggang Saguna.
Namun, aku kembali layu. Oh, Saguna sayang. Pakaian apa gerangan yang kau kenakan. Semakin banyak saja anggota badanmu yang kelihatan. Bajumu tak berlengan. Rok pun kurang bahan. Air mataku menggenang.
"Dia makin seksi, ya!" Suryo memandangi Saguna lekat dari ujung rambut sampai kaki.
"Berhenti memandangnya begitu kalau kau tak mau jadi musuhku," geramku.
Suryo bersiul nakal. "Perubahannya drastis." Ia berkomentar.
Dalam hati aku mengamininya. Drastis. Ekstrim sekali. Hilang sudah Saguna yang anggun lugu. Berganti Saguna yang... Ah, aku benci mengatakannya.
Pandanganku tetap awas pada meja tempat Saguna dan Si Gondrong beradu pandang. Berungkali aku menggeram. Pegang tangan, elus-elus dan cium-cium tampaknya sudah jadi rutinitas mereka. Sudah biasa. Tangan Si Gondrong bahkan kerap mampir di paha Saguna yang telanjang. Kurang ajar!
Aku memperhatikan setiap gerak-gerik mereka. Terutama Si Gondrong itu. Hatiku sudah layaknya bom waktu. Tinggal menunggu detik terakhir sebelum benar-benar meledak. Saguna tengah menggelendot manja di dada bidang Si Gondrong. Aku hanya bisa melihat punggungnya sekarang. Wajah Saguna tenggelam di pelukan lelaki biadab itu.
Aku tidak mungkin salah lihat. Mataku jelas-jelas melototi mereka tanpa jeda. Si Gondrong itu! Ah, benar-benar keterlaluan. Bajingan tengik. Busuk!
"Aku tidak bisa diam saja, Sur. Sagunaku terancam!" Aku panik di tengah emosiku yang memuncak.
"Jangan di sini, Kawan. Kita awasi saja terus. Terlalu beresiko melabraknya sekarang." Suryo tampak tenang meski raut geram juga tergambar di wajahnya.
"Lalu kapan? Tunggu sampai dia melumat Saguna?" Aku tidak sabar melihat ketenangannya.
Aku sungguh khawatir. Saguna terkulai. Si Gondrong memeluknya seolah sedang menidurkan bayi.
"Kau ingin dibenci Saguna seumur hidup karena kau menuduh pacarnya bajingan?" dengus Suryo.
Baiklah. Aku turuti dia. Ada benarnya juga apa yang dia bilang. Meski pun aku sendiri ragu apakah Saguna peduli pada perhatianku. Sudah lama sekali kami tak bertemu. Masa lalu kami yang buruk menghantuiku. Akankah Saguna bersedia lagi menerimaku?
"Sekarang!" Suryo menarik tanganku keluar kafe. Kami menyelinap dari pintu belakang. Aku sempat melihat Saguna dipapah. Suryo meloncat ke dalam mobil. Aku mengikuti. Segera tancap gas mengejar mobil Si Gondrong.
"Ngebut lagi, Sur!" Aku berkeringat. Padahal mobil Suryo dingin oleh AC.
Teman karibku itu lincah di belakang kemudi. Tidak peduli sumpah serapah pemakai jalan yang disalipnya. Jeep hitam Si Gondrong menikung ke jalan sepi. Suryo berbelok tajam. Menginjak rem kuat-kuat. Si Gondrong berhasil kami hadang.
Aku melompat keluar mobil. Si Gondrong sudah di depan mobilnya, tampak marah sekali. "Apa mau kalian?" raungnya. Tinjunya terkepal.
Dua lawan satu. Aku mengitung kekuatan. Meski pun bukan atlet bela diri, aku dan Suryo dulunya jago berkelahi. Masih bisalah kupraktekkan lagi.
"Biar aku saja, Kawan! Kau urus Saguna." Suryo memasang kuda-kuda.
Si Gondrong mengeluarkan sebilah pisau. Suryo tertawa. Aku urung menghampiri Saguna. "Pengecut!"
Si Gondrong menyerbu lebih dulu. Pisau mengancam dalam genggamannya. Namun, aku bisa membaca, gerakannya kaku. Dia bukanlah lawan yang berat. Gentar tertera di wajahnya. Suryo menangkis serangan sambil tertawa-tawa. Oke. Tampaknya ia bisa kutinggal sendirian. Akan kuurus Saguna. Tenang Sayang, kau sudah aman.
Aargh! Aku lengah di tengah lamunan. Si Gondrong mencuri kesempatan. Pisau itu kini menancap di perutku. Suryo berteriak, memburu biadab itu. Mudah saja. Anak itu berdiri kaku setelah menusukku.
Sirine terdengar mendekat. Polisi? Siapa pula yang melapor. Aku sudah tersungkur bersimbah darah.
"Bertahan, Kawan!" teriak Suryo dalam kesibukannya menahan Si Gondrong yang berontak. Pucat pasi dia.
Seketika sekitarku sibuk. Kurasakan tubuhku diangkat. Lalu semuanya gelap.
*
Aku terjaga dalam ruangan serba putih. Suryo yang kulihat pertama kali. Rambutnya tetap klimis meski wajahnya menyiratkan kelelahan. Ia menunjuk ke sisi seberang tempat tidur di mana ia duduk. Aku menoleh. Terperanjat sekaligus bahagia. Sagunaku, cintaku, permata hatiku. Ia begitu dekat kini. Sagunaku yang dulu. Yang anggun lugu dengan rok panjang dan kemeja longgar. Pita merah yang kusuka juga mempercantik jalinan rambut panjangnya. Aku tersenyum.
Dengan air mata berderai Saguna memelukku. "Aku sudah dengar semuanya. Terima kasih sudah menjagaku, Papa..."
****
My Playboy
Tangan kekarmu, dengan jari kurus dan panjang-panjang, mengangsurkan
kotak berlapis kertas kado warna biru. "Sorry ya, telat tiga hari.
Happy birthday!"
Alisku bertaut. Makin terheran-heran dengan tingkahmu hari ini. Baru saja aku dikejutkan dengan kehadiranmu di teras rumahku. Selalu menawan dengan celana cargo. Kulihat jaketmu baru lagi, melekat gagah di tubuhmu yang tegap berisi. Kebersamaan yang rutin membuatku tak lagi terpesona, meski kuakui kamu memang sedap bagi santapan mata para dara.
"Kamu salah obat, ya?" tanyaku sambil menerima hadiah kecil itu.
"Aku nggak minum obat apapun malah." Kamu tertawa.
"Pasti ada maunya, deh." Mataku menyipit curiga.
"Nggak, ada yang ulang tahun ya, dikasih kado, dong. Kamu sih, mikir jelek terus tentang aku, Beb."
"Aneh aja ...," kilahku menimang-nimang kotak itu. Mengira-ngira isinya apa.
"Tapi seneng, kan?" Kamu mencolek bahuku.
Aku bergidik."Geliii. Tumben amat kamu sok sweet begini."
Lagi, tawamu membahana dibawa angin sore.
"Mau ke mana habis dari sini?" tanyaku. Kamu menolak disuguhi minuman.
"Mau ke rumah Intan. Heee," cengirmu.
Aku mencibir. "Ah, tebakanku emang nggak meleset. Pantes rapi banget!"
"Iya, dong. Namanya juga mau ke rumah mertua, Beb." Kamu menarik bagian bahu jaket, berlagak keren.
"Ya udah, shuh ..., pergi sana!" usirku pura-pura marah.
Lalu kita tertawa. Tidak lama, deru motor sport-mu menjauh setelah kamu memberi isyarat jempol dan kelingking di dekat kuping. Aku mengangguk sambil melambai.
*
Malam baru bermula. Aku baru saja kembali dari gerbang komplek, menyambangi gerobak nasi goreng. Antrian pembeli lebih ramai, menyadarkanku ini malam apa.
Niat ke kamar tadinya mau menaruh jaket saja. Ketika tiba-tiba ponselku bernyanyi ceria di atas bantal mungil hadiahmu minggu lalu. Namamu terpampang di sana.
"Vani speaking!" jawabku sambil mengelus perut yang urung diisi.
"Lama banget, Beb ... aku udah nelpon dari tadi." Ha, bisa kubayangkan wajahmu yang merengut lucu.
"Sorry deh, baru dari luar. Lagian nggak biasanya nelpon malam Minggu gini. Nggak ngepelin si Intan?"
"Ngapel!"
Aku terbahak. "Iya, itu maksudnya!"
"Ah, suntuk!"
"Ya udah, kan ada si Widi."
"Bosen!"
Hah, dasar cowok!
"Jadi kalo bosen sama pacar-pacarmu, kamu nyariin aku? Gitu?" kataku sok galak.
"Kamu nggak ngebosenin, sih. Enak lagi digangguin, nggak pernah marah. Males banget tauk, ngerayu cewek ngambek."
Oalah, kamu mulai curhat.
"Maleeees, tapi pacarnya dua!" Andai saja kamu di depanku, pasti sudah kujewer telingamu.
"Kamu nggak keluar, Beb?" tanyamu tak acuh dengan omelanku.
"Nggak ada yang ngajak!" jawabku sekenanya.
"Kalo kapan-kapan aku ajak mau nggak?"
Dalam hati aku tertawa. "Aku mesti mikir dua kali dulu, deh."
"Kok gitu?"
"Iya, dong." Sambil menahan tawa aku melanjutkan," satu, si Intan marah. Terus aku ditendang pake jurus karatenya. Dua, si Widi ngamuk-ngamuk. Terus boikot aku di kampus. Kan, serem ...."
"Iya ya, kalo kamu kenapa-napa aku kan, jadi sediiih."
Dan tawa kita menyatu di udara.
Lucu. Itu pendapatku tentang hubungan kita. Aku juga tidak menyangka bisa berteman dengan pria yang punya bakat main hati dengan banyak perempuan. Tahukah, kadang itu membuatku menjadi wanita paling jahat sedunia. Jelas-jelas kaumku yang kamu jadikan permainan.
Namun, sisi lain hatiku berkata, mungkin cewek-cewek itu saja yang terlalu bodoh menelan rayuanmu mentah-mentah. Atau barangkali terpedaya oleh paras senyummu yang memang menawan. Kalau kata si Intan, salah satu pacarmu, kamu kekasih yang bisa dibanggakan digandeng ke mana saja. Atau bisa jadi isi kepalamu dan gadis-gadis itu sama, sekadar bersenang-senang.
Aku merasa sudah cukup cerewet mengingatkanmu agar tidak macam-macam, apalagi kebablasan. Dan kamu selalu bilang, cewek-cewek itu tak lebih dari teman jalan dan makan. Juga gengsi. Katamu, mendapatkan gadis yang dipuja banyak lelaki adalah kebanggaan tersendiri.
*
Pesan darimu datang setelah dua minggu tak ada kabar. Sudah biasa. Kamu memang muncul dan hilang sesuka hati.
Aku sakit, cuma itu yang terbaca di layar ponselku.
Sejenak aku berpikir, ini pasti trikmu menggangguku. Kamu tahu benar, aku gampang panik. Lagi pula, tubuh kekarmu itu sudah bolak-balik naik-turun gunung. Belum serangkaian makanan sehat yang jadi santapanmu setiap hari. Mana mungkin bisa sakit?
Demi pertemanan, kini aku di rumahmu. Ibumu yang ramah menyuruhku naik ke atas. Kudapati kamu sedang melamun di balkon, menatap kosong kemacetan kota sore hari.
"Hei ...," tegurku pelan.
Kamu menoleh tak bersemangat.
Oh, lihat pipi itu. Kenapa kamu jadi begini kurus? Lenganmu juga tampak lebih kecil. Ada apa sebenarnya?
"Baik-baik saja?" tanyaku bersandar di pagar balkon. Melihatmu, mengamati wajah tirus yang tampak kusut itu.
"Ketahuan ..., semuanya terbongkar, Beb."
Kamu memberikan ponselmu. Berderet pesan dari Widi dan Intan memenuhi inbox. Kubaca sekilas dan hampir meledakkan tawa.
Jadi, gara-gara ini kamu jatuh sakit?
Kutatap kamu yang lesu.
Hei, Beb ...
Bertahun-tahun mengenalmu, aku tak pernah menganggapmu playboy seperti yang orang bilang. Aku paham tabiatmu. Jadi, hentikan tingkah konyolmu menggaet wanita yang tak kalah konyol di luar sana. Kamu lelaki baik. Tubuhmu yang mengecil ini buktinya.
Alisku bertaut. Makin terheran-heran dengan tingkahmu hari ini. Baru saja aku dikejutkan dengan kehadiranmu di teras rumahku. Selalu menawan dengan celana cargo. Kulihat jaketmu baru lagi, melekat gagah di tubuhmu yang tegap berisi. Kebersamaan yang rutin membuatku tak lagi terpesona, meski kuakui kamu memang sedap bagi santapan mata para dara.
"Kamu salah obat, ya?" tanyaku sambil menerima hadiah kecil itu.
"Aku nggak minum obat apapun malah." Kamu tertawa.
"Pasti ada maunya, deh." Mataku menyipit curiga.
"Nggak, ada yang ulang tahun ya, dikasih kado, dong. Kamu sih, mikir jelek terus tentang aku, Beb."
"Aneh aja ...," kilahku menimang-nimang kotak itu. Mengira-ngira isinya apa.
"Tapi seneng, kan?" Kamu mencolek bahuku.
Aku bergidik."Geliii. Tumben amat kamu sok sweet begini."
Lagi, tawamu membahana dibawa angin sore.
"Mau ke mana habis dari sini?" tanyaku. Kamu menolak disuguhi minuman.
"Mau ke rumah Intan. Heee," cengirmu.
Aku mencibir. "Ah, tebakanku emang nggak meleset. Pantes rapi banget!"
"Iya, dong. Namanya juga mau ke rumah mertua, Beb." Kamu menarik bagian bahu jaket, berlagak keren.
"Ya udah, shuh ..., pergi sana!" usirku pura-pura marah.
Lalu kita tertawa. Tidak lama, deru motor sport-mu menjauh setelah kamu memberi isyarat jempol dan kelingking di dekat kuping. Aku mengangguk sambil melambai.
*
Malam baru bermula. Aku baru saja kembali dari gerbang komplek, menyambangi gerobak nasi goreng. Antrian pembeli lebih ramai, menyadarkanku ini malam apa.
Niat ke kamar tadinya mau menaruh jaket saja. Ketika tiba-tiba ponselku bernyanyi ceria di atas bantal mungil hadiahmu minggu lalu. Namamu terpampang di sana.
"Vani speaking!" jawabku sambil mengelus perut yang urung diisi.
"Lama banget, Beb ... aku udah nelpon dari tadi." Ha, bisa kubayangkan wajahmu yang merengut lucu.
"Sorry deh, baru dari luar. Lagian nggak biasanya nelpon malam Minggu gini. Nggak ngepelin si Intan?"
"Ngapel!"
Aku terbahak. "Iya, itu maksudnya!"
"Ah, suntuk!"
"Ya udah, kan ada si Widi."
"Bosen!"
Hah, dasar cowok!
"Jadi kalo bosen sama pacar-pacarmu, kamu nyariin aku? Gitu?" kataku sok galak.
"Kamu nggak ngebosenin, sih. Enak lagi digangguin, nggak pernah marah. Males banget tauk, ngerayu cewek ngambek."
Oalah, kamu mulai curhat.
"Maleeees, tapi pacarnya dua!" Andai saja kamu di depanku, pasti sudah kujewer telingamu.
"Kamu nggak keluar, Beb?" tanyamu tak acuh dengan omelanku.
"Nggak ada yang ngajak!" jawabku sekenanya.
"Kalo kapan-kapan aku ajak mau nggak?"
Dalam hati aku tertawa. "Aku mesti mikir dua kali dulu, deh."
"Kok gitu?"
"Iya, dong." Sambil menahan tawa aku melanjutkan," satu, si Intan marah. Terus aku ditendang pake jurus karatenya. Dua, si Widi ngamuk-ngamuk. Terus boikot aku di kampus. Kan, serem ...."
"Iya ya, kalo kamu kenapa-napa aku kan, jadi sediiih."
Dan tawa kita menyatu di udara.
Lucu. Itu pendapatku tentang hubungan kita. Aku juga tidak menyangka bisa berteman dengan pria yang punya bakat main hati dengan banyak perempuan. Tahukah, kadang itu membuatku menjadi wanita paling jahat sedunia. Jelas-jelas kaumku yang kamu jadikan permainan.
Namun, sisi lain hatiku berkata, mungkin cewek-cewek itu saja yang terlalu bodoh menelan rayuanmu mentah-mentah. Atau barangkali terpedaya oleh paras senyummu yang memang menawan. Kalau kata si Intan, salah satu pacarmu, kamu kekasih yang bisa dibanggakan digandeng ke mana saja. Atau bisa jadi isi kepalamu dan gadis-gadis itu sama, sekadar bersenang-senang.
Aku merasa sudah cukup cerewet mengingatkanmu agar tidak macam-macam, apalagi kebablasan. Dan kamu selalu bilang, cewek-cewek itu tak lebih dari teman jalan dan makan. Juga gengsi. Katamu, mendapatkan gadis yang dipuja banyak lelaki adalah kebanggaan tersendiri.
*
Pesan darimu datang setelah dua minggu tak ada kabar. Sudah biasa. Kamu memang muncul dan hilang sesuka hati.
Aku sakit, cuma itu yang terbaca di layar ponselku.
Sejenak aku berpikir, ini pasti trikmu menggangguku. Kamu tahu benar, aku gampang panik. Lagi pula, tubuh kekarmu itu sudah bolak-balik naik-turun gunung. Belum serangkaian makanan sehat yang jadi santapanmu setiap hari. Mana mungkin bisa sakit?
Demi pertemanan, kini aku di rumahmu. Ibumu yang ramah menyuruhku naik ke atas. Kudapati kamu sedang melamun di balkon, menatap kosong kemacetan kota sore hari.
"Hei ...," tegurku pelan.
Kamu menoleh tak bersemangat.
Oh, lihat pipi itu. Kenapa kamu jadi begini kurus? Lenganmu juga tampak lebih kecil. Ada apa sebenarnya?
"Baik-baik saja?" tanyaku bersandar di pagar balkon. Melihatmu, mengamati wajah tirus yang tampak kusut itu.
"Ketahuan ..., semuanya terbongkar, Beb."
Kamu memberikan ponselmu. Berderet pesan dari Widi dan Intan memenuhi inbox. Kubaca sekilas dan hampir meledakkan tawa.
Jadi, gara-gara ini kamu jatuh sakit?
Kutatap kamu yang lesu.
Hei, Beb ...
Bertahun-tahun mengenalmu, aku tak pernah menganggapmu playboy seperti yang orang bilang. Aku paham tabiatmu. Jadi, hentikan tingkah konyolmu menggaet wanita yang tak kalah konyol di luar sana. Kamu lelaki baik. Tubuhmu yang mengecil ini buktinya.
Bincang Dapur Kita
Minyak panas berdesing meriah saat seekor ikan lele tercelup.
Cipratannya mengenai dinding, mengotori kompor, bahkan lantai dapur.
Hmmm, dalam sekejap aromanya tercium, menggoda air liur untuk menetes.
"Udah laper banget ya, Bang? Maaf ya, Wid masaknya lama ...."
Aku tersenyum. Mencangkung di dekat bak cuci piring. Dari sini aku bisa memandangmu dengan leluasa.
Kau tahu? Ekspresi wajahmu saat memasak itu sungguh lucu. Lihat waktu kau takut-takut membalik ikan lele dalam penggorengan. Wajahmu mengernyit khawatir terkena semprotan minyak panas. Dan semakin menggemaskan saat kau mengaduh pelan karena cipratannya mengenai tangan.
"Maaf ya, Bang .... Sebentaaar lagi."
Senyumku semakin lebar. Sebutir keringat bersiap meluncur di keningmu. Sigap kuusap dengan punggung tangan. Kau tersipu.
"Abang jangan dekat-dekat, Wid bauuu ... belum mandiiii." Kau mengancamku dengan sendok. Tampak kau agak malu dan risih.
"Wangi kok, bau bawang!" godaku sambil tertawa.
Bibirmu mengerucut. Ah, Wid .... Meski belum setahun jadi suamimu, aku merasa sangat beruntung beristrikan kau.
Apa yang sudah kulakukan untukmu? Nafkah yang tak seberapa itu? Bahkan lelahku pun mungkin tak sebanding dengan letihmu.
Kadang aku merasa sangat egois mengurungmu di rumah dan terpaksa melakukan pekerjaan rumah tangga. Mandi keringat membersihkan rumah, juga bermain dengan kompor gas setiap hari.
Padahal sebelum bersamaku, kau wanita karier yang selalu tampil rapi dan wangi. Rutinitas rumahan itu ... barangkali jarang kau sentuh di masa gadismu dulu.
Tapi demi aku, kau tinggalkan dunia luar dan rela terpenjara dengan pekerjaan kasar yang tiada habisnya. Kurasakan kini tanganmu tak selembut dulu. Terkadang kutemukan plester luka membalut telunjuk.
Adakah aku sudah menyiksamu, Wid?
"Abang kenapa lihatin Wid begitu?" tanyamu heran. "Wid pasti keliatan jelek, ya?"
Ah, Wid ... kau cantik dalam kondisi apapun.
Aku menggeleng.
"Abang tunggu di depan ajaaa, grogi tauk diliatin terus. Ntar ikannya gosong, nih."
Kau mendorongku keluar dapur. Tapi kutahan. Sigap menangkap tubuh mungilmu dan menenggelamkannya dalam pelukanku.
"Wid mau kerja lagi kayak dulu?" Kucium rambut lurus panjangmu yang dikuncir satu.
"Hm? Kenapa tiba-tiba Abang nanya itu?"
"Jawab aja ...."
Lama kau terdiam. Oh, Wid ... jangan-jangan kau memang tak betah di rumah terus-terusan.
"Kadang-kadang Wid kangen, Bang," jawabmu pelan.
"Jadi, mau kerja lagi?"
"Mmm." Kau menggeleng. "Nggak ah, nanti yang beresin rumah siapa? Terus yang masakin makanan buat Abang siapa?"
"Kita pakai jasa ART kalo perlu," jawabku.
Lagi-lagi kepalamu bergerak horizontal. "Kalo masih memungkinkan, Wid mau di rumah aja. Biar Wid puas meladeni keperluan Abang. Wid mau ... Abang selalu makan hasil masakan dari tangan Wid sendiri, bukan pembantu. Yaaah, walopun Wid nggak pinter masaknya ...."
Aku tersenyum. Tabiatmu yang sulit diubah. Memilih mengerjakan segala sesuatu sendiri bila masih dirasa sanggup. Kepuasan, itu yang kau cari. Enam bulan jadi suamimu, bisa kurasakan kau begitu total mengurusku.
"Kenapa, Bang? Abang kesulitan uang? Ada masalah di tempat kerja?"
Satu hal lagi yang membuatku jatuh cinta. Kau sangat perasa, gampang tersentuh.
"Nggak ..., Abang cuma berpikir mungkin Wid bosen di rumah."
Kau melepaskan pelukan. Mendongak, menatapku. Senyummu terkembang.
"Wid menikmati semuanya. Detik-detik menanti kepulangan Abang .... Saat Abang melahap masakan yang Wid hidangkan. Saat melihat Abang nyaman karena rumah rapi. Rasanya ... lelah Wid lenyap begitu saja."
Kubalas tatapanmu penuh terima kasih. Terbersit sesal, kadang aku lupa sekadar memberi pujian atas jerih payahmu. Malah seringnya merepotkan, minta diambilkan ini itu. Manja.
"Makasih, ya." Kutelan kata sayang dalam hati. Bahkan setelah menikah pun kau tak suka dipanggil dengan sebutan-sebutan penuh cinta.
"Sama-sama, Abang."
Kita sama-sama tersenyum.
Lalu hidungmu bergerak-gerak lucu. Jeritan histerismu menghebohkan dapur.
"Ikannya hanguuus. Abang, siiih ...."
"Udah laper banget ya, Bang? Maaf ya, Wid masaknya lama ...."
Aku tersenyum. Mencangkung di dekat bak cuci piring. Dari sini aku bisa memandangmu dengan leluasa.
Kau tahu? Ekspresi wajahmu saat memasak itu sungguh lucu. Lihat waktu kau takut-takut membalik ikan lele dalam penggorengan. Wajahmu mengernyit khawatir terkena semprotan minyak panas. Dan semakin menggemaskan saat kau mengaduh pelan karena cipratannya mengenai tangan.
"Maaf ya, Bang .... Sebentaaar lagi."
Senyumku semakin lebar. Sebutir keringat bersiap meluncur di keningmu. Sigap kuusap dengan punggung tangan. Kau tersipu.
"Abang jangan dekat-dekat, Wid bauuu ... belum mandiiii." Kau mengancamku dengan sendok. Tampak kau agak malu dan risih.
"Wangi kok, bau bawang!" godaku sambil tertawa.
Bibirmu mengerucut. Ah, Wid .... Meski belum setahun jadi suamimu, aku merasa sangat beruntung beristrikan kau.
Apa yang sudah kulakukan untukmu? Nafkah yang tak seberapa itu? Bahkan lelahku pun mungkin tak sebanding dengan letihmu.
Kadang aku merasa sangat egois mengurungmu di rumah dan terpaksa melakukan pekerjaan rumah tangga. Mandi keringat membersihkan rumah, juga bermain dengan kompor gas setiap hari.
Padahal sebelum bersamaku, kau wanita karier yang selalu tampil rapi dan wangi. Rutinitas rumahan itu ... barangkali jarang kau sentuh di masa gadismu dulu.
Tapi demi aku, kau tinggalkan dunia luar dan rela terpenjara dengan pekerjaan kasar yang tiada habisnya. Kurasakan kini tanganmu tak selembut dulu. Terkadang kutemukan plester luka membalut telunjuk.
Adakah aku sudah menyiksamu, Wid?
"Abang kenapa lihatin Wid begitu?" tanyamu heran. "Wid pasti keliatan jelek, ya?"
Ah, Wid ... kau cantik dalam kondisi apapun.
Aku menggeleng.
"Abang tunggu di depan ajaaa, grogi tauk diliatin terus. Ntar ikannya gosong, nih."
Kau mendorongku keluar dapur. Tapi kutahan. Sigap menangkap tubuh mungilmu dan menenggelamkannya dalam pelukanku.
"Wid mau kerja lagi kayak dulu?" Kucium rambut lurus panjangmu yang dikuncir satu.
"Hm? Kenapa tiba-tiba Abang nanya itu?"
"Jawab aja ...."
Lama kau terdiam. Oh, Wid ... jangan-jangan kau memang tak betah di rumah terus-terusan.
"Kadang-kadang Wid kangen, Bang," jawabmu pelan.
"Jadi, mau kerja lagi?"
"Mmm." Kau menggeleng. "Nggak ah, nanti yang beresin rumah siapa? Terus yang masakin makanan buat Abang siapa?"
"Kita pakai jasa ART kalo perlu," jawabku.
Lagi-lagi kepalamu bergerak horizontal. "Kalo masih memungkinkan, Wid mau di rumah aja. Biar Wid puas meladeni keperluan Abang. Wid mau ... Abang selalu makan hasil masakan dari tangan Wid sendiri, bukan pembantu. Yaaah, walopun Wid nggak pinter masaknya ...."
Aku tersenyum. Tabiatmu yang sulit diubah. Memilih mengerjakan segala sesuatu sendiri bila masih dirasa sanggup. Kepuasan, itu yang kau cari. Enam bulan jadi suamimu, bisa kurasakan kau begitu total mengurusku.
"Kenapa, Bang? Abang kesulitan uang? Ada masalah di tempat kerja?"
Satu hal lagi yang membuatku jatuh cinta. Kau sangat perasa, gampang tersentuh.
"Nggak ..., Abang cuma berpikir mungkin Wid bosen di rumah."
Kau melepaskan pelukan. Mendongak, menatapku. Senyummu terkembang.
"Wid menikmati semuanya. Detik-detik menanti kepulangan Abang .... Saat Abang melahap masakan yang Wid hidangkan. Saat melihat Abang nyaman karena rumah rapi. Rasanya ... lelah Wid lenyap begitu saja."
Kubalas tatapanmu penuh terima kasih. Terbersit sesal, kadang aku lupa sekadar memberi pujian atas jerih payahmu. Malah seringnya merepotkan, minta diambilkan ini itu. Manja.
"Makasih, ya." Kutelan kata sayang dalam hati. Bahkan setelah menikah pun kau tak suka dipanggil dengan sebutan-sebutan penuh cinta.
"Sama-sama, Abang."
Kita sama-sama tersenyum.
Lalu hidungmu bergerak-gerak lucu. Jeritan histerismu menghebohkan dapur.
"Ikannya hanguuus. Abang, siiih ...."
Langganan:
Postingan (Atom)