Akhirnya datang juga giliranku. Triadi, si ketua kelas, menyodorkan
tampungan tangannya yang berisi gulungan kertas kecil-kecil. Ini awal
bulan, jadwal pergantian tempat duduk.
Atas kesepakatan bersama
demi keakraban kelas, rolling posisi duduk dilakukan dengan cara diundi.
Tidak ada acara menolak, apalagi minta tukar teman. Masing-masing akan
dipasangkan berdasarkan nomor urut meja yang sudah dibuat.
“Pilih satu, Na!”
Suara ngebas Triadi mengagetkanku. Dari tadi aku sibuk mengamati seisi kelas yang ribut mencari nomor pasangan mereka.
Ah, sebenarnya aku kepo sekali. Siapa yang beruntung jadi pasangan
dudukmu kali ini? Kulihat kamu menjabat tangan Ibra. Sedikit kecewa.
Tapi, tak apalah ..., paling tidak kau masih duduk dengan pria.
Kucabut satu gulungan yang tinggal dua. Jika bukan waktuku untuk duduk
berdekatan denganmu, paling tidak aku bisa selamat dari posisi paling
belakang ini. Juga, beruntung terpisah dari Elsa, si gendut yang
memenuhi meja dengan lengannya yang besar, pasangan dudukku bulan lalu.
Tulisan jelek Triadi terbaca : 13. Aku mencibir sendiri. Sempurna sudah, katanya ini angka sial.
Aku memutar pandang sekeliling kelas tanpa selera. Karena aku menerima
kertas paling terakhir bersama Elsa, sebagian sudah duduk tenang dengan
pasangan masing-masing. Riuh saling ejek masih terdengar. Juga
wajah-wajah yang kurang senang.
Yah, bagaimanapun kita punya kriteria sendiri orang seperti apa yang nyaman dan seru dijadikan teman sebangku bukan?
Kulihat Elsa sudah mengambil posisi di bangkunya, deret kedua di sisi
kanan kelas dekat meja guru. Sebelahnya masih kosong. Oh, jangan bilang
aku kembali sebangku dengannya. Itu kan, bangku tiga belas dan empat
belas!
Gontai aku menuju ke sana. Terbayang siksaan sebulan lalu akan berlanjut tiga puluh hari lagi.
“Lu di sini, Na?” Elsa menyapa sambil mengunyah roti. Remah-remah putih berserakan di permukaan meja dan rok abu-abunya. Hiiih.
Aku mengangguk seadanya. Menghempaskan pantat di bangku kayu yang
keras, menelungkupkan wajah ke lipatan lengan di meja. Huh, benar-benar
sial!
“Elsa! Ih ..., yaaah .... Lu ngotorin singgasana gua tau nggak?”
Spontan kuangkat kepala. Timbre suara ini menyentuh bagian paling
sensitif di telingaku. Kamu berdiri memeluk ransel abu-abu, melotot lucu
kepada Elsa.
Si tambun itu menepuk-nepuk meja mengusir remah
roti. “Pamit ya, Na! Makasi buat tumpangannya.” Giliran pundakku jadi
sasaran telapak tangan tebalnya, membuatku terdorong ke depan.
Aku meringis.
Santai, kamu menaruh tas dan duduk ... di sampingku!
“Kamu di sini?” tanyaku bingung.
Kamu tertawa sambil mengangguk.“Nanti ikut ke kantin, ya. Ibra yang traktir!”
Keningku mengerut. “Dalam rangka?”
“Merayakan teman sebangku baru! Hahahah!”
“Maksudnya?” Aku masih nggak copy.
Kamu duduk lebih tegak, menunjuk deret bangku tengah paling belakang. Masih dengan tawa. “Lihat, tuh!”
Mataku mengikuti telunjukmu. Dan latah meledakkan tawa serupa melihat
wajah kuyu Ibra. Sementara Elsa telaten menyusun bekalnya, memenuhi
meja.
“Jadi tadi kami, aku sama Ibra, bikin perjanjian. Siapa
yang kebagian sebangku sama Elsa harus traktir makan. Nggak nyangka
kejadian beneran. Kasihan banget, ya? Hahahah!”
Kamu tertawa
geli. Yah, siapapun di kelas ini yang pernah duduk dengan Elsa, pasti
langsung kapok. Bukan masalah badan gemuknya, tapi joroknya itu lhooo.
“Untung aku sebangku sama kamu!”
Aku termangu. Sejenak rasa senangku karena akhirnya dipasangkan
denganmu menguap. Mengamatimu yang belum berhenti tertawa. “Karena dapat
traktiran, ya?”
Kamu mengibaskan tangan seolah berkata : Tak perlu dibahas ....
*
Huaaah. Rasanya semangatku mendapat angka pengali yang sangat besar.
Benar-benar meluap! Belum pernah aku begitu menggebu menenteng buku dan
merindukan sekolah di hari Minggu.
Duduk bersamamu setiap hari
ternyata memberi efek luar biasa. Pelajaran Sejarah jadi tidak
menjemukan. Begitu juga rentetan rumus-rumus Matematika dan Fisika yang
biasanya memusingkan, kini terasa menggemaskan.
Pusingnya kan, sama kamu!
Aku juga benci deringan bel pulang. Itu tandanya kebersamaan denganmu
juga berakhir. Hm, mendadak hari pun berganti lebih cepat. Sebulan
terasa satu hari saja. Bisa tidak ya, setiap menyabut undian nanti nomor
meja kita selalu berpasangan?
Aku menikmati setiap detik yang
berjalan. Mencium aroma parfummu atau mendengar senandung kecilmu saat
belajar. Hm, kamu juga usil sekali. Berkali-kali mengerjaiku. Sengaja
menyimpan alat tulisku atau menarik-narik kepangan rambutku.
Dan
itu sukses membuatku tersenyum sepanjang hari bahkan terbawa sampai
pulang sekolah. Bangku 13 dan 14 itu benar-benar sudah seperti rumah,
nyaman sekali bersamamu di dalamnya.
Tapi ... hei, siapa itu?
Dari belakang aku bisa menebak. Lusi. Mau apa dia duduk di sampingmu? Di bangkuku!
Huh. Sebuah rasa tak mengenakkan menjalari sekujur tubuhku, terutama sesuatu di balik dada. Sesaaak.
Semua orang di kelas ini juga tahu, Lusi itu naksir kamu. Hm, aku juga,
sih. Hanya tak seberani dia menunjukkannya terang-terangan. Agresif!
Kadang iri juga. Ingin seperti Lusi yang dengan lancarnya minta diantar
pulang. Eh, tapi ... hiiih, nggak, deh .... Harga diriku tidak
mengizinkan itu. Lebih baik diam-diam suka dari pada ribut-ribut centil.
"Ehem!" Itu kode buat Lusi. Heh, yang punya lapak datang!
Gadis yang memang cantik itu (sialnya jauh lebih cantik dariku, hiks!)
menoleh dengan gayanya yang khas. Rambut panjangnya yang selalu tergerai
itu berkibar. Hiiih.
"Eh, Na. Bentar, yaaa," katanya. Suara Lusi selalu terdengar mendayu-dayu.
Aku tersenyum sekilas. Kuawasi setiap gerak cewek itu. Awas aja kalo kecentilan!
Dan ... shuh, shuh! Lusi beranjak dengan lambaian tangan kemayunya.
Wajahku pasti bak kain kusut belum disetrika sekarang. Kamu sih, kenapa
tampak senang bersama Lusi barusan?
“Boring, yah?”
Kamu
mencolek bahuku. Mata elangmu tampak kuyu. Aku urung menyantolkan
earphone. Jam kosong begini aku lebih senang ditemani lagu-lagu favorit.
“Gabung sama mereka aja ...,” sahutku mengerling gerombolan siswa pria
yang entah sedang mendiskusikan apa. Masih dengan suasana hati yang
tidak karuan. Kesal melihat senyummu terkembang untuk Lusi masih terasa.
Huh!
Kamu bergidik malas. Lalu merampas earphone di tanganku.
Menancapkannya pada ponselmu. Seketika kepalamu bergoyang pelan,
mengikuti irama lagu.
Dan inilah kita. Berbagi earphone,
menikmati alunan lagu-lagu Golden Memories jaman baheula. Selera kita
sama ternyata. Sama buluknya untuk ukuran siswa SMA.
Kepala sama-sama tertahan di sandaran bangku, menerawang ke loteng kelas. Abai dengan keributan sekitar.
Setelah terkantuk-kantuk oleh buaian Unchained Melody, petikan gitar
akustik menyapu telinga. Suaranya tidak begitu jernih. Seperti hasil
rekaman sendiri. Dan saat lirik pertama lagunya dimulai, aku tersenyum.
Itu suaramu. Aku memejamkan mata lebih rapat, meresapi setiap kata dalam
Only You yang aslinya entah dibawakan siapa. Yang ini versi kamu.
Only you can make all this world seem bright
Only you can make the darkness bright
Only you and you alone can thrill me like you do
And fill my heart with love for only you
....
Haaah. Entah kenapa lagu itu terdengar berkali-kali lebih merdu.
Khayalanku membubung, seandainya kamu menyanyikannya khusus untukku.
“For my very special chairmate, I love you.”
Hei! Mataku membuka. Kalimat itu terdengar tepat setelah dendanganmu di ponsel berakhir. Aku tidak sedang bermimpi, kan?
Kutolehkan kepala. Matamu masih terpejam rapat. Kamu tidur?
Kedua sisi bibirmu tertarik ke samping. Dalam pejam kamu tersenyum. Dan
pelan, kepalamu oleng, roboh ke kanan, akhirnya jatuh di pundakku.
Aku menggigit bibir. Membiarkan kepalamu di sana. Aroma minyak rambutmu
menyapa cuping hidung. Percaya tidak percaya. Kita belum pernah sedekat
ini. Dan semua itu tadi ... untukku?
“Suara jantungmu kuat sekali!”
Sial! Kudorong kepalamu menjauh, merengut lucu. Tapi kamu malah
memainkan alis naik turun. Sekalian tersenyum lebar, menggodaku.
Ha! Sepertinya percaya diri sekali, ya. Huh, apa daya aku juga tidak kuasa menolak.
"Jawab, dong!" tagihmu.
Huaaa. Ada yang melompat-lompat di balik dadaku! Caramu ini ... ah, manis sekali, kan?
Tegas dan lancar kujawab,"Jangan dekat-dekat sama Lusi!"
Tawamu meledak. Mengacak rambutku gemas.
Untung bangku tiga belas dan empat belas ini tidak punya mulut. Kalau
saja iya, pasti mereka sudah berseru : Cieee jadian cieee ....
Tidak ada komentar:
Posting Komentar