Minyak panas berdesing meriah saat seekor ikan lele tercelup.
Cipratannya mengenai dinding, mengotori kompor, bahkan lantai dapur.
Hmmm, dalam sekejap aromanya tercium, menggoda air liur untuk menetes.
"Udah laper banget ya, Bang? Maaf ya, Wid masaknya lama ...."
Aku tersenyum. Mencangkung di dekat bak cuci piring. Dari sini aku bisa memandangmu dengan leluasa.
Kau tahu? Ekspresi wajahmu saat memasak itu sungguh lucu. Lihat waktu
kau takut-takut membalik ikan lele dalam penggorengan. Wajahmu
mengernyit khawatir terkena semprotan minyak panas. Dan semakin
menggemaskan saat kau mengaduh pelan karena cipratannya mengenai tangan.
"Maaf ya, Bang .... Sebentaaar lagi."
Senyumku semakin lebar. Sebutir keringat bersiap meluncur di keningmu. Sigap kuusap dengan punggung tangan. Kau tersipu.
"Abang jangan dekat-dekat, Wid bauuu ... belum mandiiii." Kau mengancamku dengan sendok. Tampak kau agak malu dan risih.
"Wangi kok, bau bawang!" godaku sambil tertawa.
Bibirmu mengerucut. Ah, Wid .... Meski belum setahun jadi suamimu, aku merasa sangat beruntung beristrikan kau.
Apa yang sudah kulakukan untukmu? Nafkah yang tak seberapa itu? Bahkan lelahku pun mungkin tak sebanding dengan letihmu.
Kadang aku merasa sangat egois mengurungmu di rumah dan terpaksa
melakukan pekerjaan rumah tangga. Mandi keringat membersihkan rumah,
juga bermain dengan kompor gas setiap hari.
Padahal sebelum
bersamaku, kau wanita karier yang selalu tampil rapi dan wangi.
Rutinitas rumahan itu ... barangkali jarang kau sentuh di masa gadismu
dulu.
Tapi demi aku, kau tinggalkan dunia luar dan rela
terpenjara dengan pekerjaan kasar yang tiada habisnya. Kurasakan kini
tanganmu tak selembut dulu. Terkadang kutemukan plester luka membalut
telunjuk.
Adakah aku sudah menyiksamu, Wid?
"Abang kenapa lihatin Wid begitu?" tanyamu heran. "Wid pasti keliatan jelek, ya?"
Ah, Wid ... kau cantik dalam kondisi apapun.
Aku menggeleng.
"Abang tunggu di depan ajaaa, grogi tauk diliatin terus. Ntar ikannya gosong, nih."
Kau mendorongku keluar dapur. Tapi kutahan. Sigap menangkap tubuh mungilmu dan menenggelamkannya dalam pelukanku.
"Wid mau kerja lagi kayak dulu?" Kucium rambut lurus panjangmu yang dikuncir satu.
"Hm? Kenapa tiba-tiba Abang nanya itu?"
"Jawab aja ...."
Lama kau terdiam. Oh, Wid ... jangan-jangan kau memang tak betah di rumah terus-terusan.
"Kadang-kadang Wid kangen, Bang," jawabmu pelan.
"Jadi, mau kerja lagi?"
"Mmm." Kau menggeleng. "Nggak ah, nanti yang beresin rumah siapa? Terus yang masakin makanan buat Abang siapa?"
"Kita pakai jasa ART kalo perlu," jawabku.
Lagi-lagi kepalamu bergerak horizontal. "Kalo masih memungkinkan, Wid
mau di rumah aja. Biar Wid puas meladeni keperluan Abang. Wid mau ...
Abang selalu makan hasil masakan dari tangan Wid sendiri, bukan
pembantu. Yaaah, walopun Wid nggak pinter masaknya ...."
Aku
tersenyum. Tabiatmu yang sulit diubah. Memilih mengerjakan segala
sesuatu sendiri bila masih dirasa sanggup. Kepuasan, itu yang kau cari.
Enam bulan jadi suamimu, bisa kurasakan kau begitu total mengurusku.
"Kenapa, Bang? Abang kesulitan uang? Ada masalah di tempat kerja?"
Satu hal lagi yang membuatku jatuh cinta. Kau sangat perasa, gampang tersentuh.
"Nggak ..., Abang cuma berpikir mungkin Wid bosen di rumah."
Kau melepaskan pelukan. Mendongak, menatapku. Senyummu terkembang.
"Wid menikmati semuanya. Detik-detik menanti kepulangan Abang .... Saat
Abang melahap masakan yang Wid hidangkan. Saat melihat Abang nyaman
karena rumah rapi. Rasanya ... lelah Wid lenyap begitu saja."
Kubalas tatapanmu penuh terima kasih. Terbersit sesal, kadang aku lupa
sekadar memberi pujian atas jerih payahmu. Malah seringnya merepotkan,
minta diambilkan ini itu. Manja.
"Makasih, ya." Kutelan kata
sayang dalam hati. Bahkan setelah menikah pun kau tak suka dipanggil
dengan sebutan-sebutan penuh cinta.
"Sama-sama, Abang."
Kita sama-sama tersenyum.
Lalu hidungmu bergerak-gerak lucu. Jeritan histerismu menghebohkan dapur.
"Ikannya hanguuus. Abang, siiih ...."
Tidak ada komentar:
Posting Komentar