Minggu, 23 November 2014

Bincang Dapur Kita

Minyak panas berdesing meriah saat seekor ikan lele tercelup. Cipratannya mengenai dinding, mengotori kompor, bahkan lantai dapur. Hmmm, dalam sekejap aromanya tercium, menggoda air liur untuk menetes.

"Udah laper banget ya, Bang? Maaf ya, Wid masaknya lama ...."

Aku tersenyum. Mencangkung di dekat bak cuci piring. Dari sini aku bisa memandangmu dengan leluasa.

Kau tahu? Ekspresi wajahmu saat memasak itu sungguh lucu. Lihat waktu kau takut-takut membalik ikan lele dalam penggorengan. Wajahmu mengernyit khawatir terkena semprotan minyak panas. Dan semakin menggemaskan saat kau mengaduh pelan karena cipratannya mengenai tangan.

"Maaf ya, Bang .... Sebentaaar lagi."

Senyumku semakin lebar. Sebutir keringat bersiap meluncur di keningmu. Sigap kuusap dengan punggung tangan. Kau tersipu.

"Abang jangan dekat-dekat, Wid bauuu ... belum mandiiii." Kau mengancamku dengan sendok. Tampak kau agak malu dan risih.

"Wangi kok, bau bawang!" godaku sambil tertawa.

Bibirmu mengerucut. Ah, Wid .... Meski belum setahun jadi suamimu, aku merasa sangat beruntung beristrikan kau.

Apa yang sudah kulakukan untukmu? Nafkah yang tak seberapa itu? Bahkan lelahku pun mungkin tak sebanding dengan letihmu.

Kadang aku merasa sangat egois mengurungmu di rumah dan terpaksa melakukan pekerjaan rumah tangga. Mandi keringat membersihkan rumah, juga bermain dengan kompor gas setiap hari.
Padahal sebelum bersamaku, kau wanita karier yang selalu tampil rapi dan wangi. Rutinitas rumahan itu ... barangkali jarang kau sentuh di masa gadismu dulu.

Tapi demi aku, kau tinggalkan dunia luar dan rela terpenjara dengan pekerjaan kasar yang tiada habisnya. Kurasakan kini tanganmu tak selembut dulu. Terkadang kutemukan plester luka membalut telunjuk.

Adakah aku sudah menyiksamu, Wid?

"Abang kenapa lihatin Wid begitu?" tanyamu heran. "Wid pasti keliatan jelek, ya?"

Ah, Wid ... kau cantik dalam kondisi apapun.

Aku menggeleng.

"Abang tunggu di depan ajaaa, grogi tauk diliatin terus. Ntar ikannya gosong, nih."

Kau mendorongku keluar dapur. Tapi kutahan. Sigap menangkap tubuh mungilmu dan menenggelamkannya dalam pelukanku.

"Wid mau kerja lagi kayak dulu?" Kucium rambut lurus panjangmu yang dikuncir satu.

"Hm? Kenapa tiba-tiba Abang nanya itu?"

"Jawab aja ...."

Lama kau terdiam. Oh, Wid ... jangan-jangan kau memang tak betah di rumah terus-terusan.

"Kadang-kadang Wid kangen, Bang," jawabmu pelan.

"Jadi, mau kerja lagi?"

"Mmm." Kau menggeleng. "Nggak ah, nanti yang beresin rumah siapa? Terus yang masakin makanan buat Abang siapa?"

"Kita pakai jasa ART kalo perlu," jawabku.

Lagi-lagi kepalamu bergerak horizontal. "Kalo masih memungkinkan, Wid mau di rumah aja. Biar Wid puas meladeni keperluan Abang. Wid mau ... Abang selalu makan hasil masakan dari tangan Wid sendiri, bukan pembantu. Yaaah, walopun Wid nggak pinter masaknya ...."

Aku tersenyum. Tabiatmu yang sulit diubah. Memilih mengerjakan segala sesuatu sendiri bila masih dirasa sanggup. Kepuasan, itu yang kau cari. Enam bulan jadi suamimu, bisa kurasakan kau begitu total mengurusku.

"Kenapa, Bang? Abang kesulitan uang? Ada masalah di tempat kerja?"

Satu hal lagi yang membuatku jatuh cinta. Kau sangat perasa, gampang tersentuh.

"Nggak ..., Abang cuma berpikir mungkin Wid bosen di rumah."

Kau melepaskan pelukan. Mendongak, menatapku. Senyummu terkembang.
 "Wid menikmati semuanya. Detik-detik menanti kepulangan Abang .... Saat Abang melahap masakan yang Wid hidangkan. Saat melihat Abang nyaman karena rumah rapi. Rasanya ... lelah Wid lenyap begitu saja."

Kubalas tatapanmu penuh terima kasih. Terbersit sesal, kadang aku lupa sekadar memberi pujian atas jerih payahmu. Malah seringnya merepotkan, minta diambilkan ini itu. Manja.

"Makasih, ya." Kutelan kata sayang dalam hati. Bahkan setelah menikah pun kau tak suka dipanggil dengan sebutan-sebutan penuh cinta.

"Sama-sama, Abang."

Kita sama-sama tersenyum.

Lalu hidungmu bergerak-gerak lucu. Jeritan histerismu menghebohkan dapur.
"Ikannya hanguuus. Abang, siiih ...."

Tidak ada komentar:

Posting Komentar