Minggu, 23 November 2014

My Pinky Notes

Juni 1998
“Pokoknya nanti kita nikah di hari yang sama, ya ....”

Angin dingin menjelang musim penghujan membawa lari suaramu. Aku tidak terlalu memperhatikan, lebih sibuk merapikan rambut sebahuku yang melayang-layang. Angin di atas atap rumahmu memang selalu kencang sore-sore begini. Hei, di rumahku juga!

“Mau kan, Dik?” tanyamu lagi menekan kepalaku dengan telapak tanganmu yang besar itu.

Hahahah, menikah? Pikiranmu selalu mengejutkan. Aku baru delapan tahun, setelah dikurangi lima dari umurmu. Jadi pengantin pura-pura sering kulakoni saat bermain dengan Barbie, tapi belum pernah terlintas tentang bagaimana aku akan menjalaninya dewasa nanti.

“Aku nggak mau nikah sama Abang, ah!” Bibirku menyonyo.

“Terserah ..., yang penting harinya sama!”

Aku tertawa. Membayangkan tamu yang kebingungan karena mendapat dua undangan serempak. Apalagi rumah kita bersebelahan!

“Janji, ya?” Kamu mengacungkan kelingking.

“Pinky swear!” teriakku pada angin.

Februari 2002
Aku mematut diri di cermin. Dari kemarin kamu cerewet sekali. Meneleponku berkali-kali, bahkan berteriak dari balkon rumahmu jangan melupakan pertemuan kita nanti malam.

“Abang heboh banget, aku nggak mungkin lupa. Setiap hari kita juga naik ke atap bersama,” kataku menyumpal mulutmu dengan tisu. Ketika itu kamu menahanku di gerbang sekolah, tak peduli jam digital di tanganmu ber-bip keras tanda pukul tujuh tepat.

“Ini istimewa, Dik! Ingat, pakai baju pink, ya?”

Aku urung lari melewati gerbang. Euh, what?

“Abang kan, tahu aku nggak suka warna itu!” Aku memberengut. Sejak seragamku berganti putih biru, warna yang banyak digandrungi cewek itu kuhapus dari warna favorit. Menurutku pink hanya cocok buat anak-anak dan cewek ... centil!

“Harus!”

Seperti biasa, kamulah bosnya. Aku mengalah.

Dan inilah aku sekarang. Setelah pusing berkeliling mall mencari pakaian pink, akhirnya aku membayar sebuah kaos lengan panjang gombrang dengan print-an love putih kecil-kecil di seluruh permukaannya. Itu satu-satunya pilihan yang tidak terlalu perempuan. Aku tak kan pernah memakai dress cantik meski kamu paksa. Lagi pula kita akan naik ke atap!

“Nih.”

Kamu mengangsurkan kotak pink mini. Tampak manis dengan pita yang juga pink di tutupnya. Bibirku mengembangkan senyum, setelah tertawa puas menunjuk-nunjuk dirimu yang kubilang aneh dalam balutan kaos hitam dipadu kemeja merah muda sebagai luaran. Ah, sesungguhnya kamu terlihat keren dengan gulungan lengannya sampai batas siku.

“Disket?” Agak terheran-heran dengan isi kotakmu. “Buat apa?”

“Di dalamnya ada foto-foto kita sejak kecil sampai sekarang. Juga ada lagu-lagu yang sering kita nyanyikan berdua,” jelasmu. “Kalau misalnya ada yang terbaru, kamu tambahi sendiri, ya, space kosongnya masih banyak, kok.”

Entah kenapa aku merinding. Menimang-nimang benda persegi itu. Tak menyangka kamu akan sedetail ini menyimpan memori yang pasti akan kurindukan dewasa kelak.

Aih, Abang ..., how sweet!

Kurangkul lenganmu yang semakin kekar. “Aku cuma bawa ini,” kataku agak tidak enak.

“Oh, ini lebih istimewa dari apapun!” Dan kamu melahap puding pelangi kesukaanmu itu penuh penghayatan.

Malam ini, dalam terpaan angin musim panas atap rumahku, di bawah langit 14 Februari yang sayangnya mendung, sebuah bintang berkerlip di sampingku. Kamu.

September 2002
“Adik! Halooo. Hey!” Tanganmu berkibar-kibar di depan wajahku.

“Kenapa? Ada apa? Kamu sakit?” tanyamu khawatir. “Nggak usah sekolah kalau sakit.”

Kamu mematikan motor, turun kemudian meraba keningku lembut. “Nggak panas, kok. Kamu kenapa sih, Dik?”

Aku menatapmu kosong. Meremas erat tali ransel di bahu. Pagi ini aku terbangun dengan perasaan melayang. Aku bermimpi tentangmu. Tak mungkin kuceritakan karena pasti kamu akan tertawa mengejek.

Selama ini kamu selalu ada di sampingku, tidak pernah ada orang lain yang menyelonong masuk dalam lingkaran kita. Mimpiku semalam sungguh membuatku khawatir. Kamu sedang tertawa lepas dengan gadis lain dan abai dengan keberadaanku. Anehnya, sakit di hatiku terasa nyata hingga terbangun.

Abang, itu nggak akan terjadi, kan?

“I’m OK. Ayo, berangkat!” jawabku berusaha ceria.

Kamu tersenyum dan mengacak rambutku. Kamu tahu Bang, itu salah satu kebiasaanmu yang paling kusuka.

Oktober 2003
Aku melempar ponsel ke sudut kasur. Sebal!

Kubuka jendela kamar. Melompat ke balkon dan mengecek kamarmu. Lampu neon besarnya masih menyala pertanda kamu masih terjaga. Sepi. Kutebak kamu sedang belajar. Ini semester terakhirmu di SMA dan sebentar lagi ujian kelulusan.

Huh, bahkan kamu tidak membujukku sama sekali. Aku kan, sedang marah!

Siang tadi, menjelang bel pulang sekolah berdering, kamu mengirim pesan tak bisa menjemput untuk pulang bersama seperti biasa. Kamu bilang mau belajar kelompok. Tidak mengapa, aku juga sudah rindu berdesak-desakkan di bus.

Di dalam bus yang panas, aku berpikir untuk membuat puding pelangi spesial untukmu. Barangkali otakmu yang nyaris berasap itu bisa adem dengan puding buatanku. Hitung-hitung kejutan. Aku tersenyum-senyum sendirian.

Tapi, aku justru kaget duluan melihatmu membonceng seorang gadis saat bus yang kutumpangi dan motormu sama-sama tertahan oleh traffic light. Oh, kebetulan yang menyakitkan. Rencana membuat puding kejutan langsung kubatalkan. Aku marah!

Dan rasanya semakin menjengkelkan karena kamu tidak datang menemuiku sampai malam ini.

Desember 2003
Hujan deras di luar sana membekukan bumi yang sudah berbulan-bulan dicurahi air. Bau rumput basah menyerang sampai ke kamarku.

“Adiiik!”

Aku terduduk dari posisi berbaring. Sejak kemarahanku waktu itu, kita seperti dijaraki kebekuan. Tak ada lagi pertemuan rutin di atas atap. Aku juga sengaja berangkat sekolah lebih pagi agar tak perlu tergoda melihat jok belakang motormu.

Rasanya kamu begitu jauh. Bodohnya aku mati-matian menahan rindu tapi gengsi menegurmu lebih dulu. Ternyata kamu benar, aku seperti anak-anak. Tahukah, Bang? Aku sedih sekali saat kamu berhenti merayuku agar berbaikan. Ada yang hilang seiring langkah balik kananmu dan bergerak membelakangiku.

“Adiiik!”

Hei, kamu di balkon kamarku rupanya. Malu-malu karena masih merasa bersalah, aku melompat keluar jendela.

“Ayo, ke atap!” ajakmu ceria seperti tak pernah terjadi apa-apa.

Aku menunjuk hujan dan menggeleng. Kamu tersenyum. Tiba-tiba tanganku sudah ditarik dan dipaksa memanjat tangga tali yang menjulur di dinding menuju atap.

“Huaaah!” teriakku berusaha menutupi kepala dengan melebarkan jari. Ribuan jarum air menusuk tubuhku setelah berhasil naik.

“Ke sini!”

Lagi-lagi tanganku ditarik. Dan kita sudah berputar di tengah hujan Desember. Kaos dan celana olah ragaku basah. Kamu juga tidak peduli kemejamu sudah lekat menempeli badan. Kita tertawa-tawa. Matamu mengerling seolah berkata :”Seru, kan?”.

Malamnya kita bicara. Aku di balkon kamarku, kamu di balkon kamarmu.

“Dik, kenapa Adik nggak mau menikah sama Abang?” tanyamu.

Diam-diam aku tersipu. Tapi kusembunyikan lewat seruan dengan mimik lucu,”Pokoknya nggak mau!”

“Yaaah, padahal Abang maunya nikah sama Adik, lho. Patah hati, deh,” katamu dengan lagak merana.

Aku mencibir. Aih, Bang .... Hubungan kita ini kadang membingungkan. Teman-temanku kerap bertanya kamu itu siapaku. Aku tak punya pilihan lain selain menjawab : “Tetangga!”. Tapi, mungkin kamu bisa paham tingkahku yang kadang tak suka melihatmu akrab dengan gadis selain aku.

Kita bercerita layaknya teman yang lama tak bersua sepanjang malam. Hingga akhirnya mengalah oleh teriakan ibuku dan ibumu yang menyuruh istirahat.

“Masuk gih!” Kamu melotot.

“Abang duluan!” Aku berkeras. Aku hanya ingin melihatmu lebih lama. Mungkin bisa dijadikan latihan kecil saat esok kamu benar-benar memunggungiku dan membaca kata-kata perpisahan di setiap jejak langkah kakimu yang menjauh.

Oktober 2056
Abang, malam di atap kita masih sama indahnya. Anginnya tetap kencang dengan tudung langit yang menawan. Ah, pasti begitu, kan? Sudah lama aku tidak memanjat tangga tali menuju ke sana. Berjalan saja aku sudah kehabisan napas.

Abang, Tuhan tahu aku berbohong saat kukatakan tidak mau menikah denganmu. Lihat, Dia menghukumku. Tapi aku bahagia. Hukuman apalagi yang lebih menyenangkan selain memandangi langit bersamamu di atap kita sampai batas usia menyapa.

Abang, langit bulan Oktober gelap malam ini. Namun, satu bintang tersenyum di atas sana, berkedip genit mengucapkan selamat malam. Bersamaan dengan layar PC-ku yang sedang menampilkan rekaman gambar abadi kita yang sudah kusalin dari disket hadiahmu dulu. Part terakhir Miss You dari Westlife, lagu favorit kita, meyakinkan bahwa kamu adalah hal terbaik yang pernah hadir dalam hidupku.

Abang ...
I just wanna say it straight from my heart : Oh, baby i miss you, I do ....

-----
*Sambil dengerin I Remember dan The Best Thing-nya Mocca

Tidak ada komentar:

Posting Komentar