Juni 1998
“Pokoknya nanti kita nikah di hari yang sama, ya ....”
Angin dingin menjelang musim penghujan membawa lari suaramu. Aku tidak
terlalu memperhatikan, lebih sibuk merapikan rambut sebahuku yang
melayang-layang. Angin di atas atap rumahmu memang selalu kencang
sore-sore begini. Hei, di rumahku juga!
“Mau kan, Dik?” tanyamu lagi menekan kepalaku dengan telapak tanganmu yang besar itu.
Hahahah, menikah? Pikiranmu selalu mengejutkan. Aku baru delapan tahun,
setelah dikurangi lima dari umurmu. Jadi pengantin pura-pura sering
kulakoni saat bermain dengan Barbie, tapi belum pernah terlintas tentang
bagaimana aku akan menjalaninya dewasa nanti.
“Aku nggak mau nikah sama Abang, ah!” Bibirku menyonyo.
“Terserah ..., yang penting harinya sama!”
Aku tertawa. Membayangkan tamu yang kebingungan karena mendapat dua undangan serempak. Apalagi rumah kita bersebelahan!
“Janji, ya?” Kamu mengacungkan kelingking.
“Pinky swear!” teriakku pada angin.
Februari 2002
Aku mematut diri di cermin. Dari kemarin kamu cerewet sekali.
Meneleponku berkali-kali, bahkan berteriak dari balkon rumahmu jangan
melupakan pertemuan kita nanti malam.
“Abang heboh banget, aku
nggak mungkin lupa. Setiap hari kita juga naik ke atap bersama,” kataku
menyumpal mulutmu dengan tisu. Ketika itu kamu menahanku di gerbang
sekolah, tak peduli jam digital di tanganmu ber-bip keras tanda pukul
tujuh tepat.
“Ini istimewa, Dik! Ingat, pakai baju pink, ya?”
Aku urung lari melewati gerbang. Euh, what?
“Abang kan, tahu aku nggak suka warna itu!” Aku memberengut. Sejak
seragamku berganti putih biru, warna yang banyak digandrungi cewek itu
kuhapus dari warna favorit. Menurutku pink hanya cocok buat anak-anak
dan cewek ... centil!
“Harus!”
Seperti biasa, kamulah bosnya. Aku mengalah.
Dan inilah aku sekarang. Setelah pusing berkeliling mall mencari
pakaian pink, akhirnya aku membayar sebuah kaos lengan panjang gombrang
dengan print-an love putih kecil-kecil di seluruh permukaannya. Itu
satu-satunya pilihan yang tidak terlalu perempuan. Aku tak kan pernah
memakai dress cantik meski kamu paksa. Lagi pula kita akan naik ke atap!
“Nih.”
Kamu mengangsurkan kotak pink mini. Tampak manis dengan pita yang juga
pink di tutupnya. Bibirku mengembangkan senyum, setelah tertawa puas
menunjuk-nunjuk dirimu yang kubilang aneh dalam balutan kaos hitam
dipadu kemeja merah muda sebagai luaran. Ah, sesungguhnya kamu terlihat
keren dengan gulungan lengannya sampai batas siku.
“Disket?” Agak terheran-heran dengan isi kotakmu. “Buat apa?”
“Di dalamnya ada foto-foto kita sejak kecil sampai sekarang. Juga ada
lagu-lagu yang sering kita nyanyikan berdua,” jelasmu. “Kalau misalnya
ada yang terbaru, kamu tambahi sendiri, ya, space kosongnya masih
banyak, kok.”
Entah kenapa aku merinding. Menimang-nimang benda persegi itu. Tak menyangka kamu akan sedetail ini
menyimpan memori yang pasti akan kurindukan dewasa kelak.
Aih, Abang ..., how sweet!
Kurangkul lenganmu yang semakin kekar. “Aku cuma bawa ini,” kataku agak tidak enak.
“Oh, ini lebih istimewa dari apapun!” Dan kamu melahap puding pelangi kesukaanmu itu penuh penghayatan.
Malam ini, dalam terpaan angin musim panas atap rumahku, di bawah
langit 14 Februari yang sayangnya mendung, sebuah bintang berkerlip di
sampingku. Kamu.
September 2002
“Adik! Halooo. Hey!” Tanganmu berkibar-kibar di depan wajahku.
“Kenapa? Ada apa? Kamu sakit?” tanyamu khawatir. “Nggak usah sekolah kalau sakit.”
Kamu mematikan motor, turun kemudian meraba keningku lembut. “Nggak panas, kok. Kamu kenapa sih, Dik?”
Aku menatapmu kosong. Meremas erat tali ransel di bahu. Pagi ini aku
terbangun dengan perasaan melayang. Aku bermimpi tentangmu. Tak mungkin
kuceritakan karena pasti kamu akan tertawa mengejek.
Selama ini
kamu selalu ada di sampingku, tidak pernah ada orang lain yang
menyelonong masuk dalam lingkaran kita. Mimpiku semalam sungguh
membuatku khawatir. Kamu sedang tertawa lepas dengan gadis lain dan abai
dengan keberadaanku. Anehnya, sakit di hatiku terasa nyata hingga
terbangun.
Abang, itu nggak akan terjadi, kan?
“I’m OK. Ayo, berangkat!” jawabku berusaha ceria.
Kamu tersenyum dan mengacak rambutku. Kamu tahu Bang, itu salah satu kebiasaanmu yang paling kusuka.
Oktober 2003
Aku melempar ponsel ke sudut kasur. Sebal!
Kubuka jendela kamar. Melompat ke balkon dan mengecek kamarmu. Lampu
neon besarnya masih menyala pertanda kamu masih terjaga. Sepi. Kutebak
kamu sedang belajar. Ini semester terakhirmu di SMA dan sebentar lagi
ujian kelulusan.
Huh, bahkan kamu tidak membujukku sama sekali. Aku kan, sedang marah!
Siang tadi, menjelang bel pulang sekolah berdering, kamu mengirim
pesan tak bisa menjemput untuk pulang bersama seperti biasa. Kamu bilang
mau belajar kelompok. Tidak mengapa, aku juga sudah rindu
berdesak-desakkan di bus.
Di dalam bus yang panas, aku berpikir
untuk membuat puding pelangi spesial untukmu. Barangkali otakmu yang
nyaris berasap itu bisa adem dengan puding buatanku. Hitung-hitung
kejutan. Aku tersenyum-senyum sendirian.
Tapi, aku justru kaget
duluan melihatmu membonceng seorang gadis saat bus yang kutumpangi dan
motormu sama-sama tertahan oleh traffic light. Oh, kebetulan yang
menyakitkan. Rencana membuat puding kejutan langsung kubatalkan. Aku
marah!
Dan rasanya semakin menjengkelkan karena kamu tidak datang menemuiku sampai malam ini.
Desember 2003
Hujan deras di luar sana membekukan bumi yang sudah berbulan-bulan dicurahi air. Bau rumput basah menyerang sampai ke kamarku.
“Adiiik!”
Aku terduduk dari posisi berbaring. Sejak kemarahanku waktu itu, kita
seperti dijaraki kebekuan. Tak ada lagi pertemuan rutin di atas atap.
Aku juga sengaja berangkat sekolah lebih pagi agar tak perlu tergoda
melihat jok belakang motormu.
Rasanya kamu begitu jauh. Bodohnya
aku mati-matian menahan rindu tapi gengsi menegurmu lebih dulu.
Ternyata kamu benar, aku seperti anak-anak. Tahukah, Bang? Aku sedih
sekali saat kamu berhenti merayuku agar berbaikan. Ada yang hilang
seiring langkah balik kananmu dan bergerak membelakangiku.
“Adiiik!”
Hei, kamu di balkon kamarku rupanya. Malu-malu karena masih merasa bersalah, aku melompat keluar jendela.
“Ayo, ke atap!” ajakmu ceria seperti tak pernah terjadi apa-apa.
Aku menunjuk hujan dan menggeleng. Kamu tersenyum. Tiba-tiba tanganku
sudah ditarik dan dipaksa memanjat tangga tali yang menjulur di dinding
menuju atap.
“Huaaah!” teriakku berusaha menutupi kepala dengan melebarkan jari. Ribuan jarum air menusuk tubuhku setelah berhasil naik.
“Ke sini!”
Lagi-lagi tanganku ditarik. Dan kita sudah berputar di tengah hujan
Desember. Kaos dan celana olah ragaku basah. Kamu juga tidak peduli
kemejamu sudah lekat menempeli badan. Kita tertawa-tawa. Matamu
mengerling seolah berkata :”Seru, kan?”.
Malamnya kita bicara. Aku di balkon kamarku, kamu di balkon kamarmu.
“Dik, kenapa Adik nggak mau menikah sama Abang?” tanyamu.
Diam-diam aku tersipu. Tapi kusembunyikan lewat seruan dengan mimik lucu,”Pokoknya nggak mau!”
“Yaaah, padahal Abang maunya nikah sama Adik, lho. Patah hati, deh,” katamu dengan lagak merana.
Aku mencibir. Aih, Bang .... Hubungan kita ini kadang membingungkan.
Teman-temanku kerap bertanya kamu itu siapaku. Aku tak punya pilihan
lain selain menjawab : “Tetangga!”. Tapi, mungkin kamu bisa paham
tingkahku yang kadang tak suka melihatmu akrab dengan gadis selain aku.
Kita bercerita layaknya teman yang lama tak bersua sepanjang malam.
Hingga akhirnya mengalah oleh teriakan ibuku dan ibumu yang menyuruh
istirahat.
“Masuk gih!” Kamu melotot.
“Abang duluan!”
Aku berkeras. Aku hanya ingin melihatmu lebih lama. Mungkin bisa
dijadikan latihan kecil saat esok kamu benar-benar memunggungiku dan
membaca kata-kata perpisahan di setiap jejak langkah kakimu yang
menjauh.
Oktober 2056
Abang, malam di atap kita masih sama
indahnya. Anginnya tetap kencang dengan tudung langit yang menawan. Ah,
pasti begitu, kan? Sudah lama aku tidak memanjat tangga tali menuju ke
sana. Berjalan saja aku sudah kehabisan napas.
Abang, Tuhan tahu
aku berbohong saat kukatakan tidak mau menikah denganmu. Lihat, Dia
menghukumku. Tapi aku bahagia. Hukuman apalagi yang lebih menyenangkan
selain memandangi langit bersamamu di atap kita sampai batas usia
menyapa.
Abang, langit bulan Oktober gelap malam ini. Namun,
satu bintang tersenyum di atas sana, berkedip genit mengucapkan selamat
malam. Bersamaan dengan layar PC-ku yang sedang menampilkan rekaman
gambar abadi kita yang sudah kusalin dari disket hadiahmu dulu. Part terakhir Miss You
dari Westlife, lagu favorit kita, meyakinkan bahwa kamu adalah hal
terbaik yang pernah hadir dalam hidupku.
Abang ...
I just wanna say it straight from my heart : Oh, baby i miss you, I do ....
-----
*Sambil dengerin I Remember dan The Best Thing-nya Mocca
Tidak ada komentar:
Posting Komentar